
ADA dua hal yang saat ini sangat Dion ingin kan, melihat Elena untuk terahir kali Dan kemudian menghilang. Tapi untuk orang biasa, hal itu menjadi tidak mungkin. Dion masih harus tinggal Di Kota ini Dan bekerja dengan baik untuk membiayai pendidikan adiknya. Lagi pula andai dia pindah Dan mencoba hidup baru, seseorang seperti Elena akan mudah menemukan ya, mengingat kekuasaan Dan kekayaan yang dimilikinya.
Meski ragu, ahirnya Dion memencet Bell apartments Elena. Selang lima menit kemudian perempuan cantik itu membuka kan pintu dengan penuh senyum ramah. Srkilas dia memandang penampilan Dion sebelum dia mempersilahkannya masuk.
Dion masih terperangah dengan Dadanya yang berdetup kencang. Bagaimana tidak, Entah apapun maksud Elena tetap saja Dion merasa canggung. Elena seperti sengaja menggunakan gaun semalam. Mungkin kalau dia melihatnya sebelum kejadian malam itu, dia hanya akan mengagumi Kecantikan Dan ke seksian tubuhnya saja seperti biasa. Namun saat ini semua berbeda. Dion sudah memiliki kenangan mendalam dengan gaun Dan sosok yang sama. Dan dia tidak akan lupa bagaimana isi yang terbalut dalam gaun itu.
" Sayang kamu tidak memakai kemejamu semalam" gerutu Elena ketika Dion sudah menghempas penuh Tanya Di sudut sofa.
Dion hanya mendengus sesaat. Ada rasa kesal Dan hasrat yang bertarung sengit dalam benaknya. " Aku ingin sedikit berinovasi" kilah Dion yang mencoba meredam apapun yg bergejolak.
Elena hanya diam tanpa menanggapi, dengan tenang dia menuangkan wine ke dalam gelas. Serta menyajikannya ke Dion beberapa saat kemudian.
"Punya pacar?" Tanya Elena merdu.
Dion hanya menggeleng Dan menerima ukuran wine dari jemari lentik Elena,
"pernah punya?"
Dion mengangguk singkat sebelum meneguk wine Di tangannya.
"Ini adalah salah satu wine terbaik, dengan usia 25 tahun" Elena memandang gelas wine yang diputar Di tangannya "Di buat dari anggur terbaik dengan musim Dan lingkungan paling mendukung, sehingga semua rasa sangat seimbang Dan tahan lama"
Elena tidak ragu untuk mengambil duduk Di sisi Dion. "Sangat lama.. Ketika kamu merasakannya"
Dion tanpa sadar, tersedak wine yang sedang diteguknya. Dia mulai menyadari arah ucapan Elena.
"Bahkan Bisa membuatmu melupakan rasa wine yang pernah kamu teguk sebelumnya" Elena sangat percaya diri dengan ucapannya sekali lagi.
Elena beranjak dari duduknya Dan berdiri tegak Di hadapan Dion.
" ruang tamu, ruang tengah atau kamar?"
"Ka..kamar"
Elena langsung me balik badannya Dan berjalan annggun menuju kamarnya.
Dion masih terpana melihat tingkah Elena yang di rasanya sedikit gila.
"Apa aku masuk sendiri?" Tanyanya ketika Di a bang pintu.
Dion pun segera berdiri Dan menghampiri Elena.
"Aku yang mulai?" Tanya Elena pasti.
Dion hanya mengangguk, menjawab jujur apa yang terjadi.
Tanpa ragu Elena menarik tubuh Dion Dan menghempaskannya ke atas ranjang. Hanya dalam hitungan detik dia telah bergabung dengan merangkak gemulai Di atas tubuh Dion.
Dion hanya Diam memaku, dalam benaknya dia ingin mengantakan bukan. Tapi saat ini Elena jauh lebih menarik.
"tebak sendiri.." Kali ini Dion mulai menemukan Di mana sisi lelakinya yang sedang ingin melihat tarian indah wanita impiannya. Jemarinya tanpa ampun mengusir gaun Elena dari pandangannya.
Tidak ada lelaki yang bisa melepaskan sosok Elena saat ini, meski usianya tidak muda lagi. Tapi dia madih tergolong jenis unggul, untuk bentuk atau ukuran, Di tambah lagi paras cantiknya yang membuatnya jadi sangat sempurna.
******
"Apakah perlu aku menandatangani perjanjian?" Dion me bolak balik lembar demi lembar kontrak Di hadapan ya.
"Omongan pria susah di percaya" jawab Elena singkat.
"Kamu sudah yakin bukan?"
Elena mengangguk.... "Kamu tidak buruk"
"Tanpa semua syarat - syarat aneh ini pun, aku bersedia menjadi pria mu. Dan setia bukan hal yang sulit bagiku"
Dion berusaha menyiratkan rasa cintanya Pada Elena, berharap wanita itu sedikit Bisa menerka. Tapi kayaknya itu salah, Elena sama sekali tidak tersentuh. Mungkin luka perceraiannya masih cukup menganga.
"Di usiaku saat ini aku sudah tidak naif, kata - kata lelaki tidak bisa aku jadikan sandaran. Aku suka konsekuensi yang Nyata" Elena mengetukkan Jari telunjuknya Pada kolom tanda Tangan, menegaskan kembali bahwa dia tetap akan mengikst hubungan mereka dengan kontrak.
Dion hanya menggeleng cepat, meski jemarinya tanpa ragu membubuhkan tanda tangannya. Memang ini tawaran ini terbaik, tapi kehilangan harga diri tetap terasa tidak terlalu nyaman.
****
Waktu, demi waktu Dion menikmati hubungannya dengan Elena yang tentu saja menjadi salah satu rahasianya. Meski Di mata Elena mungkin posisinya tidak lebih dari peliharaan, tapi paling tidak dua sudah mulai bergaul dengan kalangan atas Dan menikmati kehidupan hampir setara dengan mereka.
Dari Elena pula dia Bisa mengetahui latar belakang teman - teman barunya. Elena sering mengeluh tentang beberapa rekan bisnis atau teman sosialitanya. Yang tak jarang mereka adalah ibu dari teman - temannya. Orang kaya memang seringnya pasti bergaul dengan yang satu level.
*****
Namun, hingga satu kali kedatangan Elena sedikit berbeda. Seperti biasanya, dia mengundang Dion untuk berkunjung ke apartemennya, untuk melepas rindu. Anehnya Elena nampak selalu ragu ketika Dion mencoba mengajaknya untuk lebih intim. Padahal biasanya Elena justru lebih suka memulai.
"Aku mungkin Akan tinggal lebih lama kali ini" Elena mendesis pelan.
Dion juga baru menyadari bahwa Elena juga tidak menyentuh wine yang di bawanya, meski dia sudah menuangkannya sedari tadi.
"Hmmm..." Dion mengamati Elena Sejenak, "Bukan aku keberatan, aku justru senang. Tapi, ini bukan seperti kamu biasanya"
Elena mendongakkan wajahnya ke langit lepas Sejenak dan menghirup nafas dalam - Dalam.
"Akuuu...." ucapan Elena menggantung di ikuti maniknya yang menatap lurus ke arah Dion dengan bibir sedikit bergetar.. "Aku....