Sugar Mamy

Sugar Mamy
Bromate


Benar juga dugaanku, sederet nomor telpon keluarga besarku mulai berderet Di panggil an tak terjawab. Gossip memang cepat tersebar. Sebegini rumitkah hidup ketika kita lari dari tanggung jawab sebagai tumbal keluarga?


Aku mulai memijit pelipisku perlahan, berharap rasa penat Di otakku akan sedikit memudar.


Ah Dion....! Wajah pemuda yang berstatus sahabat sekaligus sekertarisku itu, juga segera muncul di ruanganku.


"Kok nggak ngetuk pintu?"


"Udah.. Tapi kamu itu nggak dengar" Jawab Dion tegas "Aku takut kamu Kenapa - Kenapa karena pemberitaan soal Papimu yang sudah mulai muncul"


"Kalau dia benar, pasti dia akan bebas kalau memang salah dia juga harus menebusnya" Aku menatap Dion Sejenak, mencoba mempertimbangkan apakah aku masih Bisa mempercayainya "Tapi yang bermasalah adalah Kenapa aku yang di salah kan?"


"Kok Bisa?" tanggapan Dion sudah benar, hanya expresinya yang kurang terkejut.


Perkiraanku, Dion cukup memahami konflik dalam keluargaku. Tapi aku tidak ada bukti pasti, ataupun petunjuk ke arah dugaanku. Aku juga tidak punya cukup waktu untuk mencari tahu, terlalu banyak hal yang harus aku selesaikan sebagai wakil Maria dalam situasi perusahaan saat ini.


"Takdir Yon!!" Ahirnya aku menjawab sekenanya.


"Kira - kira perusahaan kita kena audit nggak ya? Kamu kan anaknya Dan satu - satunya anak Papi kamu"


Penaku yang tadinya sedang sibuk memberi catatan Pada laporan pekerjaan, mendadak terhenti. Apa yang di katakan Dion tidak salah. Aah... Tapi aku mendapatkan semua itu tanpa uang Papi sepeserpun. Kalau soal perusahaan, harusnya aman. Semua uang yang kami terima adalah harga wajar dari barang atau jasa yang kami perjual belikan.


"Aku yakin kita aman, hanya saja mungkin kita Akan melalui beberapa process" Jawabku menenangkan.


Kantor polisi lagi, dan pengadilan lagi. Uhf... Aku jadi pengen liburan. Bukan hanya pergi ke tempat indah tapi juga lepas dari semua obrolan yang memusingkan.


"Kamu ada acara hari ini?" mungkin Dion bukan orang yang tepat. Tapi, dia saat ini satu - satunya teman yang bisa aku ajak ngobrol dengan topik yang relax. Mungkin soal bola, atau sekedar membicarakan hal remeh lainnya.


"selepas jam tujuh aku ada acara, tapi sebelum itu aku bebas"


"Kita pergi abis makan siang aja, pekerjaan kamu masih Bisa di tunda kan?"


"Bisa sih, tapi besok jadi lembur dong?" protes Dion dengan senyum menyeringai.


"Aku masih sanggup bayar uang lembut kamu, don't worry!!?"


Dion mengangguk "OK!!.. Setuju! Asal kamu yang traktir ya.."


"Beres.."


Tepat usai makan siang aku dan Dion sepakat meluncur ke club tempat kami biasa nongkrong Pada masa lalu.


"Kalau ketemu anak - anak gimana?" geritu Dion yang mulai menyadari klo kami butuh amunisi mental lebih kalau nongkrong Di sini.


"nggak usah Di tanggepin... Aku kangen menu steak frites Di sini" meski aku juga khawatir, tapi Sungguh menyedihkan rasanya membatasi ruang gerak kita padahal kita tidak berbuat salah. "Kita ke sini juga bayar, kartu member kamu masih Berlaku kan?"


"Masih sih..!" Diyon mengeluarkan kartu member clubnya yang Kini sudah berubah jadi platinum.


"Kamu masih sering main ke sini?" Aku mulai sulit menahan penasaranku.


"Kamu tahu sendiri, aku ini lebih banyak Di kantor"Dion membela diri dengan cepat" Hanya saja tiga bulan terahir ada tmn yang Rajin pinjem "


" Ooh...!? "meski masih penasaran aku langsung menyetujuinya saja. Karena tujuan utamaku adalah relax.


Hanya dalam tiga bulan kartu bronze Dion berubah jadi platinum. Teman Dion pasti cukup kaya, lebih kaya dari Maria dong. Pergaulan Dion memang rupanya cukup mentereng.


"Kamu pesan apa?"


"Sama kayak kamu, aku pikir - pikir aku juga kangen menu itu"


"OK... Steak frites dua, mix Tea satu.." Aku melirik Dion.


"mix Berry satu" timpalnya.


Waiters langsung mengangguk Dan beranjak setelah dia mengulang pesanan kami.


"Kamu juga mulai non alcohol?"


"Aku masih ada acara nanti.. Jadi pengen lebih konsen"


"Siapa sih? Pacar?" godaku yang menebak random.


"temen.. Dia baru pulang dari luar negeri jadi minta Di temani keliling - keliling"


"Oh..."


"Bagaimana sih rasanya nikah sama yang lebih tua Har..? Penasaran"


"sama aja, sama - sama wanita" Aku menyambut menu yang sudah datang ke meja kami "hanya saja hidup kita jadi lebih teratur, lebih banyak urus masa depan"


"sampe masa sekarang nggak Di urus?" Dion tertawa me ledek.


"sorry.. Aku jadi jarang nongkrong sama kamu, abis nikah masalahku banyak.. Kamu tahu sendiri"


"Iya faham... Nasib orang ganteng" ledek Dion


Aku tertawa kering.


