
Aku sengaja diam sepanjang perjalanan kami menuju bandara. Maksudku aku bermaksud membuat Maria menyadari kalau aku sedang jengkel.
Tapi, bukan Maria namanya kalau dia peka dengan aksiku.
"Kamu lebih suka pantai atau Gunung?"
Ahirnya aku mulai mengalah.
"Bukan hal yang harus Di pilih, semuanya bagus"
"Bukan jawaban Mar... Pilih aja dulu"
"Kamu berniat menebak ke mana kita Akan pergi?" pertanyaan Maria sungguh tepat.
Aku merasa seperti orang bodoh saja mengekor tanpa tahu kemana tujuan.
"Kita ke kantor pengacara" jawab Maria sebelum aku membenarkan Tebakannya.
" Kita nggak bulan madu Di sana kan?"
Sebuah senyum simpul menjadi pembuka sebelum kalimat "Kita pituskan setelah kita berdiskusi dengan Ario"
"Apakah ini urusan Melissa?"
Maria mengangguk datar "Kamu sangat yakin tidak pernah ada hubungan apapun dengannya?"
"Sejuta persen Mar!!"
Segurat senyum terukir Di wajah Maria seolah penuh kepuasan. Apakah Maria mulai me naruh hati padaku? Sungguh itu tidak menutup kemungkinan. Mengingat aku bukan sosok yang mudah untuk di tolak... Aku cukup percaya diri.
****
"Hi Harry.... Saya Ario!!" sapa Mas. Ario, pengacara yang dimaksud Maria. "ini ketiga kalinya kita bertemu"
Seingatku kami hanya bertemu dua kali. Pertama di upacara pernikahan Dan kedua hari ini.
"Harry..." jawabku singkat, dengan posisi ayahku semua orang pasti Bisa me ngaku bertemu lebih dari seharusnya.
"Dia juga ada Di ruanganku ketika kamu mengantarkan minuman" suara Maria menjawab kebingungan yang hendak aku sisihkan.
"Rupanya dia sudah tergoda denganmu saat itu, sampai melewatkan kehadiranku" Canda Ario seraya tertawa renyah.
" bercandamu tidak mempan" tepis Maria. cepat "Mari kita ke pokok permasalahan"
" good!!"
Jawab Ario tanpa tersinggung, lelaki itu rupanya sudah cukup mengenal Maria dengan baik.
" ini semua kutipannya Dan inj beberapa video serta article dari media"
Ario menyodorkan map Dan Sebuah tablet.
Maria membaca isi map dengan teliti hingga Sebuah senyum terurai.
"Harry.. Benar, hampir tidak ada jejak mereka pernah berdua, hanya beberapa kali bersama" Ario masih melanjutkan.
"Acara ulang tahun teman Dan beberapa kali gala dinner, Namun tidak pernah ada percakapan"
"Benarkan! Aku tidak berbohong!" Aku segera memotong penjelasan Ario "Jadi jangan Tanya lagi"
"hmmm" tanggap Maria yang kurang berkenan Di hatiku.
Sejenak ruangan hening hingga...
"Kamu cemburu Mar??" pertanyaan Arrio memecah keheningan Dan ketenangan Pada diriku.
Apakah Maria sungguh cemburu padaku?
Tentu saja Maria menyangkalnya. Tapi tuduhan Ario pasti punya alasan.
"Dengan sifat Melissa... Apakah perempuan itu akan menggila bila kami tidak merespon?"
"Kalau dari yang aku kenal, tentu iya" jawabku memastikan.
Maria mengangguk menanggapi jawabanku.
"Biarkan dia membuat banyak statement yang menyudutkanku, rangkum semuanya untuk bukti Dan pastikan cukup untuk membuatnya layak Di tuntut secara hukum, selanjutnya kita lihat sejauh mana ayahnya akan menebus kesalahan putrinya " pinta Maria sangat tegas.
