
Benar dugaanku sehari setelah pernikahannya, gugatan hak asuh Tania mulai masuk ke pengadilan. Maria pun mulai sering pulang cukup larut, karena Pada siang hari dia sibuk mengurus urusan persidangan, sedangkan sore hingga malam dia mulai membereskan pekerjaannya Di kantor.
"Kamu tidak menduga ini?" aku membahas langsung ketika Maria pulang lebih awal dari biasanya.
"Melissa tidak akan melepaskanmu dengan mudah, ayahnya mungkin menyerah tapi anaknya belum tentu"
"Kenapa Melissa, bukankah ini ulah Anthony?"
"Anthony adalah seorang WNA, dia tidak akan seberani itu tanpa dukungan yang kuat"
Maria menata nafasnya perlahan, dan menatapku dalam - dalam.
"Aku hanya berharap, dugaanku berikutnya akan meleset"
Aku mengernyitkan kening
"Aku tidak akan menghianatimu"
Maria menggeleng... "Aku percaya padamu" Sebuah senyum pahit terukir "Kinerjamu cukup bagus, profit perusahaan berlipat hingga 45%, strategimu aku akui sangat hebat"
"Oh.. Tentu saja, aku hanya butuh kesempatan untuk menunjukkannya" Aku merasa bangga dengan kalimat Maria yang biasanya pelit untuk memuji.
"Yang aku takutkan, ayahmu akan menagmbilmu dariku.." lanjut Maria lebih lirih."Kamu bukan hanya anak, saat ini kamu juga adalah aset yang menguntungkan"
Aku tertawa kering "Bagaimana mungkin aku hanya di hargai hanya ketika aku berhasil Dan Di telantarkan ketika aku sedang belum berkembang"
"Yang lebih aku khawatir kan dia akan mengambilmu dengan cara merusak inangmu"
"Aku tidak mengerti maksudmu?"
Maria mendengus sesaat "Kamu menikah dengan pemilik Pt. Pegassus Globalindo, semua uang Dan kesempatanmu ada Di sana" Maria meneguk minuman yang aku sajikan Di meja "Ayahmu bukan orang yang suka Di tolak, dan juga...." ucapan Maria menggantung sambil kembali menatapku sekali lagi.. "Dia juga suka memaksakan kehendak"
Sedikit menyindirku Di satu sisi, karena aku juga lumayan sering memaksa Maria. Tapi Maria benar, Papi tidak segan membuatku kelaparan hanya untuk kepentingannya. Aku baru sadar sisi lain Papi yang lembut kepada mami tapi juga menyerahkan dalam hal yang lainnya.
"Kamu kemanakan uangmu selama ini?" Tiba - tiba Maria mulai investigasi kekayaan ku.
"Hanya sebatas deposito, aku belum berani melakukan banyak hal karena Papi" Aku menjawab langkah bodohku dengan jujur.
"Tidak salah.... Namun tidak benar" Maria nampak berfikir Sejenak "Kamu percaya padaku?"
"Sejauh ini iya... Aku tidak punya yang lain"
Maria mengangguk pasti " Dengarkan aku baik - Baik, kemungkinan ayahmu menyerangku Dan perusahaan cukup harus Di pertimbangkan, maka kamu harus aku selamat kan terlebih dahulu"
"Aku terancam?"
"Bahkan kamu harus menikahi Melissa seperti rencana awal ayahmu"
"Aku tidak mau"
"Aku juga.." jawab Maria spontan.
"Benarkah..? " senyum segera merekah Di wajahku sambil menarik pipi Maria yang bersemu merah.
"Sudah... Kita serius" hardik Maria.
"Ah..."
"Kamu harus mulai melirik investasi luar negeri Dan belanja kan Sebagian uangmu Pada barang berharga"
"Aku merasa seperti drag queen kalau pakai perhiasan" sanggahku yang mulai geli dengan gemerlap perhiasan yang ada Di otakku.