"Aku baru sadar. Ternyata ketampanan nggak cuma gampang ngundang cewek tapi juga ngundang masalah" Aku menimpali dengan kenyataan yang ada. "Rasa steak nya masih enak kayak dulu"


"nyesel aku.... Karena sempat vegetarian ternyata omnivora lebih yahuud"


"oh iya.. Kamu sempat vegetarian selama setahun kan? Kenapa itu.. Udah bosan hidup?"


Dion terkekeh "Lagi kena syndrome perempuan, suka otak atik life style" Dion melahap suapan kedua dari steaknya. "Maria bukan vegetarian?"


Dion manggut - manggut "Katanya nggak semua tubuh Cocok buat vegetarian"


"Entahlah, terkadang hidup cewek buat makan aja rewel banget"


Aku dan Dion serempak tertawa. Kami menyadari hidup kami jauh lebih mudah untuk urusan makan, karena prinsip kami. Enak!! Kami makan.


"Kamu jomblo kayaknya lama banget nih Yon!"


"Iya nih.."


"nggak pengen nikah? Nggak buruk kok.. Malah lebih tertata" Aku menerawang Sejenak soal pernikahanku "baju ada yang siapin, sarapan selalu sedia nggak pernah telat..." aku mengunyah daging Di mulutku Sejenak.


"Ranjang?" celetukku Dion dengan senyum penuh penasaran.


"Udah pasti hangat dong... Kamu sudah lihat hasilnya kan?" candaku.


"Tapi bu. Maria itu kalau Di rumah sama nggak sama di kantor?"


"Nggak jauh beda, hanya saja dia kan istri untuk urusan beberapa hal tentu berubah" Aku mulai biasa berbohong. Rasanya nik at juga.


"Aku lagi kepikiran buat nikah sama yang lebih tua aja Har!"


"Ha...??" aku langsung terkejut.


Kasus pernikahanku adalah karena kondisi, meski ahirnya tidak aku sesali. Tapi, menikah dengan yang lebih berumur dari kita tidaklah mudah bagi laki - laki. Menekan ego Dan menerima kenyataan bahwa istri kita lebih superior itu cukup menguras hati, raga Dan pikiran.


"Kamu masih wacana kan? Saranku nih.." aku meneguk mixtea "di pikirin lagi dulu.. Wanita itu pinternya cepet, kalau dia lebih tua dari kita pasti lebih pinter"


"Iya juga sih... Jadi kita yang kelihatan bodoh gitu?"


Aku mengangguk pasti.


"Nah.. Kamu sama bu. Maria?"


"Bedanya Maria itu pengusaha, sudah biasa urusin orang. Jadi, dia lebih luwes menghadapi aku makanya kami baik - baik saja sejauh ini" Bohongku sekali lagi.


"Kira - kira kalau perempuannya yang tipe Princess gitu, gimana ya?" Dion memandang ke arah jendela lepas.


"Kamu udah punya target yon?" aku menebak kasar.


"Aku sedang menentukan target" sanggahnya.


"temen kamu yang nanti malam itu?" aku memicingkan mata penuh curiga.


"Bisa jadi, kami sudah berteman lama.. Siapa tahu saja" Dion menyeringai lebar.


"Kamu masih kurang kaya? Atau memang dia cukup menarik?"


"Dia cantik Har..?" mata Dion langsung berbinar "Bodinya kayak guitar spanyol, kulitnya udah kayak porselen, matanya bulat, indah Dan manis kayak caramel" Dion memejamkan matanya seolah sedang mbayangkan wanita itu dalam bentuk yang...


"Udah berapa lama kenal?"


"udah hampir 10 tahun" Dion memasukkan potongan daging lagi ke dalam Mulutnya.


"Kalau dekat?"


"mungkin empat tahun" Dion masih asik mengunyah steaknya.


"Kalau ranjang?"


"Mungkin 2 atau tiga tahun terahir.. Ups..!" Dion menelan kasar daging Di Mulutnya Dan membeku menatapku.


"Kenapa nggak Di kenal in ke aku.. Katanya kita temen. Curang..!"


"Kamu juga.. Tahu - tahu nikah ma bu. Maria, masa pacaran kalian juga aku tidak tahu"


Dion benar juga, tapi aku sama bu. Maria nggak pacaran. Bu. Maria langsung menembakku Di tempat.


"Iya.. Iya.." aku mengalah begitu saja. "kamu pakai pelet apa, sampai Bisa dapat tangakapan bagus gitu" candaku.


"buat ku.. Perempuan untuk beberapa fase, cukup perlu teman Dan pendengar yang baik" Dion menarik nafas panjang "Aku cuma punya itu"


"Kamu juga tidak jelek" Aku membela fisik Dion yang memang cukup nyaman Di lihat.


"Terimakasih, karena kamu aku bersyukur aku tidak tampan" Tawa kami berderai,


Waktu berjalan cepat dalam obrolan ringan antara dua teman.


"Balik yuk.. Aku mau jemput Maria buat ke dokter.. Maklum udah mulai fase husband Hood"


"OK... OK... Ingat besok aku lembur, siapin budgetnya"


"Beres.. Jangan lupa kenalin calon princess kamu itu"


"Nanti juga kenal.. Kalau udah pasti aja, kayak kamu sama bu. Maria"


"Maksudnya?"


"Kamu baru kasih tahu kalau sudah mau menikah kan?" Dion menyeringai "biar impas kita"


Aku hanya tersenyum tak Bisa berkutik. Karena aku juga tak mungkin menjelaskan kondisiku Sebenarnya.