
Aku mengerutkan keningku, dengan muka bersemu merah secara perlahan. Entah karena udara Panas yang meningkat, atau rasa cemburu yang memuncak atau bahkan rasa malu yang mulai senyap senyap menyeruak?
"Kami memang pernah jadi sepasang ke kasih, tapi Pada ahirnya kami menyadari Maria menjadi lebih baik dariku...." om Johan menatap aku dan Maria secara bergantian "Maka menjadi rekan bisnis adalah pilihan yang terbaik untuk kami karena Pada ahirnya cinta adalah dunia yang tidak sama dari yang kami pikirkan"
"Maksudnya?"
Om Johan kembali tertawa, "Aku dan Maria membutuhkan orang - orang yang lebih berperasaan sepertimu agar kami lebih manusiawi"
Aku mencoba mengingat masa lalu ku ketika bertemu dengan om Johan, memang benar beliau tidak jauh seperti Maria. Dingin, tegas Dan tanpa basa - basi. Namun sekarang aku sedikit merasa kan Kehangatan yang berbeda, apakah itu karena istrinya?
"Aku pembisnis... Bukan cassanova, satu kali menikah Dan satu wanita sudah terlalu penuh untukku Dan masa lalu adalah Jalan untuk masa depan bukan untuk tempat kembali"
"Kami adalah masa lalu" Maria menegaskan " Johan adalah investor pertamaku dia yang membantu ku membangun pondasi Bisnisku, jadi tidak mungkin aku melupakan jasanya"
Termasuk tidak akan meninggalkannya. Berarti aku harus berdamai dengan keadaan, untuk melihat sepasang manusia serasi ini yang salah satunya dengan istriku sekaligus wanita yang aku cintai saat ini. Dan dia juga sugar Mamy - ku.
Benar juga mana mungkin seorang petani melompat tinggi tanpa ada pegas Di kakinya. Ternyata ada om Johan adalah pegas itu.
"Itu Rahasia umum... Ayahmu juga tahu"
Aku makin mengangkat Alisku tinggi - tinggi.
"Papi terlibat?"
"Aku yang merekomendasikan Maria padanya"
Om Johan tertawa Dan mulai melangkah turun ke lantai dua. Berhenti Di balik meja bar Dan mulai menuangkan minuman kepada kami.
"Honey camomile tea?" tawarnya Pada Maria yang hanya di sambut dengan senyuman.
"Kamu apa Har....?"
"Terserah Om.. Saja" jawabku malas.
"Aku samakan dengan Maria.. Honey camomile tea, kamu harus belajar selera istrimu" om Johan terkesan me nasehatku dari Pada memawariku.
"hmmmm" Aku mulai menjawab dengan cara kurang sopan.
" Teman istrimu juga temanmu, kamu Bisa memanggil ku Johan tanpa kata Om. Jika kamu mau"
Om Johan mengambil duduk Di sofa 3 seater yang ada Di hadapanku..
"Jadi bagaimana dengan rumah yang ini?" aku hampir lupa kalau dia sedang bekerja saat ini, dia penjual Dan kami adalah calon pembeli "Atau kalian masih ingin melihat yang lain?"
Aku memandang Maria, untuk menanyakan pendapatnya, tapi yang aku dapat in adalah kata terserah mengingat rumah ini adalah untukku.
"OK.... Aku ambil ini saja" jawabku tanpa mempertimbangkan banyak hal, kecuali durasi reuni Maria Dan om Johan yang akan terlalu lama kalau aku lebih pemilih..
"Yakin.. Sama sekali tidak ragu"
Maria mengangguk - angguk beberapa kali hingga diapun mengucapkan kata "OK" sama seperti ku.
"Seperti biasa.. Semua dokumen tolong Di kirim ke Aryo" Maria mengahiri negosiasi dengan pasti. " pelunasan juga Akan aku process seperti biasa"
Biasa... Ternyata mereka memang sudah biasa bertemu Dan Saling kerja sama. Pantas tidak ada rasa canggung sama sekali ketika bertemu. Tapi... Kenapa om Johan tidak hadir dalam pernikahan kami?
"hmm..... Aku tidak Di undang oleh Maria" om Johan tertawa lepas.
Apa yang lucu... Tentang dia tidak Di undang? Apa dia sedang menertawakan Maria yang terkesan belum move on.
"Itu salah kamu yang tidak mengurus Direkturmu dengan benar, mana mungkin aku mengundangmu sementara anak buahku terlantar Di pelabuhan hanya karena ulah Direkturmu. Tentu saja aku lebih suka kamu membereskannya sehingga aku bisa menikah dengan tenang"
"see.... Har... This is Maria?" Om Johan menggeleng beberapa saat "Kalian tidak ingin melihat lebih teliti lagi tentang rumahnya? Aku bisa menunggu Di teras depan".
Aku menggeleng cepat, aku tidak Bisa menahan rasa cemburuku lebih lama dengan hubungan baik mereka.
"Aku percaya Pada Om.. Lagi pula semua furniture juga sudah merupakan pilihan Maria, lebih baik kami menyelesaikan beberapa hal sebagai pengantin baru" Aku meraih Tangan Maria Dan menatapnya dengan mesra..
"Yakin?"
Aku mengangguk sambil mempererat peganganku. Mariapun ikut tersenyum Dan segera berpamitan.
"Jadi seberapa besar hubunganmu dengan om Johan?" tanyaku tanpa basa basi.
"sebesar yang kamu tangkap dalam percakapan kita tadi" Maria santai menanggapiku.
Aku menarik nafas panjang dan memutuskan melaju keluar dari area Perumahan ini.
" Aku bukan anak kecil yang masih suka bermain dengan perasaan... Aku perempuan dewasa yang bertanggung jawab dengan segala peranku"
" Termasuk berbisnis dengannya?"
" Tentu saja, nominal kerja sama kami cukup besar Dan menguntungkan" Maria menjawab tanpa ragu "Kamu sedang menjalani hubungan dengan seorang wanita pembisnis, bukan para pengidap cinderella syndrome"
Aku memilih diam Namun gesture kurang terima akan keadaan terbaca jelas oleh Maria.
"Dewasalah Har.... Dunia yang Sebenarnya tidak ada cukup waktu untuk bermain perasaan, banyak hal yang lebih berguna untuk Di lakukan seperti... Kita menuju sekolah yang aku dirikan. Aku mau memastikan seberapa jauh Perkembangannya?"
"sekolah gratis itu...?"
Maria mengangguk dengan tatapan lurus Dan wajah datarnya.
Maria memang benar, aku masih muda Dan tampan Di tambah lagi aku perlahan mulai kaya. Andaikan Maria bermain Di belakang ku aku masih punya banyak pilihan yang bisa aku dapatkan. Tapi perempuan seperti Maria tentu tidak bisa mudah aku temukan, mungkin tidak pernah.