
Mobil Dion sampai di halaman parkir hampir bersamaan denganku. Tanpa canggung aku menyindir dengan setengah bercanda.
"Tumben pengantin baru tepat waktu" Aku melempar senyum casual.
"Jangan gitu dong?" Dion berdecih sejenak. Sepasang maniknya mencoba menghindariku.
"Bulan madunya udah kelar nih?"
Dion menghampiriku dan langsung merangkulku. "Bersimpatilah pada temanmu ini" tanpa sungkan dia menepuk pipiku "Orang baru menikah itu, diberi selamat bukan simpaty" nafasnya kemudian menghembus kesal"Emang dunia menikah itu berbeda" Dion menggeleng sejenak.
"Tergantung dengan siapa kamu menikah" timpalku yang sudah memperkirakan keadaan pernikahan Dion.
"Yang sok bahagia nih!" Dion berbalik menyindirku."Curhat dong?"
"Jam kerja nih, kasihan Adi backup kamu melulu"
Dion hanya mendengus kesal. Tanpa menanggapiku dia melangkah tanpa semangat mendahuluiku.
Kami aja susah menghadapi Elena, apalagi manusia standard Dion. Fisik memang OK, tampang not bad, sisanya hanya average, dan kebaikan hatinya pasti sering dimanfaatkan Elena. Tapi bagaimanapun Dion tetap menjadi teman ku yang setia membantuku meski ketika semua pergi dariku termasuk keluargaku.
"Potong gaji ya?" Aku meraih pundak Dion dari belakang. "Pakai mobilku aja, biar Princess kamu nggak curiga"
"Serius nih?"
"Kalau mau... Bisa di cancel mumpung belum jalan nih"
"Jadi dong....!!!" Dion langsung bersemangat memutar langkahnya kembali ke mobilku.
Kami segera meluncur ke coffee shop yang berjarak sekitar dua kilometer dari kantor.
" Bu Maria gossipnya udah lahiran" tebak Dion setelah sampai di salah satu meja.
"Kok bahas Maria, bukannya mau curhat" Aku masih enggan terbuka dengan Dion. Mengingat kondisinya yang serumah dengan Elena.
"Cuma agak kuwalahan sama Keinginan Elena untuk hamil" Dion langsung ke pokok permasalahan.
"Elena mau punya anak dengan usianya sekarang?" Aku sedikit heran karena seingatku dulu dia tidak menginginkannya. Untuk Elena, anak hanya menjadi beban kehidupan, itu alasan yang selalu di sampaikan "Emang kalian nggak bikin anak, sampai dia protes?"
"Nggak usah nunggu nikah, kita juga udah bikin" Dion melambaikan tangan pada waiter yang baru usai mengantar order "Cuma nggak di jadiin aja"
"Vanilla latte and cheese danish" pesanku "No sugar ya?"
"Baik kak, kalau kakak?"
"Ice cappuccino dan chocolate donuts" pesan Dion "Pake gula ya... Kalau saya"
"Baik kak, saya ulang pesanannya" Sang waiter mulai mengamati tulisan di notanya "Vanilla latte tanpa gula satu, ice cappuccino dengan gula satu, Cheese danish satu fan chocolate donuts satu"
"Yup.!!" Kami menjawab serentak.
Waiterpun meninggalkan kami dengan cekatan.
"Emang kamu nggak bikin anak sebelum nikah sama bu Maria"
Aku tertawa otomatis, terbayang sekilas wajah Maria diawal kami bersama.
"Aku takut dosa zina" candaku sambil terkekeh kecil.
"Sok suci!!" Dion melempar sisa tissue yang baru saja di gunakan untuk mengelap keringat di dahinya. Yang tentu saja aku segera menghindarinya.
"Buang sampah pada tempatnya dong!" celetukku sambil memungut tissue Dion di lantai dan memasukkan ke dalam asbak yang kosong di meja kami.
"Intinya, aku nggak tahu gimana caranya bikin Elena Bisa bersabar, ada anak atau tidak, harus sabar. Lagi pula kami juga dalam masa program juga"
"Suami Elena dulu bilang, kalau Elena kemungkinan mandul"
"Dia juga pernah bilang bahwa dia nggak mungkin mandul, tapi tiba - tiba dia ngajak aku nikah dan punya anak. Dan sepertinya dia sangat yakin tentang itu"
Dion mengangguk "Tapi nggak langsung, hanya pas dia datang kemudian sekitar tiga bulan setelahnya"
Sejenak otakku berputar, Elena selalu menghitung langkahnya dengan seksama. Kehamilan yang selalu di bencinya. Tiba - tiba dia sangat menginginkannya.
