Sugar Mamy

Sugar Mamy
Menahan diri


Renata menonjok pundakku dengan keras.


" Kamu pasti tahu sesuatu... Atau mungkin Maria selingkuh sama Anthony di Australia?"


Aku mendorong kepala Renata yang semakin mendekat dan mengintimidasi.


"Hey.. Istriku wanita baik - baik, dan bisa kamu check passportnya.. Aku dan Maria lagi kelimpungan ngurusin perusahaan. Nggak ada waktu urusin roman picisan"


" Yakin..???" Renata sekali lagi mendekatkan wajahnya dengan expresi intimidasi yang sama.


"Masak aku harus kasih bukti pertempuan kami tiap hari sama kamu?"


Tubuh Renata tiba - tiba lunglai dan menghela nafas panjang "Maria pasti jago ya... Sampai Anthony susah move on"


Aku hanya tersenyum beku. Aku bingung harus berkata apa pada sepupuku yang malang. Nggak mungkin aku bongkar klo Tania hasil insaminasi kan? Atau mungkinkah aku membongkar soal Rose?


"Hmmm... I don't think so tho.. Better kamu ke konsultasi pernikahan"


"Huh.... Tapi ntar jadi rumor nih.." Renata menekuk wajahnya dalam - dalam. "Aku udah jadi influencer" Bisiknya lirih.


"Hah.... Kamu kurang duit Re..." Aku menyambut penuh kejut.


Buat orang seperti kami, jauh dari sorot media adalah hal yang paling aman. Segala kecerobohan kami bisa menjadi senjata untuk lawan. Bahkan bisa mempemgaruhi harga saham.


"Kamu masih ingat Dito kan? Kamu nggak berteman dengan Melissa kan?"


"Ingat.. Dan No! . Aku nggak berteman dengan Melissa, cuma dia sering tag aku di sosmed"


"Emang kamu pernah hangout ma dia? Kok do tag?"


"Bukan.. Tapi kami ini satu lingkungan pasti pernah ketemu di acara yang sama"


"And you got a viral? "


"Mereka bilang aku ini cantik.. Har.. Trus follower ku membludak"


" Private aja dari awal harusnya"


" Iiih... Kok jadi bahas itu, aku ini konsultasi soal hubunganku sama Anthony, bagaimanapun kita ini orang tua Tania kan?"


Benar juga kata Renata, keharmonisan keluarga Renata juga penting untuk Tania. Tunggu... Tapi ini bisa jadi senjata buat bahan perebutan hak asuh kan?


Sorry Re... Aku harus memanfaatkanmu sedikit.


" So far.... Aku nggak tahu solusinya, kamu datang lagi lain kali. Aku sekarang ada meeting"


"Mau kah kamu menanyakan pada Maria, bagaimana dia bisa membuat Anthony bertekuk di ranjangnya hingga ada Tania?"


Aku mengatupkan sepasang bibirku. Takut leceplosan seperti tadi, masalah sudah pasti akan runyam. Bukan hanya masalah pribadi, tapi...


"Aku usaha kan, tapi aku nggak janjikan akan jadi solusi" hanya itu yang bisa aku sampaikan.


Renata.. Beginikah nasibnya setelah menjadi alat pertukaran bisnis? Tower High bekerja dengan baik, tapi tumbalnya merintih sedih di sudut lain.


*'*'***


"Ini laporan terbaru pak "Adi menyerahkan hasil analisanya tentang perusahaan chemical, dan home equipment yang aku minta.


" Ini sample inovasi product yang Bapak minta dari Ryushu Home Ware "


" Hmm.... Nampak menarik, ternyata cukup menarik dengan warna turquoise "


" Benar pak.. Ternyata bapak juga jeli dalam dunia style"


Aku tertawa Sejenak "Jangan memuji, wajar saja saya bagus dalam dunia style karena terbiasa saja. Lama- lama kamu juga bisa"


"Bukan maksud lancang nih pak" Adi menundukkan kepalanya sedikit "Kalau bisa usai cuti melahirkan. Bu Maria pakai baju yang lebih berwarna agar tidak terkesan serem gitu"


Aku kali ini tak dapat menahan tawaku "ha.. Ha.. Ha..Adi..aku juga merasakan hal yang sama, tapi kamu tahu sendiri kan.. Wanita bukan makhluk yang mudah kita nasehatin?"


Adi meringis menanggapiku.


"Masih ingat kejadian pertama kita bertemu?"


"Ah.... Iya ya."


"Oh OK pak" Adi manggut - manggut.


