
Maria mengetahui Sebagian besar dari rencanaku, tapi tujuan utamanya lebih dari itu. Aku akan menagih janji Maria di saat yang tepat.
Saat itu aku tidak hanya menerima secara cuma - cuma, tapi aku bisa membayarnya dengan harga yang pantas. Aku tidak yakin secara utuh bahwa Maria akan mampu berdiri terus menerus dengan serangan yang bertubi - tubi.
Mungkin orang lain berfikir aku tidak Bisa berkorban untuk Maria. Tidak, aku tidak akan melepaskan Maria, itu bukan solusi. Aku tidak akan menyerah.
"Maria belum membicarakan soal ini" Mas. Aryo menanggapi tujuanku hari ini menemuinya.
"Perusahaan atas namaku dan milikku, untuk sementara begitu" Aku menjelaskannya.
"Kamu mulai berani melangkah"
"Mas. Aryo bisa mulai diskusikan dengan Maria soal ini, mungkin bisa menghasilkan cara pandang yang cukup luas untukku nantinya"
"Apakah kamu cukup piawai?"
Aku tertawa kecil, "Aku belum yakin pasti sampai mencoba ya secara total, tapi menghabiskan banyak waktuku untuk berinvestasi saat aku hidup di luar negeri. Karena Papi membuatku sibuk untuk melakukan banyak hal," Aku mencondong kan tubuhku sedikit mendekat "Itu satu - satunya caraku menghasilkan uang secara rahasia"
"Untuk berenang-senang?" mas. Aryo menebak secara tepat.
"I was a Boy... Dan that's a life"
"Kamu tidak tertarik kembali? "
"Enough, aku baru sadar itu hanya merusak diriku sendiri. Andai saja aku bisa menahan diri mungkin aku akan hidup lebih damai seperti om Jonathan"
Mas. Aryo mengerutkan keningnya.
"Dia tampan Dan tidak popular Di kalangan wanita, karena dia lebih sibuk bekerja dari Pada bersosialisasi sepertiku"
Aku menarik nafas panjang "Jadi dia tidak perlu mengalami kejaran maut perempuan seperti Melissa yang masih sulit untuk aku selesaikan"
"Aaah... Aku mulai mengerti"
"Tapi aku tidak menyesal, mungkin ini takdir agar aku bertemu dengan Maria" lanjutku jujur "I really appreciate your help for this" Aku menepuk map coklat yang aku letakkan Di mejaku.
"Sebagai teman Maria, aku sangat berharap padamu bahwa ini tidak akan menyakitinya" Mas. Aryo melambaikan amplop coklat yang sudah di tangannya. "Menyelesaikan masalah yang seperti ini terkadang sangat memusingkan, dan aku rasa Maria tidak layak mendapatkannya dua kali"
Ah.. Tentu saja mas. Aryo tahu tentang kasus Anthony. Semua urusan legal Maria ditangani oleh team hukum mas. Aryo.
"Aku jamin aku tidak serendah itu, buat ku kekayaan hanya untuk mendapatkan kedamaian bukan Di kumpul kan"
Mas. Aryo masih terdiam, seolah sedang memikirkan sesuatu.
Aku menarik nafas panjang, mungkin mas. Aryo butuh bantuan untuk men verified perkataanku.
"Aku pewaris tunggal Tower High, dan Sebagian besar anak perusahaan ya yang meliputi Sebagian besar jenis usaha, aku juga putra tunggal dari ibuku yang tentu mewarisi ke kayaan kakekku serta nenekku. Dan..." yang satu inj aku malas mengungkapkan "Jika aku menerima perdamaian dengan keluargaku dan menerima pernikahan yang di tawarkan, kekayaanku bertambah hampir 40%, dan pasti akan masih berkembang pesat Apabila ayah Melissa terpilih menjadi orang nomor satu"
Mas. Aryo membuka Mulutnya perlahan, nampaknya dia mulai menemukan angka - angka yang lumayan fantastis tentang perhitunganku.
Aku menggeleng pasti, meyakinkan mas. Aryo sekali lagi bahwa aku bukan lelaki yang sama ketika bertemu dengannya di masa - masa awal pertemuan kami.
"Aku sedang mempertahankan apa yang aku miliki bersama Maria" Aku mengangguk mantap dan merapikan dudukku dengan rasa puas. I am not cheap.
"Sorry... Aku cuma sedikit trauma dengan apa yang terjadi sebelumnya" Mas. Aryo menundukkan kepalanya dengan serius ke arahku pertanda keseriusannya "Aku pastikan semua akan berjalan lancar"
"Terimakasih Mas"
Aku segera meninggalkan mas. Aryo sebelum nilai wibawaku turun. Berlagak penuh kharisma bukan hal yang mudah ternyata, Entah mengapa Maria Bisa melakukannya sepanjang waktu, bahkan ketika Di rumah.
*****
"Sudah pulang?" Maria menyapaku dengan ramah ketika aku sudah memasuki halaman belakang. "Mau mandi dulu atau mau makan dulu?" Maria berdiri dengan susah payah dari posisi Yoga untuk ibu hamil.
"Aku Di sini saja" Aku menepuk tempat duduk Di sebelah ku. "Kamu nggak lelah?" tanyaku ketika Maria mulai mengambil duduk Di sebelah ku.
"Pertanyaan apa itu? Harusnya itu pertanyaanku padamu, bukan sebaliknya"
Aku mengangguk "Berarti kamu tidak sedang lelah?"
Aku meraih Tangan Maria Dan mencuri pandangannya.
"Aku belum mandi" Maria mulai mengerti maksudku.
"Kita impas"
"Tapi bau keringat kan?"
"Apakah kamu tidak ingin mencium keringat suamimu dari mencari nafkah"
Maria tertawa " Apakah bau keringatnya akan berbeda"
"Aku belum tahu" Jawabku membalas tawanya. "Bagaimana kalau kamu memberi tahuku" Aku mulai melepaskan jas Dan kemejaku serta menarik wajahnya yang chubby ke arah Ketiak ku.
"Aku sudah bengkak.. Di sini tidak akan cukup" Protest Maria sambil berusaha menahan nafasnya.
"Kita ketempat yang lebih besar kalau begitu" Aku menarik lengan Maria menuju kamar kami untuk melanjutkan Sesi yang lebih serius antara keluarga. "Bukankah si kecil juga kangen sama ayahnya?" lanjutku saat kamu sudah di atas ranjang.
"Aku harap dia tidak se gatel kamu nanti ya" Gerutu Maria.
"hmmm lebih baik aku menanyakannya secara langsung"
"Eiits...." Maria mendorongku Sejenak "Pelan - Pelan, aku tidak sekuat biasanya"
"Siap Boss!!"
*****