Sugar Mamy

Sugar Mamy
Benefit


"Apakah salah kalau aku membalas cintanya padaku?" Elena malah bertanya balik.


"Apakah kamu mencintainya..?"


"Apakah era ini.. Seorang bos selalu mencampuri urusan pribadi anak buahnya?"


"Aku hanya bertanya sebagai teman, wajar bukan? Kalau aku berusaha menyelamatkannya dari bahaya"


"Apakah temanmu itu lebih berharga dari Tower High? Orang tuamu sendiri? "


"Pertanyaanmu mungkin aku jawab andaikan yang bertanya itu Mami atau Papi, tapi bukan kamu"


Elena tertawa renyah "Apakah kamu tidak menyesali menikahi lelaki seperti Harry Maria?"


"Aku selalu siap menghadapi resiko" Jawab Maria yang rupanya usai menyelesaikan hidangannya.


"Entah mengapa aku menyukaimu Dan mulai sedikit membencimu secara bersamaan"


"Aku menganggap itu sebagai pujian" Maria mengusap bibirnya dengan tissue Sejenak "Terimakasih"


"Aku jadi penasaran siapa Sebenarnya dirimu?" kali ini Elena mencoba menyerang Maria.


"Kamu Bisa menemukan ya dengan mudah, jika kamu rajin membaca" Sepasang manik Maria menatap lurus ke wajah Elena tanpa ragu " Wikipedia Dan hampir semua majalah Bisnis pernah melakukan wawancara denganku, warna kesukaanku bahkan minuman favorit ku selalu Di cantumkan"


Elena menatap Maria tanpa berkedip seolah menunggu kalimat lainnya.


Seutas senyum menghiasi raut wajah Maria "Aku seperti buku yang terbuka"


Kali ini bukan Elena yang jadi penasaran, tapi aku. Karena sampai hari ini tidak ada satupun keluarga Maria yang bisa aku kenal atau aku temui. Mungkin kah aku butuh menggali sejarah istri ku sendiri lebih dalam?. Keluarga manakah yang membuang wanita berbakat ini?


Elena bertepuk Tangan kecil " I really hope, nothing hide about you"


Maria membalas Elena dengan senyum yang lebih lebar, kali ini sederet gigi rapinya mulai nampak lebih jelas.


Elena beranjak meninggalkan kami, langkahnya nampak lebar menyambut sosok Dion yang rupanya baru muncul. Tanpa ragu, Elena menarik Dion ke arah meja paling jauh dari kami.


"Kamu menantang Elena?" aku penasaran.


"Aku hanya menjawab pertanyaan"


"Apa kamu tidak berfikir Elena akan mengorek tentang dirimu hingga ke akar - akarnya?"


Maria tertawa lirih.


"Hubunganmu dengan keluargamu, bukankah tidak baik" Aku mengingatkan Maria.


"Itu sudah rahasia umum, semua orang sudah tahu tanpa tertulis"


"Kamu tidak takut dia akan mengangkatnya menjadi berita?"


"Benar juga...!!" Maria mengangguk Pura - Pura baru menyadari hal itu "Bukankah aku memiliki suami yang akan memiliki hal yang besar?"


"Hah... Aku belum mulai, kamu sudah mulai mengancam"


Maria mendengus singkat "Masalah nggak akan pernah Bisa di hindari Har!"


"Tapi meredam kan Bisa?"


"Apa kalian sanggup meredam seorang Elena?" pertanyaan Maria benar juga "Kalian hanya sanggup menundanya saja"


"Yeah..!!!"


"Jangan lupa.. Kamu juga belum menyelesaikan urusan Melissa kan? Masih ada ancaman yang belum terwujud"


Aku memijit pelipisku kuat - kuat. Ternyata Sungguh sulit menciptakan kehidupan mandiri dengan latar belakang yang aku miliki. Di saat seperti ini, tak jarang aku iri Pada Dion yang bisa bebas memilih Jalan kehidupannya. Termasuk memilih terjerat di jaring siluman laba - laba seperti Elena, huh!


"Kamu tidak menyukai Elena? " Maria bertanya dengan sorotan mata penuh Tanya


" Tidak semua hal"


"Aku sedikit setuju bahwa urusan percintaan mereka tidak begitu penting buat kita"


"Andai saja Elena hanya wanita kesepian biasa" Aku menjawab dengan Malas.


Terlalu panjang menjelaskan tentang Elena dalam kehidupan kami. Meski Sebenarnya Elena adalah wanita yang cukup menyenangkan, Apabila kamu hanya berteman.


Tapi... Untuk Elena, keluarga kami yang sah memiliki sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya. Dan sepertinya akan selalu seperti itu.


