
Tidak akan!! "
" Huh...! Lantas Kenapa kamu menikahi wanita seusia Elena?"
" Tidak kah kamu melihat berapa cantiknya Elena? Aku melihatnya sejak 10 tahun yang lalu.. Jauh sebelum mengenalmu"
" Dan aku mengenal Elena jauh lebih baik darimu. Dan hanya karena Cantik?" Aku mendengus kesal "Elena lahir bukan karena uang kakekku! tapi karena ketampanan kakekku yang meski usianya tidak muda lagi, jelas dia cantik. Kami satu gen"
Dion mengusap wajahnya "Tapi aku juga mencintainya" desisnya "I have crush on her"
"I don't mind you married with her, asal kan kamu tidak menjadi budaknya"
"Aku sudah bilang itu tidak akan terjadi"
Aku tentu saja sulit percaya " Sejujurnya apa yang Elena inginkan dari pernikahan kalian?"
"Kami hanya menikah sewajarnya"
Aku tersenyum kecut, Dion Sungguh melindungi wanita pujaannya. Elena yang aku kenal tidak akan menggadaikan kebebasannya tanpa keuntungan. Aku yakin Dion sudah tahu itu.
"Elena menginginkan pengakuan dalam Jumlah tanpa batas Dion! Dia memiliki semuanya kecuali satu hal itu, hanya karena dia adalah anak Di luar pernikahan" Aku menjelaskan sedikit tentang Elena dari sudut pandangku.
Dion hanya mengatupkan Mulutnya rapat - rapat, tanpa ekspresi terkejut sama sekali.
"Kamu berfikir Elena Bisa segila itu? Dia hanya wanita manja yang cukup kesepian"
"Kamu tahu Kenapa dia bercerai?" potongku cepat "Dan Kenapa kami semua sepakat dia hanya memiliki saham tanpa bekerja? Meski Tower High harusnya tidak ada hubungan dengan Elena selain Mami yang menikahi pewaris utama Tower High yaitu Papi? "
Dion menahan sesak kejengkelannnya tentang kerumitan keluarga Bisnis seperti kami. Mungkin dia hanya berfikir seperti kebanyakan orang lain yang hanya mengira hidup kami indah, bergelimang harta dan bla, bla, bla. Padahal sesungguhnya kehidupan kami penuh dengan variable.
"Ah... Kamu cuma malu punya aku sebagai pamanmu kan? Atau kamu malu punya tante seorang Sugar Mamy? Atau..." ucapan Dion menggantung Sejenak "Jangan - jangan kamu sugar Baby bu. Maria?
Kalimat Dion kali ini Sungguh hampir menguras emosi ku. Andai kan aku tidak pernah kenal Maria, mungkin aku sudah menamparnya.
Aku menarik nafas panjang dan perlahan menghebuskannya "Kalau kamu belum menandatangani kontrak apapun dengan Elena, lebih baik kamu tunda dulu hingga kamu yakin akan keputusan pernikahanmu" Kalimat itupun keluar dengan nada yg lebih bersahabat dari dugaanku.
"Aku sudah menandatanganinya Dan aku sudah cukup dewasa dengan keputusanku"
Dion memutar tubuhnya meninggalkanku yang masih mematung Dan bingung tanpa sebab. Firasatku kurang baik soal Elena, bukan karena dia jahat tapi kadang dia sering bertindak Di luar batas.
"Elena menginginkan posisiku Di Tower High?" tebakku random
Langkah Dion terhenti Di ambang pintu, Sejenak keheningan berhembus Di antara kami
"Itu bukan termasuk dalam urusan ku" Dion menjawab tanpa semangat.
Prasangkaku pasti tidak jauh. Aku membanting tempat pensil yang tidak bersalah ke arah lantai dengan keras.
Kenapa Renata sangat tidak kompeten? Andaikan dia cukup pintar seperti Maria mungkin posisiku akan mudah Di alihkan padanya. Dan kami tidak perlu memiliki keluarga parallel seperti sekarang dalam kondisi yang memusingkan.
Moodku dalam bekerja cukup berantakan, aku tidak Bisa konsentrasi membaca setiap laporan yang sudah di mejaku. Apalagi membaca laporan om Jonathan. Seharusnya Dion Bisa membantu ku saat ini. Tapi aku memilih mengjindarkannya dari hal - hal strategies sementara waktu.
Dalam hitungan menit aku meluncur ke kantor Maria. Meski aku tak yakin akan banyak membantu Namunbterkadang melihatnya saja sudah memberiku sedikit kekuatan.
"Mar...!!" Aku melempar senyum Dan menghempaskan tubuhku Di sofa.
Maria mengernyit Sejenak sebelum Seutas senyum menghiasi wajahnya menyambut sapaan ku.
"Ada yang mendesak"
"Menemui istri tidak perlu alasan bukan?"
"Menemui bosmu perlu beberapa penjelasan"
"Just lost my mood"
.
Maria menghentikan activitas membacanya. "Masih urusan Dion Dan Elena?"
Aku mengangguk refleks, "Aku selalu ketakutan dengan keluargaku sendiri"
Maria berdiri dari tempat duduknya dengan perut bulatnya "Bahkan mereka tidak peduli dengan cucunya" Aku menggumam lirih.
"Aku tidak berharap apa - apa dari keluargamu" Maria meletakkan tubuhnya Di samping ku jemarinya yang lemah memijat lembut pundakku. "termasuk segala masalah dari mereka juga" tawa kecil keluar dari sepasang bibirnya yang polos.
Nafasku seketika menjadi Berat karena kalimat terahirnya. "Aku juga tidak pernah menyangkanya, aku pikir mereka akan melupakan ku sama ketika awal mereka mengusir ku"
"itu karena kamu sudah mulai punya nilai.. Harusnya kamu bangga"
Aku memalingkan wajahku Pada Maria yang nampak tenang "Begitukah perspective mu?"
"Tentu saja, tidak mungkin aku memepertahankanmu sejauh ini kalau kamu hanya sampah"
Ucapan Maria mungkin terkesan kasar tapi itu terasa manis Di hatiku. Tanpa kusadari aku sudah membenamkan sepasang bibirku di antara bibirnya.
"Mau menemui calon sekertarisku?" Bisikku "Lebih baik kalau kamu yang menilai"
Maria melirik jam Dinding " Apakah kamu membutuhkannya segera?"
"Untuk kesehatan psikologi ku, aku rasa iya"
"Baiklah... Hubungi roselyn untuk membatalkan sisa jadwal ku hari ini.. Dan aku harap dia benar - benar cukup punya nilai"
Aku tidak berani menanggapi kalimat Maria, karena aku juga berharap hal yang sama.
*****