"Tolong jadwalkan meeting saya dengan Andrew, soal uji klinis Bhio Chemical dan analisa kamu ini" Aku mengamati Sejenak product Ryusu Home Eare "Dan tolong minta Ryusu untuk membuat beberapa product lagi. Setelah itu kamu bagikan pada karyawan yang kost, termasuk kamu. Mungkin juga karyawan yang punya bayi. Kamu collect feedback dari mereka untuk evaluasi kita".


" Baik pak "Adi mencatat perintahku di buku catatan seperti waiter. Memang nampak old style, tapi it's works for him.


" Oh iya.. Apakah laporan Dion telat lagi? "


Adi ragu untuk menjawab yang artinya iya.


" Dion memang teman dekat dan kerabat saya, itu di luar pekerjaan. Untuk pekerjaan dia tetap karyawan, kalau ada kesalahan kamu terus terang saja"


"Tapi... Nanti saya di bilang tukang ngadu"


"Kamu memang di bayar buat ngadu ke saya"


"Nanti Pak Dion musuhin saya pak?"


"Karena itu, kantor kalian aku pisah"


"Ah..!"


" Saya sudah curiga performa Dion akan menurun drastis, karena itu saya meng hire kamu, jadi nggak usah hawatir "


" Oh gitu pak.. "


" Kamu bikin list aja, keluhan kamu soal kerja Dion. Saya nggak akan nyebut nama kamu. Saya akan bilang saya yang menganalisa sendiri. Dion pasti faham dan ga akan ada konflik "


" Baik pak! " Adi tersenyum lega dan pamit untuk kembali bekerja.


Dion.. Dion! Aku sudah tahu bagaimana pesona Elena untuk lelaki sepertimu. Pasti posisimu akan sulit saat ini.


**'*'****


Elena memandangi alat test pack nya sekali lagi fan untuk ke sekian kali dia menendang tempat sampah di sudut toilet. Dion mulai terbiasa dengan kebisingan istri cantiknya itu yang juga menjadi kekhawatirannya sendiri.


"Aku yakin aku tidak mandul" Elena langsung mengomel ketika memasuki kamar.


"Aku setuju, kamu harus lebih relax dan tenang agar prosesnya lebih kondusif"


Elena menghirup udara di luar jendela dalam - dalam " Apa kamu Sungguh tidak memakai Pengaman Yon"


"Kamu lihat sendiri"


Dion mendengus kesal, obsesi Elena yang ingin segera memiliki anak. Membuatnya mulai frustasi. Dia tidak menyangka bahwa targetnya cukup singkat.


"Look..!! Kamu sudah cukup lama mengkosumsi pil kontrasepsi sebelum kita menikah, jadi tentu butuh waktu agar alat reproduksi berkembang.. Jadi sabar ya"


"Kamu juga jangan terlalu sibuk dong!!" Elena mulai merengek manja. Sepasang mata dan jemarinya mulai menggoda Dion. "Mungkin kita perlu lebih intense"


"Aku sudah sering telat sejak kita menikah, aku tidak mau jadi badut di perusahaan"


"Tapi kamu sekarang adalah bagian dari keluarga bos kamu, si Harry.. Dan lagi pula kamu itu pamannya"


"Karena itu aku harus bisa memberi contoh lebih baik bukan?"


"Huh... Kamu benar - benar kuno! Aku pikir kamu menyenangkan"


Dion mulai pusing, jelas - jelas dia tidak kuno. Hanya Elena yang ke kanak - kanakan. Harusnya dia mendengar kan ucapan Harry. Selama bertahun - tahun dia dan Elena bersama Kenapa baru mengusulkan menikah dan punya anak. Dan nama Harry selalu menjadi topik yang sulit di singkirkannya dari Mulut Elena.


"Sorry.. Aku harus pergi kerja sekarang" Dion melangkah meninggalkan Elena


"Apakah uangku nggak cukup buat kamu?"


Dion mulai menarik nafas dalam - dalam "Aku manusia bukan hewan, aku perlu bekerja bukan cuma di kasih makan"


"Bukankah semua orang bekerja untuk merasa kenyang"


Dion kembali memutar tubuhnya, menatap kembali wanita cantik yang masih terbalut baju sexy sisa semalam..


"Kami juga butuh kecerdasan dan kewarasan yang butuh dipelihara dan diberi makan . Dan makananya adalah bekerja" Dion memejamkan matanya mencoba menghindari nafsunya yang bisa saja ingin menerkam tubuh Elena saat ini " Sorry, I have to go" Dion segera kembali memutar tubuhnya dan meninggalkan Elena sendiri.