Sugar Mamy

Sugar Mamy
Obsesi


Tidak ada hujan atau angin, Elena tiba - tiba menghubungiku. Dia ingin mengatur pertemuan denganku, bukankah sebaiknya dia menikmati pertambahan bulan madunya dengan Dion? dari pada mencari gara - gara denganku.


"Kamu tak yakin Elena menemuimu dengan damai?"


"Hal itu tidak pernah terjadi sejak kami kecil, Elena selalu menginginkan milikku" Aku nyengir sejenak " Dia memang seperti itu, aku hanya penasaran apa yang dia ingin kan saat ini"


"Apakah alasan itu yang membuatmu marah ketika melihat Dion dengan Elena?"


"Kurang lebih"


Maria menghampiriku dengan sarapan yang di namainya breakfast bowl.


"Kamu lagi mulai berdiet? "


"Aku sedang memikirkannya, mungkin setelah Yodha usia Enam bulan" Maria memutar - mutar garpunya di antara salad dan yoghurt.


"Ada yang menganggu pikiranmu?"


"Tania..."


"Aku menarik nafas dalam, kita selesaikan setelah semua berangsur pulih " Aku menelan potongan poach egg yang sudah berada di sendokku "Mungkin kita akan mendapatkan celah yang bagus"


"Kenapa harus sibuk mencari celah, perbaiki saja yang ada"


"Soal fitnah perselingkuhan kita di persidangan itu agak sulit" Aku dan Maria sama - sama membuang nafas panjang."Aku baru sadar ternyata kita cukup sering bertemu di masa lalu"


"Aku sudah bilang bukan?"


"Jadi kamu sudah naksir aku waktu itu?"


Maria menggeleng "Kamu masih berfikir di sana setelah semuanya?"


Aku tertawa kecil, kenyataannya Maria hanya melihatku sebagai anak ingusan.


"Jelaskan aku soal celah yang kamu maksud"


"Hanya tentang Anthony dan Renata"


"Mereka berencana Bercerai?"


"Belum se extreem itu.... tapi cukup memungkinkan"


"Bagaimana mungkin, Anthony memberikan dampak sangat positif di kala Papimu terlibat kasus"


"Aku rasa kamu sudah sangat memahami alasannya, kita lihat seberapa lama Renata bisa bertahan"


Sepasang manik Maria membulat. "Lagi???"


Aku mengangguk yakin dengan pernyataanku "Dia benar - benar lelaki tampan yang tidak produktive" Keluhku dengan meneguk kopiku yang sudah tinggal setengah cangkir. "Dia Sungguh tidak pantas merendahkanku, lihat saja aku pasti bisa memukulnya mundur"


" Jangan terobsesi mengarahkan seseorang, tidak akan ada positifnya untukmu"


" Aku tidak sepaham" Kali ini aku sudah sedikit naik level darinperdebatan - perdebatan sebelumnya.


"Dengan obsesi, kamu akan tersiksa dalam setiap processnya. Lebih baik kita fokus bahwa menjadi lebih baik adalah hobby, so we will be fun " Maria menaikkan sepasang alisnya dengan senyum classicnya.


Ya.. Ya.. Kenyataan bahwa Maria lebih dewasa, adalah hal yang selalu harus aku terima pada ahirnya.


*****


"Dewasa?" Elena mempertanyaan, pertanyaan Dion tentang kedewasaannya menghadapi masalah."Dewasa seperti apa dalam definisi kamu, aku lebih berpengalaman soal hidupku dan aku tahu cara menjalani hidupku"


"Aku tak mengajarimu bagaimana menjalani hidup" Dion mencoba untuk ke sekian kalinya meminta Elena bersabar "Namun obsesi memiliki anak ini, menjadikan pernikahan kita cukup tersiksa"


"Aku membayarmu bukan untuk mengomentari hidupku atau membeli nasihatmu" Elena menegaskan posisi Dion untuk pertama kalinya.


"Dan aku menerimanya karena ingin menyisakan harga dirimu dan bukan karena aku butuh" Dion mulai susah menahan dirinya "Beri tahu aku dengan jelas, Kenapa harus memiliki anak dalam pernikahan kita? Kenapa tidak dengan pernikahanmu sebelumnya?"


"Kenapa harus anak laki - laki?" Dion mngacuhkan dugaan Elena.


" Karena itu penting buatku"


"Tapi apakah kamu tidak menanyakan apakah juga penting buatku, ataukah penting buat anak itu nanti? dan apakah dengan kondisi kita sekarang, kita layak memiliki anak? "


"Hah... Aku punya segalanya Yon!!"


