
Meski situasi mulai berpihak padaku. Setiap pagi aku mulai gundah penuh kekhawatiran.
Maria sudah mendapatkan semua yang dia mau, tidak ada alasan untuknya untuk mmempertahankanku sebagai suami.
Dulu kami Bisa Saling membantu untuk tetap bersama. Tapi sekarang, aku hawatir hanya aku yang akan berusaha sendirian.
Konflik Bisnis mungkin mereda. Tapi bisik - bisik Di lingkungan sosial tentu tidak. Semua kami abaikan karena terlalu banyak hal yang harus kaminptioritaskan saat itu. Tapi bisik an itu makin terdengar jelas seiring langit yang mulai cerah.
Aku mulai seperti Maria yang seperti buku terbuka. Keluargaku, kekayaanku Dan banyak dari hal lain dariku yang sudah menjadi kosumsi gossip Di kantor.
Pemisahan kantor ku dan Maria, aku sudah tidak setuju dari awal. Kenapa?
Uhf.... Aku tidak selamanya menutup mata dari para karyawati yang selalu menunggu Di lobby meski mereka telah datang lebih pagi.
Riuh kasak kusuk Dan cekikikan sering menganggu ruang dengarku Dan konsentrasiku.
Apakah aku harus mempekerjakan staff untuk menghardik mereka.
"Jangan!!" Dion mencegahku. "Bukankah itu bagus karena mereka lebih rajin masuk kantor"
Cih... Dion yang sedang process jomblo tentu menikmati hal seperti ini, tapi aku tidak berencana jomblo dalam waktu dekat atau lama.
Bu Lia dari kantor hrd beberapa kali menelpon menawarkan sosok sekertaris untukku yang selalu pasti aku tolak.
Sedikit penyesalan memindahkan Dion ke Bio chemical, karena dulu dia yang selalu menangani telpon dari bu lia.
Aku mematung sendiri Di dalam ruanganku mencuri dengar samar - samar para staff yang begunjing Di sekitar ruangan.
"Aku pikir dulu dia nikah sama Bu Maria karena bu Maria itu kaya, tapi ternyata dia lebih kaya" seorang staff perempuan tak ragu mengantakan itu Pada staff yang lainnya.
"Beritanya dia juga akan mendapatkan jabatan tinggi Di Tower High" timpal staff yang lain.
"Kira - kira bu Maria itu dukunnya Di mana ya... Tqngkapannnya bukan ikan kakap lagi. Tapi paus"
Kenapa kalau kita tidak serasi Di mata Sosial. Mereka selalu menautkannya dengan Black magic. Sepertinya kita tidak punya hak untuk memilih pasangan sesuai Keinginan kita. Katanya udah merdeka. Keadilan bagi seluruh lqpisan masyarakat? Cih... Cuma gara - gara perbedaan sedikit mereka menghukum kita dengan gossip negative bertubi - tubi.
*******
"Mar... Bisakah kita menyatakan kantor kita? Beda lantai tidak masalah"
" Dua kantor Di lokasi berbeda itu sangat efisien untuk mobilitas kita" Maria selalu lebih mementingkan Bisnis tanpa membuka Telinganya akan kesehatan mental suaminya Di lingkungan kerja.
"Aku lelah mendengar gossip atau hal yang negative"
Maria tak menghiraukanku malah memberiku tentang pembagian saham untuk Ryusu Homeware, perusahaan yang sudah dalam process release.
"Aku berencana menukar sepertiganya dengan saham Tower High? Dan sisanya aku akan menawarkan perkebunan vanilla yang sedang dalam tahap ahir pengerjaan. Apakah kamu kira Mas Willy akan setuju?"
Aku menelan keluhanku lagi dengan dongkol.
Maria menangkap ke tidak puasanku akan reaksinya.
" Pindahkan ruanganmu Di lantai dasar, lebih sedikit staff Bisa berkerumun Di sana. Dan kamu tidak perlu melewati para staff ketika datang atau pergi "
" Apakah ini solusi permanent?"
