
Tangis Yodha begitu kencang Dan memekakkan Telinga. Seakan mengumumkan kehadiarannya Di rumah ini.
Maria nampak cukup panik Dan bahagia secara bersamaan. Tangannya yang belum juga ramping dengan cekatan mengganti popok Yodha. Meski Sebenarnya kami memiliki Yulia yang seharusnya melakukan tugas tersebut.
"Kalau merengek dia lebih mirip kamu" Aku memandang Yodha dengan takjub. Entah Kenapa rasa bahagia menjadi seorang ayah cukup dominant padaku.
"Boleh coba gendong Mar?"
"hmmm.... Pernah gendong bayi sebelumnya?"
Aku menggeleng cepat. Menikah, memiliki anak Dan membangun keluarga, belum tertulis dalam kamus hidupku. Aku sibuk berlarian mengejar ambisi yang baru aku sadari semuanya hanya Keinginan orang tua.
Aku tertawa tertawa tertahan" Aku jadi ayah ya? "dari awal ketika memutuskan bahwa Maria hamil dari benihku juga bukan karena aku ingin keluarga? Aku hanya berfikir, itulah satu - satunya cara agar dia tetap bersama ku.
" Kalau kamu nggak mau juga nggak papa.. Bagaimanapun aku tetap ibunya "Maria sedikit berpura - Pura sewot.
Aku mendarat kan kecupanku segera Di pipinya yang ranum." Ajarin aku cara gendong bayinya "
Maria tersenyum ramah, dengan sabar dia mulai mengajariku bukan hanya urusan menggendong, tapi juga melakukan hal yang lain untuk Yodha.
"Ahirnya ada bahasan lain selain pekerjaan" Bisikku
Maria hanya berahir mencubit pinggangku.
"Auh....! "
******
Dion memandangi layar ponselnya, sudah ke sekian kali dia memeriksa notifikasi. Tapi, nama Harry sama sekali tidak muncul. Kata setuju dari Harry ternyata tidak cukup membuatnya merasa tenang, dia baru merasakan rasanya kehilangan kepercayaan.
"Kenapa? Kamu menunggu seseorang?" Elena muncul dengan gaun shiffon Dan topi lebarnya.
"Enggak, cuma ada kerjaan yang aku tunggu hasilnya. Berharap sudah ada beritanya sebelum kita ke bandara. Agar acara bulan madu kita lebih fokus"
Elena mengangguk "Benar!! Kamu tidak bisa menelpon staff kamu? Dan memastikan?"
"Aku akan menunggu sedikit lagi" Dion merapatkan sepasang bibir Dan kelopak matanya. Berusaha menyembunyikan kebohongan kecilnya.
"Ingat... Aku ingin kita fokus dalam misi bulan madu ini, jangan sampai terganggu dengan urusan pekerjaan"
Sekali lagi Dion hanya mengangguk Dan mengikuti langkah Elena menuju taxi yang mereka pesan.
Dari awal semua terserah Elena. Bukan hanya urusan pernikahan, bahkan awal mula hubungan keduanya. Termasuk bulan Madu yang harus Di fokus kan Pada... Anak.
"Aku mau laki - laki" Bisik Elena ketika keduanya sedang meninjau Villa yang di pesan Elena.
Dion yakin hunian villa yang mereka tinggal selama 10 hari kedepan tidak lah murah. Designnya yang cukup artistic dengan Fasilitas lebih baik dari sekedar bintang lima. Sudah jelas harga permalamnya Bisa mencapai sekitar, 8 sampai 15 juta per malam.
"Kenapa menyewa tempat sebesar ini, kita hanya berdua saja bukan?" Dion mulai menyesali tidak ikut andil dalam urusan pernikahannya.
"Tentu saja, kita hanya berdua" Elena mendaratkan pantatnya dengan cukup keras Pada matrass tempat tidur. " Firm enough, I like it"
Elena beranjak ke arah pesawat telphone Di nacas. "Untuk makan malam jam berapa?" Elena melempar senyum sesaat " untuk menu lunch sesuai pesanan saya, what time will ready?" Elena mengangguk puas. "Every thing seem like going well"
Dion masih memaku Di tempat semula."Kamu meminta menu khusus?"
