Sugar Mamy

Sugar Mamy
Solusi


Aku beri waktu dua Minggu pi... " Aku masih melanjutkan ucapanku.


Mami hanya bengong menatap kami berdua secara bergantian.


" Papi tahu kan? Ini bukan pilihan! " Aku menegaskan lagi keadaan yang terjadi.


Aku segera berdiri Dan berpamitan dengan cepat setelah meneguk air putih Di Tanganku.


"makanannya pasti enak mi, tapi sayangnya aku belum Bisa menikmatinya" Aku terpaksa mengahiri perpisahan dengan orang tuaku saat ini. Meski Sebenarnya aku juga memendam kerinduan. Terkadang cinta Di antara keluarga juga bertepuk sebelah Tangan.


Maaf aku harus melakukan ini Pada kalian, bukankah kalian yang mulai?.


Sepanjang perjalanan pulang aku juga penasaran dengan apa isi amplop yang aku terima dari mas. Aryo tentang Papi. Tapi mas Aryo sudah bilang itu bukan kabar bahagia buat Papi, jadi aku harap akan berfungsi dengan baik. Tapi... Aku jadi merasa seperti penghianat negara kalau begini.


*****


"Mar...?" Aku segera mencari istri ku ketika sampai di rumah.


"Kalau anak kita lahir dengan aib bagaimana?" tanyaku yang segera mengambil duduk Di kursi dapur.


Maria yang sedang sibuk memotong broccoli segera mendongak heran. Sepasang maniknya menatapku penuh selidik.


" Apa yang sudah kamu lakukan?" nada suara Maria penuh khawatir.


" Di rumah ada siapa aja?" Akupun jadi mulai berbisik.


"Hanya kita..."


"Yulia?" Yulia adalah perawat yang kami pekerjakan untuk melayani Maria Di rumah selama hamil Dan rencananya hingga anak kami berusia 1 tahun.


"Sudah jam delapan malam..."


"Ah.. Sudah pulang ya?"


"jawab pertanyaanku" Maria menegaskan sekali lagi apa yang dia mau.


" Sebentar.." aku menarik nafas dalam - Dalam Dan menghembuskannya perlahan "Ini.." Aku mengeluarkan Sebuah amplop yang serupa dengan yang aku berikan ke Papi. Aku sengaja meminta copy dari mas. Aryo beejaga - jaga akan Sebuah kemungkinan.


Maria mencuci tangannya Dan mulai mengeringkannya. Jemarinya yang sudah mulai tidak ramping lagi mulai meraih amplop Di Tanganku Dan membukanya. Satu - per satu Maria membaca lembar demi lembar dengan teliti.


"Ayahmu terlibat korupsi" gumamnya "secara tidak langsung, tapi beliau tidak melapor malah terus menggunakan dana tersebut, meski..."


"Kasus itu sudah terbuka Di media Dan jelas..." aku menggantung ucapanku.


" Papimu terancam Di penjara" Maria memasukkan kembali dokuman itu ke dalam amplopnya Dan mengembalikan padaku "Dan kamu khawatir soal itu...??"


"Bukan..." Aku menggeleng Dan mulai mengatupkan kedua bibirku "Aku..."


Kali ini Maria mulai melupakan kedua tangannya Dan menatapku tanpa berkedip.


"Aku..... Menggunakannya untuk mengancam Papi agar melepaskan kita" uhf...


Maria membelalakan maniknya, "Seriously..???" suara Maria mulai meninggi.


Aku hanya mampu membeku Dan menganggap bahwa aku salah. Tapi, aku melakukannya untuk kebaikan kami.


" Kamu tahu? Aku tidak pernah dekat dengan urusan yang melanggar hukum"


"Bagaimana soal kasus Melissa? Bukankah kamu juga mengancam?"


"Tapi hanya merugikan keluarga Melissa bukan negara" sanggah Maria yang semakin membuatku merasa bersalah. "Kamu mulai pandai, tapi kamu belum jeli melihat benar Dan salah"


"Kita process dokumen ini besok" Maria mengambil kembali amplop itu Dan segera meninggalkanku sendiri.