"di coba dulu.. Mari kita lihat Perkembangannya"
******
Saran Maria tidak terlalu buruk untuk di coba. Tapi tetap tidak memuaskanku seratus persen.
"Bagaimana kalau kamu berubah jadi sedikit antagonist?" Saran Dion juga mnodai image ku yang ramah dan menyenangkan.
******
"Ah... Mungkin dia mmenikahi bu Maria itu cuma kedok saja buat menutupi hubungannya dengan Pak Dion. Nggak percaya aku klo mereka cuma Cs an doang" Gossip lain bergulung ke arah lebih liar.
"Iya... Katanya sebelum dia mmenikahi bu Maria ada mergokin pak Dion memeluk pak Harry Di toilet"
***'
Damn!!!! Apakah mereka tidak punya tetangga yang bisa di gossipkan. Sehingga topiknya tidak selalu membahas ku?
****
"Kalau nanti banyak yang mogok kerja gara - gara aku galak?" aku coba mempertimbangkan saran Dion.
"Paling nggak mereka tidak akan berani lagi begunjing Di sekitarmu. Bisa jadi pindah Di luar kantor, tidak masalah kan?"
Aku merenung Sejenak "Itu tidak masalah"
Tapi aku tidak panda berakting. Atau aku mengancam mereka seperti yang di lakukan Maria dulu?
Tapi sekali lagi, aku menyukai kinerja staff yang ada sekarang. Masing - masing sudah terlatih dengan baik Dan cekatan. Aku tak sepandai Maria yang bisa menangani pekerjaan dari urusan remeh sampai urusan tingkat Dewa.
Aaah.... Menjadi tampan Dan kaya tidak seindah cerita. Ini lebih sulit dari perkiraanku.
****
"Berhentilah mendengar hal yang tak perlu, menjadi atasan itu pasti tidak akan memuaskan setiap orang. Kita bukan badut" Maria terdengar selalu benar Dan membuat aku merasa konyol sendiri.
"Tapi kamu Sebenarnya melewatkan sumber dari gossip ini kan?"
"Aku tidak pernah mendengarkannya apalagi menganalisa"
"dengar Mar? Kikislah sedikit keegoisanmu itu."Aku punya hak untuk bersuara yang harus aku gunakan" Ketampananku tidak bisa aku ubah. Ini takdir. Tapi penampilanmu yang ketuaan itu harus berubah "
" Kenapa harus aku? "
" Selama ini cuma aku yang bisa melihat bahwa kamu tidak semenyeramkan Di kantor. Aura kamu yang angker itu harus perlahan Di musanahkan "
" Kamu yang bermasalah, Kenapa aku yang harus menanggung solusi ya"
"Karena kita suami istri Dan akan selalu begitu" jawabku tanpa ragu.
Menjadi muda Dan lebih superior dari Maria selalu bukan hal mudah.
" Aku tahu... Semua orang tahu. Kamu hanya ingin Di hormati oleh rekan atau lawan Bisnismu dengan semua image yang kamu bangun. Tapi kamu sekarang adalah istriku, Dan aku sudah kembali menjadi pilihan satu - satunya untuk mewarisi Tower High. Semua orang pasti menghormatimu " Aku mengomel panjang lebar.
" Kita tukar saja, aku akan berubah sedikit angker mungkin juga kasar. Agar kita seimbang "Aku masih tidak puas dengan reaksi Maria yang tidak berkutik dari mimik wajahnya" Bukankah sudah waktunya kamu menyenangkanku secara lebih? "
Maria hanya mendengus Dan berpaling. Tapi otakku menjadi berfikir dengan kemungkinan yang lain.
" Tunggu.... Kalau kamu banyak yang naksir bagaimana? "aku mulai bermonolog
" ck... Common Har.. Usiaku tidak lagi punya cukup waktu untuk hal aneh seperti itu "
Itu menurut Maria, bukan menurutku yang merupakan keponakan dari Elena.
"Hmmm... Targetmu masih satu anak lagi kan?" Tanyaku yang mulai meraih jemarinya " ijin kan aku jadi ayahnya.... Please"