"Tentu saja! bukankah kita dalam program?"
"Kamu belum mengajakmu ke dokter"
Elena menyodorkan booklet kecil dari tasnya. "Ini menu kita selama bulan Madu, jadi tidak ada alasan untuk tidak kompeten!"
Dion menghembus nafas cepat. "OK..!"
*****
"Analisa saya sudah selesai pak, hasilnya sudah saya email ke email bapak" Adi membuka laptopnya.
" saya sudah baca Di... Kita tunggu Maria dulu"
"Tapi ibu Maria baru melahirkan, apa tidak apa-apa pak?"
"Kalau urusan kerjaan, Beliau pasti semangat"
"Selamat Siang Adi!!" suara Maria menggema usai derit pintu menyela.
"Selamat siang bu..."
"Saya belum melihat emailnya, tapi saya harap presentasi kamu cukup meyakinkan saya"
Ruang kerjaku menjadi hening sementara.
"Aku yang menjamin!"
Rait wajah Adi jadi ragu Sejenak, tapi aku mengangguk memastikan bahwa analisanya tidak buruk.
Adi berdiri dari tempat duduknya Dan mulai menyalahkan proyektor yang aku sediakan Di atas meja.
Nama perusahaanya adalah PT. intisaritex, bergerak dalam produksi utamanya adalah benang dal segala kualitas Dan Bahan. Berdiri sudah sekitar dua dekade. Pergerakam perusahaan cukup normal. Namun... "Adi menggantung Sejenak" pewaris perusahaan yang baru menginginkan adanya penambahan artificial intelligence Pada beberapa sector. Untuk mengurangi biaya penheluaran sehingga margin profit menjadi lebih besar"
"Berarti dia berencana melakukan PHk?" Maria mengernyit mulai meragukan akan perusahaan yang kami Incar.
"Itu rencana mereka awalnya, Namun itu bukan rencana kita" Adi mengumpulkan sedikit keberanian untuk menyampaikan ide kami "Mereka memiliki 10% saham yang bisa di tawarkan, Apabila kita dalam investasi proyek mereka. Namun... "Adi terdiam.
" Ehem "Aku berdehem Sejenak, bersiap Di puji Maria usai menyambung presentasi adi." Akan aku lanjutkan.! "
Aku menggantikan Adhi untuk mengambil alih kontrol proyektor.
"Yang terpenting dalam sebuah Bisnis pasti keuntungan. Melakukan PHk dalam skala besar atau kecil akan tetap memiliki efek negative Pada atmosphere perusahaan" Aku melirik wajah Maria yang masih belum begitu tertarik "merujuk bahwa kita memiliki Garment Dan berencana akan meluncurkan product Ready to wear milik Alberto, maka aku berencana melipat gandakan produksi factory, ke dunia perkainan"
Aku menarik nafas dalam - dalam. wajah Maria yang masih membeku memperhatikan layar dengan seksama.
" Jadi kita Bisa menambah artificial intelligence Pada perusahaan sekaligus memperlebar market Dan mendapatkan supply lebih murah untuk Divisi Fashion perusahaan mu, dengan cara ini kita Bisa menekan biaya produksi untuk fashion product kita. Sekaligus kita Bisa menjaring keuntungan baru "
Maria mengangguk mengerti," Bisa aku minta skema sahamnya "
Adi segera menyerahkan booklet ukuran A4 yang sudah kami susun bersama.
Maria segera membuka lembar demi lembar sambil terus mengangguk cukup yakin. Beberapa saat kemudian senyum pun mulai merekah.
"Aku setuju.... Kamu Bisa urus untuk urusan legalisasi dengan Aryo. Dan tolong jadwal kan aku bertemu dengan investor lain"
"Kamu baru saja melahirkan!" Aku dan Adhi tercengang.
"Aku masih hidup Dan belum mati" jawab Maria tajam seperti dulu.. Ya... Ya.. Hormon Maria sudah normal.