Aku dan Ario Sejenak terpana dengan keputusan Maria. Kami berdua pasti sependapat bahwa perempuan ini sangat cerdik.
" Jangan sampai lebih dari tujuh hari "
" Bukankah lebih bagus kalau lama, bulan madu kalian jadi lebih Panjang" Goda Ario yang ahirnya tertawa.
"Sayangnya dia masih baru, dan ada pertemuan keluarga besarnya yang akan digelar sekitar 3 Minggu lagi" Maria mengutarakan alasan yang membuat sepasang Alisku berkerut. "Aku ingin dia piawai dalam posisinya agar reputasi perusahaan ku menjadi cukup bagus"
Aku memilih menutup bibir rapat - rapat Dan mengikuti langkah Maria meninggalkan ruangan Ario setelah satu dua canda di antara mereka.
"Darimana kamu tahu soal pertemuan keluargaku?" tanyaku langsung ketika sampai di dalam mobil.
"Anthony!"
Ah... Aku lupa bahwa hubungan mereka masih sangat.... Hmmm, aku rasa Bisa di sebut dengan misterius.
"Ya.. Ya.. Anthony"
*****
Perkebunan kopi???
"Kita bulan madu Di sini?" tanyaku yang cukup tercengang dengan lokasi kami berada saat ini.
"Aku berencana untuk menambah bidang kopi Dan memiliki kebun kopi bukan hal yang mudah"
"Hubungannya sama bulan madu kita apa?"
"Agar kita tidak bosan, kita Bisa belajar tentang kopi Di sini dari segala sisi baik dari penanganan hingga detail biji kopi itu sendiri" Maria memberi penjelasan yang tidak penting menurutku.
"Mar... Kamu sudah membebaniku dengan setumpuk pekerjaan, sekarang kamu memberiku materai lain yang harus aku serap juga? CK... CK... Ini perbudakan namanya" Aku memberanikan diri mengeluh.
Seperti biasa Maria hanya mengacuhkanku saja dan terus melanjutkan langkahnya mengikuti petugas yang mengantakan kami ke salah satu bungalow yang Sebenarnya cukup nyaman Namun tentu sangat Di bawah expectasiku mengingat berapa besar kekayaan istri ku.
" kamu bilang ingin diperlakukan sebagai pasangan suami istri Pada umumnya tapi..." aku kembali mengeluh ketika kami sudah menyandarkan punggung kami di sofa.
"Yang diluar rencana adalah penggemar fanatikmu, jadi begini kan?" balas Maria telak. "setidaknya lelahmu aku bayar tanpa aku keluhkan, Bisa kah kamu menahan ke tidak nyamanan meski Sejenak?"
Benar... Aku baru sadar bahwa Maria hampir tidak pernah mengeluh. Kalau aku membuka mata sejak tadi, Maria lebih banyak membawa pekerjaannya Dan juga mengatur semuanya. Tapi sedetikpun dia tak pernah mengeluh.
Aku menundukkan kepalaku berharap Maria Bisa melewatkan untuk menatapku dengan amarah yang tertahan.
Maria menyodorkan sebotol air mineral ke arahku "Minum dulu supaya segar" nada suaranya mulai teduh " masalah selalu datang dalam hidup, baik beruntun atau satu per satu yang terpenting adalah kita bertahan Dan menciptakan peluang setiap menyusui solusinya" lanjutnya.
Aku memang jauh lebih muda dari segala hal.
"Dengarkan dengan baik kata - kata orang yang lebih tua, karena aku pernah muda tapi kamu belum pernah tua" Lanjut Maria yang wajahnya mulai sumringah menatap lepas ke arah langit Di luar jendela.
"Ma maaf.." Ahirnya kata itu yang muncul.
Maria menggeleng cepat, "Aku yang harusnya mempersiapkan kamu lebih baik" Maria menarik nafas dalam dalam "Mau ikut aku keliling Taman sebentar atau mau istirahat?"
"Apa Bisa kamu menemaniku untuk istirahat" Aku balik menawar.