Sugar Mamy

Sugar Mamy
Datang dan Pergi


"Dia menawarkan sahamnya padamu?"


Maria hanya mengangguk.


"15 persen?"


Sekali lagi Maria mengangguk. " Bukan gratis" Ucapnya masih dengan ekspresi yang dingin.


" Tapi tidak dengan harga penuh kan?"


"Dia ingin barter"


"Dia nggak naksir kamu kan?


" Hush...!! Otakku harus Di lurus kan"


Aku memangkas jarakku dengan Maria "Dengan apa?"


"Aku belum mempertimbangkannya" Maria menutup maniknya dengan bingkai lentik bulu matanya. "Aku akan memikirkannya, Willy hanya ingin keluar dari drama keluarganya tapi juga tidak ingin rugi"


"Ternyata dia juga serakah"


"Siapa yang tidak kalau ada kesempatan Dan kemampuan"


Maria menyibakkan rambut panjangnya yang sedari tadi bergerak Di sisisi kanan Dan kiri pipinya.


"Kenapa mencari ku..." Tanyanya padaku yang mulai lupa tujuan ku menemuinya hari ini.


"Ckckck.... Sebagai pembisnis kamu memang unggul, tapi sebagai istri kamu ini sedikit kurang ajar" Aku coba berkilah.


Maria melirik jam Dinding yang terpampang Di tengah salah satu sisi tembok "Kalau begitu aku masih dalam kategori unggul mengingat saat ini masih masuk jam kerja bukan?"


Aku mendengus ke wajah Maria yang sungguh tidak ramah. Rupanya rasa tidak sukanya atas kedatanganku masih belum sirna. "Kamu marah aku datang?"


"Benar... Kami baru satu session, masih ada dua session lagi. Dan aku bisa menang untuk ketiganya"


"Bagaimana kalau aku mengisi dua sessi berikutnya?"


Maria mengernyitkan dahinya "Kamu belum pernah bermain anggar kan?"


"Belum!" Aku menjawab tanpa ragu "Tapi aku tertarik dengan kakimu yang lentur itu, aku mulai menebak kira - kira bagaimana keadaan Di antara pangkal pahamu"


Aku mengarahkan wajahku ke bagian yang aku maksud "Pasti dia mekar sempurna"


"Ini masih jam kerja"


"Aku sedang bekerja, bukankah aku masih belum selesai menghitung bayaranku darimu?"


Mulut Maria terkunci seketika. Kali ini aku sudah tidak merasa rendah mengingat transaksi D antara kami.


"Langkahmu Bisa memutar lebih dari 90 derajat tanpa jatuh" Aku menyapa Maria yang mulai melepas baju anggar nya Di dalam ruang ganti. Kali ini hanya tersisa kaos putih berbahan katun membungkus tubuhnya dengan Rapat.


"Satu kaki..." Aku mulai merapatkan tubuhku.


"Lebih baik kita kembali ke kantor"


"Aku tidak keberatan, asal pekerjaan kita sudah selesai" Kali ini aku langsung keintinya.


Jemariku sudah terlanjur menyelip Dan memutar tubuh Maria menghadapku.


Hasrat kami dengan singkat bertaut segera. Maria tidak bisa lagi menyembunyikan ketertarikannya padaku seperti dulu.


Wajah tampan Dan tubuh rapiku perlahan sudah berhasil membuatnya terpikat atau mengaguminya Di sela - sela waktu. Terutama saat seperti ini.


"It was Great??" Maria hanya membenamkan wajahnya sambil menahan suaranya agar tak terlalu nyaring karena pertarungan kami.


*****


Empat hari lagi, Tania akan segera meramaikan rumah kami. Setiap hari Maria mulai sibuk mendekor kamar tamu dengan pernak pernik girly.


Tania akan segera datang Dan tinggal Di rumah kami. Rencananya ahir pekan ini.