"Saat kalian menikah, apakah kamu ketemu kakek... Ah.. Maksudku mertua kamu" Aku berdecih " Hubunganku denganmu jadi cukup rumit nih, secara technically kamu ini pamanku sekarang. Meski aku nggak ikhlas"
Dion menggelengkan kepala cepat "Jangan gitu dong, lagi pula kamu juga manggil Elena hanya nama, bukan aunty. Sama ketika memanggilku"
"Aku juga nggak pernah ikhlas punya tante Elena, hadirnya ibu Elena keluarga kami juga nggak mau, kecuali kakek pastinya" Aku menarik nafas perlahan "Dosa zina itu bener - bener di wariskan, kami nggak berbuat tapi kami juga yang sering di ganggu Elena dan ibunya.
"Balik lagi ke aku nih!" Dion meminum ice cappuccinonya Sejenak "Selain kehidupanku dengan Elena, kehidupanku dengan yang lain juga mulai jadi kacau" Dion meneguk sekali lagi "Dengan Laura dan pekerjaan, contohnya" Dion menggeleng "Padahal Elena dulu cukup santai dan flexible"
Karena dulu Dion sebatas mainan, Elena datang kapan pun dia mau. Tapi sekarang Dion adalah alat. Entah tujuannya apa, aku juga masih menerka.
"Namanya juga masa promotion, ya pasti indah lah.." Aku coba membuat suasana tidak begitu menegangkan. Meski dalam hati aku yang mulai tegang, karena nampaknya hidupku akan lebih rumit lagi.
"Kamu kan.... Lebih pengalaman menikah dengan yang lebih matang. Bagi saran dong!?" nada Dion sedikit merengek. Meski kemudian mulutnya segera terisi dengan potongan chocolate donuts.
"Masalahnya.... Maria itu absolutely dan originally matang. Baik secara usia dan pemikiran. Jadi kita bahkan nggak sempat berdrama" Aku menggaruk alisku yang tidak gatal "Sedangkan Elena, secara usia dia lebih matang tapi tidak secara mental"
"Elena punya semuanya, cantik, kaya, relasi, Entah apalagi yang dia inginkan"
Kecuali pengakuan, selaku anak di luar nikah. Dan tentu dia perlu di sembunyikan atau setidaknya di larang memiliki profesi yang menarik perhatian. Mengingat kakek pernah mencoba peruntungan di dunia politik. Yang berhasil membuat kami semua trauma.
"Entahlah!!" hanya itu yang terucap dari mulutku. "Kamu mau bulan madu kedua?" tawarku tanpa berfikir, lagi pula pekerjaan Dion banyak di handle oleh Adi dan aku. "Tapi kali ini, lakukan test pada Elena apakah dia mandul atau tidak. Mengingat mantan suaminya bilang kemungkinan Elena mandul itu ada"
"Apa itu alasan mereka bercerai?" Dion mencoba menerka dariku.
"Kamu sudah menikahinya sebelum mengenalnya, sejujurnya itu adalah langkah yang ceroboh. Asal kamu tahu, pernikahan bisa jadi penjara tanpa ujung kalau kamu salah pilih"
"Bagaimana denganmu?"
"Kalau Maria jelas, semua tentang dia bisa di baca di majalah bisnis. Setiap hari kita bertemu dan bekerja dengannya. Jadi tidak sulit ketika kami bersama. Hanya sedikit penyesuaian" Aku meneguk vanilla latte ku yang mulai hangat. "Termasuk jam kerjaku yang sering di mulai sebelum jam kantor" lanjutku dengan nada jenaka.
Tawapun berderai Di antara kami.
"Mungkin kalau kita menikah dengan yang lebih muda, atau seusia ceritanya akan berbeda"
Huh... Dion... Dion, kita berbeda. Kamu punya pilihan dan aku tidak.
"Aku tidak menyesal, kita berbeda" Tanggapku "Bagaimana? Masih mau bulan madu kedua? Tapi potong gaji ya.... Kan istri kamu udah kaya" candaku.
"Kamu hobby banget potong gajiku"
"Teman sih teman, tapi professional tetap dong"
**'*****
Mobilku memilih mengarah ke arah pulang, setelah usai mengantarkan Dion ke kantor
"Ada beberapa dokumen yang ketinggalan di rumah" alasanku singkat ketika Dion menanyakan Kenapa aku tidak turut turun dengannya.
Entahlah, perasaanku serasa tidak nyaman. Meski aku kurang faham apa yang sedang aku khawatirkan di rumah.
"Tolong kirim ke rumah soal kerja sama investasi kita dengan Sari Textile, hari ini saya mungkin nggak ke kantor"
"Baik pak!"
"Oh iya, jangan pakai kurir kantor. Kamu saja yang antarkan. Sekalian saya mau kasih beberapa laporan Perkembangan Ryusu Home care"
"Baik pak!" jawan Adi tegas sebelum sambungan telpon kami Berahir.
Mami?? Pasti itu dia, siapa lagi yang mengendarai mini cooper dengan warna Fushia seperti itu kalau bukan mami. Meski warna mobil itu cukup nampak fun dan ceria, tapi aku yakin tidak dengan pengendaranya.
And.. Here we go!