Sugar Mamy

Sugar Mamy
Cemburu


"It works kan?" Pamerku Pada Maria. Aku tahu Mami pasti tidak akan tahan.


Tapi sayangnya Mami cukup pintar dari kelihatannya.


Seorang tamu yang tak kami sangka Dan harapkan juga hadir. Siapa lagi, kalau bukan calon menantu idaman lain alias Luna. Perempuan cantik itu ternyata masih berminat denganku.


Apakah Sungguh dia menginginkanku? Bukankah kami memiliki kesempatan panjang Di masa lalu. But Sorry, kehidupanku bukan Taman Kota yang bisa disinggahin kapan saja.


"Long time not see.. Cheff." Sapa ku Pada cheff Kevin.


"nice to meet you Har" malah Luna yang jawab. "Silahkan duduk Mar" Lanjutnya mempersilahkan Maria pada Pada kursi yang sedang di tarik ya.


Tanpa sepatah katapun Maria mengangguk Dan menerima tawaran itu.


"Harry?" Luna melakukan hal yang sama untukku dengan kursi Di sebelah Maria.


Apakah hanya aku saja yang buruk sangka?


Sepertinya tidak, setelah ternyata Luna mengambil duduk Di sisi ku yang lain.


"Sebenarnya, kalian cukup serasi" Mami tanpa Malu mengomentari.


"Maaf, aku tadi hanya mampir untuk diskusi rencana kami ke beauty center besok. Tapi Mami memintaku untuk tinggal" Wajah malaikat luna merekah sangat Anggun.


Secara naluriah aku tergoda, terutama dengan balutan dress yang cukup menunjukkan aset sexualitasnya yang cukup menjanjikan.


Sejenak aku menelan salivaku kasar, ketika Bisa melihat jelas tattoo kecil Di bagian dada kiri ya yang berinisialkan nama kami berdua.


"Supaya Topik kita malam ini juga lebih berwarna bukan?" Mami menimpali dengan gembira.


Di bawah meja jemariku segera menggenggam Tangan Maria, memastikan bahwa aku masih bersamanya. Namun Maria tak bereaksi banyak.


Dia hanya menikmati hidangan dengan gaya statisnya. Tak sekalipun dia menyela meski sindiran ketidak layakannya Di sisi ku tersirat menjadi Topik utama. Kalau aku sudah pasti emosi.


"ehem... Sebenarnya, saya sangat ingin menunggu hingga hidangan penutup Di sajikan. Namun sayangnya ada urusan pekerjaan yang cukup darurat" Ahirnya suara Maria terdengar juga. "Silahkan Di terus kan, saya Mohon diri"


"Ah... Kami satu perusahaan" Timpalku ketika Maria mulai meninggalkan tempat duduknya.


Tanpa menoleh sedikit pun, Maria terus berjalan menuju pintu utama.


Aku segera mempercepat langkah ku mendahuluinya. "Aku bersama u Mar" Ucapku ketika membantunya membuka kan pintu ".


Maria hanya tersenyum simpul Dan terus berjalan.


" Kita pulang bersama "Lanjutku yang kemudian meraih lengannya.


" Kamu tidak baik - baik saja? "


" Aku... "Maria memandangku Sejenak" Sangat memahami bahwa ibumu tidak salah "Maria kemudian menunduk.


" Kenapa kamu mendengarkan Mami? Seharusnya.. "


" Kamu bersamanya"Potong Maria. "Kamu menyukai Luna"


Deg... Lelaki klo di kasih barang empuk pasti radarnya bergerak otomatis. Pasti Maria menangkap ke mana arah mataku Beberapa kali.


"Aku juga pejantan dari spesiesku" Aku membela diri "Bukan berarti aku mau"


"Yeah... Dan Aku cemburu" Maria mengakui perasaannya begitu saja dengan wajah besinya.


"Wow... Ah... Bagian mana?" Ada rasa hawatir Dan bahagia datang bersamaan. Serta sedikit rasa seram, mengingat bagaimana cara dia menyampaikan.


"Kamu tidak pernah melihatku seperti itu"


"Kamu tidak pernah memakai gaun seperti itu"


Kami Saling menatap Sejenak. Dan sesaat Maria mendengus kesal.


"Aku tidak akan mengobral harga diriku hanya untuk pejantan"


"Great!!"


Bahkan saat seperti ini Maria tidak ingin turun harga. Wanita lain mungkin akan melakukan hal Sebaiknya.


Maria mengembalikan pandangannya lurus kedepan. "Kita pulang!!"


"OK..." Aku langsung menginjak gas Dan membelah lalu Lintas malam.


Aku berharap Maria mengeluarkan kata - kata lagi setelah ini. Namun dia hanya diam hingga..