" Kita menang mutlak?" Aku memastikan bahwa ini bukan untuk sementara.


"Anthony kehilangan pekerjaan, ijin tinggalnya juga Di cabut. Dia harus kembali ke Italy dalam lima hari kedepan" Jawab mara cepat, tanpa henti mengatur staff untuk terus mempersiapkan kedatangan Tania.


"Oh iya.. Yul, kamar yang biasa kamu tempatku Di belakang akan berbagi dengan Manda. Dia akan tinggal Di sini, kalian Bisa berbagi" Maria meraih Yodha dari Tangan Yulia "Kamu tidak apa - apa?"


"Nggak papa bu.. Saya juga jarang - jarang tide Di sini"


"Terimakasih ya"


*****


"Aku ikut..." Renata mulai merengek


"Kamu lebih baik Di sini" Anthony sibuk mensortir barang - barang yang akan Di bawahnya.


"Tapi kita tidak bercerai kan?" Anthony tak menghiraukan.


"Kamu masih memiliki saham Tower High, kita Bisa urus visa investor" Keluh Renata yang sangat berharap bahwa hari ini bukankahlah Nyata.


"Re... Bisa kamu tidak menggangguku? Aku perlu konsentrasi"


"Apa kamu pernah mencintaiku Tony?"


"Aku bosan dengan pertanyaan itu, bisakah kamu keluar? Aku tidak ingin melewatkan hal yang penting"


"Tapi Kenapa kamu tidak mengajakku ke Italy? Aku tidak keberatan tinggal Di sana. Lagi pula Tania bersama Maria" Renata mulai mengungkit keputusan Anthony yang tidak bisa di terimanya.


"Semua keluarga Dan teman kamu Di sini, kekayaan u juga ada Di sini. Kenapa kamu harus ikut ke negeri yang sama sekali asing bagimu? " Anthony menanggapi tanpa mengalihkan matanya dari barang - barang yang dikemas.


"Kamu punya wanita lain kan?"


Kali ini wajah Anthony menatap Renata "Kamu selalu mengira hal yang sama, aku bekerja dengan keras"


"Atau kamu berniat menceraikan aku dan menikah dengan wanita lain?"


"Pikiranmu melebar ke mana - mana" Anthony menutup satu box yang di rasa sudah penuh.


Dengan segera dia mwmeluk Renata yang mulai terisak "Aku sekarang pengangguran, aku perlu fokus untuk menata karir baruku. Ak butuh pekerjaan"


" Aku bisa ikut, dan aku bisa membantumu. Setidaknya mengurusmu"


Kedua telapak Tangan Anthony mengusap pipi basah Renata "Bukan hal yang mudah Dan murah memiliki pembantu sebanyak yang kamu miliki Di sini. Italy Sungguh berbeda"


"Aku bisa menyesuaikan" Renata mencoba bertahan.


"Saat kita awal menikah, kita sudah berusaha mengurangi pelayan. Tapi hasilnya?"


Renata menunduk "Tapi kita tidak bercerai?"


Anthony menggeleng " satu atau dua tahun lagi aku akan kembali. Elena akan membantuku"


"Kenapa kamu mulai sering berhubungan dengan Elena? Aku tidak begitu menyukainya"


Anthony menarik nafas panjang "Karena dia Bisa membantu kita"


"Aku akan meminta ayahku untuk membantumu. Jangan Elena"


"Terserah.. Kamu bantu atur saja" segurat senyum Renata mulai terukir "Kamu juga Bisa mengunjungiku"


Renata mengangguk.


"Elena menelphon" bisiknya ketika menangkap nama Elena yang muncul di layar ponsel Anthony.


"Ah... Aku angkat terlebih dahulu.." Anthony segera menyambar benda pilih itu Dan meninggalkan ruangan.


"Sejak kapan dia menyembunyikan percakapan dengan Elena dariku" Gumam Renata Mengantar punggung Anthony yang segera menghilang Di balik pintu.


****