Maria mengikuti Keinginan ku tanpa protes. Namun sepanjang perjalanan, pikirannya melayang Entah kemana.


Aku memilih tidak menebak atau menanyakan isi pikirannya, agar Bisa cepat tiba di rumah dan beristirahat dengan tenang.


*****


" Kapan kamu cerai dari Maria?" Suara mami melengking dari seberang.


"Ini masih pagi... Mami udah kesurupan aja" Protestku yang memang dari awal sudah berfirasat buruk soal telpon mami pagi ini.


"Kamu udah ketemu Elena belum?"


"Kenapa memang?"


"Dia mau nikah...!" suara mami melengking lagi.


"Hubungan Elena menikah dengan pernikahan Maria Dan aku apa Mi?" Gerutuku yang mulai naik pitam.


" Kalau kamu nggak suka sama Melissa, mami sudah Fine, its OK" suara mami mulai lebih tenang "Tapi bukan Maria dong"


"alasannya?"


"Maria itu kurang kualifikasi untuk masuk dalam silsilah kita"


Entahlah, aku jadi ragu kalau aku dibesarkan dengan ibu seperti Mami. Kami sangat berbeda tentang cara pandang dalam bidang sosial.


"Kurang kualifikasi bagaimana? Maksudnya nggak menguntungkan gitu? Huh!"


"Kamu tahu sendiri.. Kondisi Papi gimana? Carilah pasangan yang lebih dari kita, mau harta, kuasa dan mungkin lebih rupawan dari Elena"


Aku mengacak rambutku asal, rasa pusing dan sesak rasanya beradu bersamaan karena ucapan mami.


"Kenapa Renata malah nikah sama Anthony? Dia cuma sekedar CEO yang kompeten, that's it" Aku mulai melangkah ke dapur mencari sesuatu yang bisa meredakan emosi ku "Kenapa nggak Di jodohin sama Nando aja, single dan berkuasa"


"Ck... Kita perlu juga CEO yang kompeten untuk kesehatan perusahaan, lagi pula keluarga Renata sudah punya Richard yang menikahi putri Multi Bio Group"


Ah.. Aku rasanya salah bicara,


"Nah.. Ngomong soal Richard nih, ingat Luna? "


" kucingnya Sailor moon?" jawabku Pura - Pura bego.


"Kok kartun sih... Itu anak calon mentri kesehatan, pemilik Formosa medika. Dia itu cantik, dokter specialist mata Dan.."


"Stop...!!!" Aku memekik tanpa sadar. "Stop di situ Mi!!! I am Master of my own"


"Mami cuma menyarankan..." suara mami jadi bernada lebih rendah.


"Kenapa Nggak minta mami aja yang nikah sama Ayahnya Luna, dia duda kan?" Tantangku tanpa rasa segan lagi.


Bau semerbak butter yang terpadu dengan aroma rosemary yang wangi. Memenuhi dapur kami. Maria dengan lamban sedang menggoreng steak marinated blackpepper untuk sarapan pagi ini.


" Sarapan bentar lagi ready"seutas senyum Maria di antara pipi chubbynya menyambut ku ketika aku memasuki area kitchen."aku tadi bikin finger food, coba in dong sambil nunggu matang"


Menobati raja jengkelku dari suara makan mami yang mendengung di seberang sana. Aku mendengus sesaat Dan kemudian menarik nafas dalam - dalam.


"Lebih baik Mami sarapan dulu, biar otak mami agak waras sedikit" ucap ku menutup percakapan antara aku dan Mami.


Aku mengambil duduk di kursi kitchen, meraih finger food yang Maria tawarkan. Andai kan aku orang biasa, bisa di bilang hidupku sungguh beruntung.


"Ada masalah sama Mami?"


Sambil terus mengunyah, makanan Di mulutku, aku mempertimbangkan apa jawaban pertanyaan Maria. Apakah aku punya cukup hati mengatakan pada Maria bahwa Mami masih mencarikan calon istri lagi untukku?


Seutas senyum aku urai Sejenak "Ini apa aja ahannya?" hanya cukup itu yang keluar dari mulutku.


"Smoke potato dibalut sama mozzarella trus kulitnya itu pakai terong, lembut kan?" Maria menjawab dengan antusias.


"Aku taruh di lunch box buat ngemil di kantor, aku juga siapin buat kamu"


Aku mengangguk pasti.


"Oh iya.. All of them organic dari kebun belakang rumah"


Andai Maria adalah anak orang terpandandang... Atau berkuasa, apakah aku akan hidup lebih santai.. Uhf.