"Mar...?" Aku mencoba sedikit membela langkahku yang ada benarnya meski sedikit "Bisakah kita sedikit bersabar hingga Papi melepaskan kita"


"Kamu pikir rekan yang lainnya akan melepaskan kita?" Maria menjawab tanpa menoleh padaku "Dia tidak mungkin sendirian?" lanjut Maria tegas. "Aku tidak mau berlumur Lumpur menjijikkan itu.." kali ini dia membalikkan tubuhnya Dan mengacungkan jemari telunjuknya padaku. "Bisnisku bersih, dan selamanya akan begitu"


" Meski dengan semua masalah yang ada?"


"Itu.. Namanya Bisnis selalu beresiko Dan kebersihan dalam melakukannya adalah investasi utama" Maria menggelengkan kepalanya sekali lagi"Kamu harus lebih belajar lagi .


"Jadi..." Aku masih mengikuti Maria yang saat ini sedang menuju kamar Dan meraih benda pipih canggihnya Di nakas.


"Hallo... Aryo. Aku ada dokumen untuk di process besok pagi sekali, tolong ambil sekarang Di rumahku" ucap Maria Pada Mas. Aryo yang menjadi lawan bicaranya.


"OK... Rolland lagi ketemu client Di area kamu, lima belas menit lagi dia ambil dokumennya"


"OK..!" Maria menyahut cepat dan segera menutup telphone. "Assistant Aryo akan segera tiba, Sebaiknya kamu mandi dulu agar pikiranmu jadi lebih jernih"


"A...." aku ingin sedikit mengutarakan keadaan ku yang sedang...


"Lapar Bisa di tunda Har... Tapi tidak dengan kubangan masalah Di amplop ini" potong Maria tanpa Bisa aku bantah.


Aku hanya Bisa menunduk lesu Dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa ada satu katapun yang terucap lagi.


Maria memang benar, tapi aku juga tidak sepenuhnya salah. Aku masih berfikir untuk melaporkannya, tapi usai Papi melepaskan semua masalah kami. Namun, Maria juga tidak salah bahwa pasti banyak sosok lain selain Papi Di dalam masalah ini yang mungkin tidak akan melepaskan kami.


*****


Sup hangat? Dengan broccoli Dan daging sapi serta mushrooms. "Nggak pakai nasi?" tanyaku ketika Maria Membawakan makan malam ke kamar.


"Makan pakai mashed potato" jawab Maria dengan suara yang lebih lembut dari yang tadi. "Aku lupa mencet tombol rice cooker gara - gara kamu bawa kabar aneh tadi"


"Yah... Sorry.. Maksudku baik kan?"


"Hmm..." Maria mulai merebahkan tubuhnya yang mungkin lelah.


"Kamu nggak makan?"


"Sudah... Waktu kamu Di kamar mandi" jawabnya dengan suara rendah "Kamu mandinya kelamaan" suara Maria nyaris berbisik.


Aku hanya mengangguk Dan mulai melahap makananku tanpa protes lagi.


**'***


"Mar... Sudah tanggal 18 nih!" bisikku Di Telinga Maria yang sudah menutup matanya beberapa menit lalu.


"hmmmm..." sahutnya meski masih terlelap.


"Sudah boleh dong?" aku mencoba mengingatkan akan batas ahir kami.


"Hmmmm..." jawab Maria masih dengan mata yang tertutup. "Aah...!" Maria memekik ketika aku mulai menekan bagian Dadanya.


"Eh.... Sakit?"


Kedua manik Maria membuka perlahan "Aku hamil Har.. Pelan - pelan"


"Oh...." aku membulatkan bibirku yang kemudian mendarat di tempat tanganku tadi berada.


Meski usai bersitegang pada ahirnya kami selalu memiliki tujuan yang sama, terutama sebagai pasangan.