"Apakah kamu pernah memiliki cinta untuk anak itu? Selain kepentinganmu dengan kehadirannya nanti?"


Elena hanya menggetarkan bibirnya menahan alasan yang tak bisa ditemukan di sudut hatinya.


"Aku lebih mencintaimu saat seperti pertemuan - pertemuan kita sebelumnya. Obsesi ini sungguh baru untukku, dan aku sulit merasakan bahwa ini benar"


"Apa pedulimu benar atau tidak? Memiliki anak itu tidak berdosa?"


Dion mengamati Elena yang selalu tidak pernah santai sejak pernikahan mereka terjadi "Apa karena kamu..."


"Berhentilah berbicara, andaikan kamu tahu banyak simpanlah hal itu dihatimu" Elena mengambil kunci mobil di meja console. " Kamu tidak akan pernah mengerti rasanya hidup sepertiku" Elena memilih melangkah meninggalkan Dion begitu saja.


Dia butuh berkeliling untuk mengosongkan pikiran. Di usianya yang sudah tidak muda dia semakin menyadari bahwa semua harta itu adalah sampah tanpa memiliki harga diri. Kalau bukan karena persetujuan ibunya yang konyol, dia tidak akan pernah berahir seperti ini. Sekilas dia mulai memandangi paras rupawannya yang terpantul dari kaca spion mobil sport miliknya.


Elena hanya meringis, menyadari bahwa Kecantikan inipun akan berahir pada waktunya. Semua kata - kata manis yang selalu di dengarnya juga akan berganti menjadi kata yang tajam seperti parasite atau anak haram. Paling tidak saat ini, mereka masih bisa menjadi pengagum Kecantikannya dan harta yang dimilikinya. Mungkin saja Dion juga menjadi di antaranya.


****'


"Kamu menemuiku hanya untuk iseng?" Aku menyambut Elena yang dengan sombong mengibaskan rambut indahnya setelah kata " Iseng" Diungkapkannya sebagai alasan menganggu jadwalku hari ini.


"Aku bukan pengangguran sepertimu Elena" Keluhku "Aku tidak akan tetap memiliki uang hanya dengan melakukan hal yang tidak berguna sepertimu"


"Kamu tidak pernah berfikir kembali kepada orang tuamu kan?"


"Kamu tidak berhak menanyakan itu"


"Secara technique aku masih tantemu, aku akan menjadi pewaris otomatis dari ibumu andai saja kamu lenyap"


"Hanya itu?" Aku meragukan alasan yang baru keluar dari mulutnya " Bisa kah kamu memberi lebih detail tentang obsesi dalam kebencianmu padaku sejak kita tumbuh dalam garis keturunan yang terhubung"


"Andaikan aku mengatakannya, kamu juga tidak akan mengerti dan hanya menganggapku konyol"


"Setidaknya aku pernah mendengar, dan mungkin suatu saat aku mungkin mulai mempertimbangan bahwa itu adalah hal yang ternyata cukup serius"


Elena menggeleng, "Aku belum tertarik, tapi yang jelas jangan mencampuri urusanku dan Dion"


"Sorry to cut! Aku peringatkan, jangan merusak Dion"


"Huh... Dia yang berenang atas keinginannya sendiri, jadi dia akan sulit menghindari arus yang sudah ada, bukan hanya terpikat pada keindahan semata"


"Kamu tidak mempercayai cinta Dion?"


"Apakah kakekmu masih berkenan menjenguk ibuku di kala dia sudah keriput? Lagi pula semua uang itu hanya untuk kami tetap tutup mulut bukan?"


"Apakah kamu tidak merasa terlalu kejam, melibatkanku pada kesalahan yang aku tidak pernah aku lakukan"


"Bagaimana denganku Har!! Kau pikir aku bersalah karena lahir dengan cara yang tidak benar?" Elena menggeleng "Aku akan membuat Dion berhenti dari pekerjaannya lebih tepatnya dari sisimu. Kamu akan mengerti bagaimana rasanya kalau kamu tak pernah memiliki orang yang benar - benar bisa kamu percaya"


Aku termenung Sejenak, bukankah sudah lama aku tidak mempercayai Dion? Meski tidak 100%..


" Aku sarankan untuk tetap meringkuk di kaki Maria. Dan berilah ruang untukku, aku rasa itu cukup untukku berdamai dalam jangka panjang"


"Aku tidak akan bermain dengan lelucon gilamu.. Lakukan caramu, aku lakukan caraku"


Elena tertawa lepas, sederet giginya yang terawat nampak membuat senyum itu lebih menawan meski bernada tidak nyaman di hatiku.


"Lelucon??" Elena mendengus "Hidupku ini hanya lelucon bagimu?"