"Pikiranmu selalu sederhana dengan hal seperti ini, tentu saja bukan untuk di pakai"
"Bukan untuk di pakai, simpan lah Di box Bank.. Sebagai tempat aman, kamu Bisa menggunakannya Di saat darurat"
Benar juga, Maria tipe orang sederhana, hampir tidak ada barang mewah Di rumahnya. Bahkan dia hanya memiliki satu rumah saja Dan apartment yang di berikan padaku.. Rumah kedua juga Di belinya dengan atas namaku. Mungkin dia juga memiliki banyak barang berharga yang tersimpan Di suatu tempat.
"Aku kurang Ahli untuk soal itu" jawabku langsung.
"Tentu.. Aku sudah tahu" Maria memijit pelipisnya perlahan. "Aku ada proffesional yang akan membantumu, dia akan menyarankan beberapa benda yang harus kamu beli Dan kamu Bisa mulai berjnvestasi Di restaurant Johan Di New York"
"Johan??? Kenapa harus bawa nama dia?"
"Dia kompetitor ayahmu, bisa di sebut hampir musuh untuk beberapa tahun terahir" jelas Maria yang tetap tenang tanpa terpengaruh dengan emosi ku.
"Kenapa aku tidak invest Pada perusahaan go publick saja"
"Karena kita bersembunyi dari ayahmu" Maria menegaskan kata - katanya.
Benar juga, namaku juga pasti go public ketika transaksi Di mulai.Dan ayah pasti akan mulai membaca langkahku yang tidak berniat kembali padanya, apapun yang terjadi.
"Kalau kamu setuju, aku akan mengatur pertemuanmu dengan Daniel terlebih dahulu, baru kemudian dengan Johan... Keduanya kamu akan Di temani oleh Aryo"
Maria menghabiskan minumnya "Aku tidak mau transaksimu akan cacat hukum, dari pihak manapun"
"Istriku.... Memang cukup pintar"
Maria tersenyum menanggapi pujianku yang tidak salah.
"Ketika perusahaan dalam masalah, aku tidak akan membuatmu membantu ku menanggung resiko, tapi... Paling tidak tetap lah Di sisiku"
"Sampai Tania kembali padamu?" Aku mencoba menegaskan batasan yang Maria maksud.
Maria menggeleng "Aku meminta dengan tulus, kali ini sebagai istri Dan wanita yang mencintaimu"
Maria mengantakan mencintai ku??? "Kamu tidak sedang merayuku kan?"
Maria tertawa kecil, "Ternyata urusan cinta aku memang akan selalu Diragukan" Tawa ya kemudian terhenti Dan berganti dengan wajah serius "Anggap saja ini permintaan teman baikmu" Maria merapat kan kedua bibirnya Dan berlalu menuju kamar mandi.
Gemericik air segera terdengar dari arahnya. Pasti sangat lelah menghadapi banyak hal dalam waktu bersamaan, pantas saja dia menjadi kurang berperasaan. Karena seperti yang dia katakan, tidak ada waktu.
Maria keluar dengan aroma mawar seperti biasa, wajahnya yang lelah sudah mulai nampak lebih segar.
"Benar kamu sudah mencintaiku?" Aku menagih kata yang belum usai kami bahas tadi.
"Kamu sudah tahu aku tidak suka mengulang ucapanku" Maria melewati ku begitu saja menuju lemari untuk memilih pakaiannya.
"Tapi kata cinta itu Bisa di ulang beribu kali, kalau kamu sungguh - sungguh"
"Apa Fungsinya mengulangi kata kepada orang yang sulit mendengar, kalau cinta ya cinta saja"
"Aku hampir tidak percaya kalau kamu itu wanita?"
"Aku sudah pernah melahirkan, sudah pasti aku wanita"
"Berarti kamu lebih menyukai tindakan?"
Maria hanya mengangguk, "Tidak buruk"
"Aku mau warna maroonn" Aku menunjuk Pada lingerie berwarna maroon Di gantungan baju. "Aku memilih untuk bertindak"
"Besok masih hari yang sibuk?"
"Aku butuh vitamin" Senyumku tertata lebar sambil menunjuk ke arah ranjang yang nampak nyaman. "Aku rasa kamu juga membutuhkannya?"