
"Hi Baby... Its kind of surprise?"
Tapi tentu tidak dengan Maria yang rupanya sudah menduga rencanaku. Helaan nafas panjang dan senyum lega sekejap aku tangkap darinya, ketika manik kami bertemu.
Dugaanku pertengkaran yang tidak ada ujungnya adalah alasan utama mereka bercerai. Meski samar - samar aku menduga Anthony memiliki benih cinta untuk Maria. Namun, melihat karakter Maria sejauh ini dia tipe yang tidak pernah menoleh ke belakang. Sekali masa lalu tidak akan pernah menjadi masa depan.
Pelukan dan ciuman hangat antara Anthony Dan Renata terpajang manis Di depan kami. Aku segera menyodorkan sebotol wine Dan box keju yang sengaja aku beli sebagai ucapan selamat.
"Congratulations!!!" Seberkas senyum aku lekukkan dengan sempurna. "Aku bahagia ahirnya kita semua jadi satu keluarga, terutama Renata lekeluargaan kami jadi lebih erat"
"Tapi itu tidak akan membuatku membelamu Di depan ayahmu... Aku tidak ada urusan"
Meski Renata tidak jahat, tapi dia memang orang yang tak pernah Bisa di harapkan me megang bendera pihak manapun, lagaknya selalu sya seperti panitia konferensi jenewa. Huh...
"Terimakasih atas tawaran ya, tapi seperti yang kamu lihat" Aku berdehem Sejenak "Aku sudah memiliki Maria, dan itu sudah lebih dari cukup"
Tentu saja... Lebih dari cukup, uang jajanku dari Papi tidak lebih besar daripada uang jajan dari Maria. Dan bercinta dengan Maria yang dulu aku pikir akan menjadi tugas Berat, ternyata berbalik menjadi menyenangkan. Secara keseluruhan posisiku tentu lebih baik... Tapi kalau haus soal prestige, tentu menjadi Direktur utama Tower High adalah yang utama.
Terkadang aku iri dengan perempuan seperti Renata, hampir Sebagian besar hidupnya hanya menunggu pangeran yang tepat tanpa hawatir apapun.
" Ternyata dijodohin tidak terlalu buruk!" suara Renata memecah keheninganku yang mengamati kebersamaan Maria Dan Tania.
"Lihat suamiku... Meski masih calon.. Dia sudah sibuk memnyiapkan minuman untuk kita"
"Apakah kamu tahu Kenapa mereka berpisah?" aku menyulut Tanya.
"Seperti biasa, tidak Cocok..."
Aku mengangkat Alis ku dan tertawa simpul.
"Tidak ada orang yang Cocok Di dunia ini, hanya kita yang harus Saling mencicikkan diri"
"Ucapanmu udah kayak so crates saja" ledek Renata atas ucapanku.
"Sok tahu....!!" Aku tertawa kecil melihat minuman yang ahirnya keluar dari bar Anthony "Andai Tania memintaku mundur.. Mungkin aku siap" gumamku ketika Anthony mulai memberikan minuman kepada Tania Dan Maria terlebih dahulu.
"Aku yang tidak... Enak aja"
"Minuman favorite kamu apa?"
"Mix Berry Juice"
"He should always had berries dong buat kamu... Tapi sayangnya dia selalu punya lemon tea" Aku sengaja menyindir tipis untuk Renata.
Entah alasan apa yang membuat Maria Dan Anthony terus bertengkar hingga perceraian pun menjadi pilihan terahir yang juga mengorbankan persahabatan mereka.
Terkadang menikah adalah salah satu Jalan mengahiri hubungan yang damai. Tapi bagaimana dengan kehidupanku dengan Maria ke depannya, kata Berahir dalam waktu dekat seperti sulit untuk aku hadapi. Meski faktanya tak ada panggung yang tak usai.
"Bukannya lemon tea juga favorite Anthony"
"Kenapa seleranya sama dengan Maria?"
"Kalau kamu berniat membuatku mengurungkan niatku menikahi Anthony, tentu salah... Kita sama - sama tahu sebatas mana kemampuan kita" ucapan Renata terdengar seperti ratapan.
"Aku mampu... Kamu lihat aku keluar dari jerat perjodohan Melissa" Aku sedikit Bisa berbusung Dada akan pilihan ku meski Sebenarnya aku Berahir menjual diriku.
"Kalau semua seperti kamu, maka siapa yang akan menyelamatkan keluarga kita?" Renata kali ini menatapku serius "Seharusnya kamu merasa bersalah padaku karena tanggung jawab itu beralih padaku"
"Hi.. Baby!"
Belum sempat aku menanggapiku Renata Anthony telah datang Dan mendaratkan kecupan Di pipi wanita cantik itu.
Aku ahirnya hanya mengatupkan bibirku dan menelan sendiri bantahanku yang jelas. Bahwa setiap orang harus bertanggung jawab atas keputusannya sendiri tanpa meminta tumbal dari keturunannya seperti yang dibebankan ayahku sebelumnya.
"Kalian sedang membahas apa?" Tanya Anthony berbasa - basi.
"Hanya obrolan keluarga saja, nothing serius"
"Kamu tahu sendiri aku cukup sibuk ahir - ahir ini, sungguh sangat lega masih ada keluarga yang sudi mengingat ku seperti Renata" Aku me nyambung seenaknya "She is a good girl.. Tolong jangan sia - siakan dia" Aku bersungguh - sungguh.
Manikku beralih menatap Maria yang masih sibuk dengan Tania. Selain tidak romantic Maria tidak punya alasan untuk dicampakkan. Yang jelas Anthony juga bukan pemuja Kecantikan, karena aku bisa melihat tatapannya yang penuh cemburu ketika aku bersama Maria.
"No worries.. Dude.. Aku pasti take care of her" jawaban Anthony meski kurang Bisa aku percaya, tapi cukup melegakan untukku.
'****
"Jadi..jam berapa aku bisa bawa Tania pulang besok.?" Maria mendekat dengan wajah berbinar. Ada beberapa bekas cubitan Di wajahnya yang jelas berasal dari Tania.
"I don't like her to be in the news" Anthony masih menggunakan alasan itu untuk menahan Tania tetap Di rumahnya.
"It's Clear and done.."
"Maria sudah mendapat perserujuan untuk membuat para wartawan pergi... So... Kita sangat siap untuk Tania ada Di rumah" Aku membantu Maria untuk mendapatkan Tania.
"Kita lihat besok, apakah benar - benar clear!!" jawaban Anthony di lepas kan dengan suara yang lebih rendah.
Aaah... Mungkin ini lah waktu peperangan antara Maria Dan Anthony selanjutnya. Aku meraih Maria untuk dalam Pelukanku, ada rasa iba yang sudah hadir. Meski maria belum sadar bahwa Anthony hanya beralasan.