"Kamu cemburu Mar?" aku menggenggam pangkal lengannya ketika kami baru memasuki ruang.


Maria hanya mengangguk, meski langkahnya yang tidak berhenti. Hingga aku terpaksa menariknya sedikit lebih keras, hingga tubuhnya Kini menghadapku.


"Kamu marah"


"Aku hanya tidak ingin membahas" Maria menghela nafas Panjang. Maria melepaskan tangannya Dan melanjutkan langkahnya menuju kamar Yodha.


"Sssst.. Yodha sudah tidur" Maria menutup pelan pintu yang baru dibukanya.


Entah mengapa aku jadi jengkel dan kembali menggenggam pangkal lengan Maria.


"Aku tidak suka Tattonya" desis Maria "Dan aku lebih benci ketika kamu menatap nya"


"Just the past"


"Tapi pasti kamu flashback ketika kamu menikmati miliknya kan?"


"Hanya itu yang kamu pikirkan sepanjang makan malam"


Maria menggeleng "Aku menunggu kamu tegas mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah pelecehan Pada hakku sebagai istri"


Maria benar.


"Aku sudah membelamu cukup banyak"


"Aku tidak perlu di bela ketika ibumu pamer, karena itu hanya. Kamu membayar mahal suatu barang, karena prestige yang di dapat selain kualitas. Itu normal"


Maria berhasil membuat lidahku kelu.


"Ada hatimu yang masih untuknya? Hingga kamu tidak bisa menghentikan nafsumu untuk tetap duduk Di sisinya dengan hidangan ke sexiannya?" Maria memukulku dengan pertanyaan yang benar.


Maria melepaskan tangannya Dan segera menghambur ke kamar kami.


Maria Sungguh tidak mengerti soal pria.


Aku menyusul langkahnya dengan segera, sebelum dia menutup pintu.


" Look... " Aku segera mengambil posisi menghadang "Ketika kamu melihat film, romantics atau vulgar. Kita menyukai melihat pemain Dan aksinya. Tapi hanya sebatas itu"


"Tapi mereka tidak bercinta denganmu" Maria melibatkan lengannya.


"OK... Katakan aku salah, tapi kamu juga tidak benar"


"Aku..? Kenapa justru Aku"


"Pernahkah kamu mengobral dirimu untukku?"


Maria mengurai tangannya. Sejenak kedua maniknya tertutup, dan dia segera beranjak setelah bernafas kasar.


"Aku tidak salah bukan?"


Aku mengejar Maria memasuki walking closet kami.


"Aku Sungguh tidak Cocok untuk itu" Ucapnya ketika menyadari kehadiranku.


Nada suaranya sedikit lemah. "Aku tidak memiliki simbol sexualitas yang menggoda, hasilnya tidak akan sama" Maria melanjutkan memilih baju tidurnya.


"Tentu saja tidak"


"Dan tidak akan lebih baik dari reaksimu hari ini" Maria menggumam Dan mendengus bersamaan "Hasratmu padaku bukan sebagai pejantan, tapi sebagai Alpha. Kamu tidak pernah memandangku sebagai betina, tapi Betha"


Maria tidak salah. Tapi mungkin hanya karena belum pernah di coba "Bagaimana kamu tahu tanpa memulainya"


"Just my feeling" Maria meraih Piyama maroon.


"Kenapa tidak memulai dengan ini" Aku meraih camisol berwarna nude.


"Huh... Aku tidak akan membiarkanmu membayangkan wanita lain dalam diriku"


Oh God.. Bagaimana aku bisa lupa, bahwa gaun Luna berwarna nude. Maria melewatiku dengan langkah yang cepat.


Aku kembali mengamati koleksi baju maria Sejenak, yang rata - rata...


"Yup..!!" Aku meraih satu set lingery yang aku beli saat malam pertama kami. "Pakailah ini malam ini Dan pilih lah sejenis ini saat kamu tidur denganku" Aku memaksa Tangan Maria untuk menggenggamnya.


"Pastikan aku bisa melihat Sebagian besar tubuhmu tanpa harus meminta, meski aku tidak menyentuhmu" Bisikku selanjutnya.


Maria meremas lingerie Di tangannya Dan mendengus kesal atau setuju.


"Mandi?" tawarku ketika aku sudah di ambang pintu kamar mandi.


Maria masih menatapku sambil mengatupkan sepasang bibirnya.


"Aku lebih menyukaimu polos, kita Bisa mulai dari ini"


Sepasang kaki Maria menghampiri secara perlahan.


Aku melepas kemejaku Dan menariknya dalam kungkunganku "Tidak ada wanita yang menatapku seperti itu, semuanya akan minta aku tiduri bila dalam posisimu seperti ini"


"Karena mereka hanya melihatmu sebagai pejantan bukan pria" Maria membalas ucapanku tanpa berkedip.