
"Aku tidak menyukai bekerja dengan yang lebih mementingkan menggunjingkan atasan yang membayar gaji mereka dari pada melakukan pekerjaannya lebih baik.
" Ah... Iya bu.. Saya mengerti" Dion mulai memutar kakinya menuju ke ruangannya.
"Setelah itu, kamu juga ikut meeting"
"Tentu bu.."
Suasanapun langsung henning dan menyisakan langkah Maria yang ikut memasuki ruanganku.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
Pertanyaan Maria seperti tidak sadar apa yang baru keluar dari Mulutnya.
"Kamu barus saja memgancam pegawaimu, apakah itu lebih baik dari pada melakukan klarifikasi atas pernyataan Melissa" Aku mengutarakan isi otakku tentang wanita di hadapanku yang saat ini adalah, Bosku, Istriku, Pacarku dan sugar Mamiku.
" waktu...." Maria menegaskan hanya satu kata akan tindakannya. "Aku tidak suka membuang waktuku, urusan akan panjang kalau kamu mau menanggapi sosok seperti Melissa dan tentu waktuku akan hilang sia - sia menunggu hasil kerja orang - orang yang bergossip" Maria membenarkan duduknya di sofa.
Sepasang manik hitam kelam Maria menatapku cukup dalam, "Aku tidak muda, dan aku wanita... Monopouse akan datang kepadaku cepat atau lambat dan jangan salah aku juga ingin menikmati hubungan kita tanpa Bumbu yang tidak berguna" Sebuah senyum manis menutup kalimat yang tidak bisa aku sangkal.
"OK..... I will join with that!"
Beginikah hidup sebagai seorang pembisnis? Ketika uang ternyata tidak lebih berharga dari waktu. Padahal selama ini untukku, waktu adalah uang. Ternyata aku salah..
*****
Presentasiku selesai dengan cukup gemilang, Maria dan Direktur lainnya turut bertepuk tangan dan menyatakan puas atas semua solusi yang aku tawarkan. Tidak salah ayahku mengirim ku kuliah jauh - jauh.
Namun... Ketika aku mulai harus di panen, beliau membuangku dengan alasan yang menyedihkan..
"Ide - idemu cukup bagus, Pertahankan itu" puji Maria ketika membereskan perkakasnya di dalam ruanganku.
"Aku sudah bilang kamu tidak perlu khawatir" Bolehlah... Aku membanggakan diriku sesekali.
Maria mengangguk.. "Maaf, kalau kekhawatiranku mengganggumu"
Ini yang aku suka pada Maria, dia tidak pernah ragu meminta maaf atas kesalahannya. Meski Sebenarnya dia tidak sepenuhnya salah karena aku juga memiliki kekhawatiran yang hampir sama. Namun, playing Cool.. Adalah keahlian dasar ku sebagai makhluk keren.
"Aku pamit dulu, kalau ada yang di tanyakan atau diskusi aku available setelah jam tiga sore"
"Kamu mau ke mana?"
"Menyelesaikan urusan dengan Ayah Melissa, aku akan pergi dengan Aryo" jawab Maria yang sudah siap meninggalkan ruangan.
"kamu tidak ingin memelukku atau sedikit basa - basi mencium pipiku?" protes ku yang rupanya kurang terima akan di tinggalkan begitu saja.
"Ah iya..!" Maria menghampiri ku "Sorry... Kalau aku tidak romantics"
Satu kecupan aku darat kan di pipinya.
"No.. Worries, Aku akan bersabar"
Jawabku setelah melepas kecupan ku dan kepergian Maria yang tanpa kata pamit.
See.. You.. Maria..
*****
Ahirnya... Pernikahan Renata di percepat, Sebuah undangan digital mampir di emailku.
Ini bukan karena kejadian di rumah Antonio kan? Apakah Antonio tidak berencana mengembalikan Tania secepatnya?
"Re...!!!" seperti biasa aku menelpon Renata tanpa kata Halo.
"Kamu masih tidak sopan seperti biasanya, apa istrimu tidak mendidikmu dengan baik"
Rupanya Renata baru bangun tidur.
"Seperti kamu bilang dia istri ku bukan guruku" Aku menegaskan posisi Maria "kamu kok tiba - tiba nikah?"
"pertunangan kami sudah mulai berkarat, aku sudah bosan minum obat kontrasepsi"
Mulut Renata memang tidak punya filter.
"Kalau nggak salah, tanggal pernikahannya sama dengan tanggal gala dinner keluarga besar kita kan?" aku coba memastikan dugaanku yang ternyata benar.
"Iya.. Agar lebih hemat tenaga, kamu tahu sendiri kesibukan keluarga kita... Jangan lupa ajak Maria, sampaikan aku ingin dia hadir"
Aku yakin Renata tulus mengatakannya. Sepanjang yang aku tahu dia cukup tidak pernah jahat, dan aku putus kan untuk meminta bantuannya.
"Sore ini... bisakah kamu mampir ke rumah Antonio? Kita ketemu di sana"
"Dalam rangka apa?"
"Dalam rangka menjinakkan keluarga" Aku kembali ingat saat pertemuan ku dengan Antonio terahir kali "Kita Akan jadi keluarga Tania, termasuk kamu dan Aku"
"Benar juga.... Tania juga anakmu yang juga anakku"
Bagaimana mungkin Renata baru menyadari itu. Dia mungkin terlalu tersihir dengan Pesona Anthony yang aku percaya memang pantas mendapatkan perhatian lebih.
"Aku tidak menolak..."
"Dan tidak untuk Anthony, pastikan saja dia di rumah... Keluarga itu pantang di tolak"
"Kecuali ayahmu..." Renata terdengar terkekeh di seberang sana.
Benar saja, hingga sejauh ini Papi juga masih enggan menyapaku. Papi.. Apakah kamu tidak merindukan anakmu satu - satunya?
"Meledek orang yang terkena musibah buka lah hal baik, apakah kamu tidak di ajarin sopan oleh tunanganmu"
Aku mulai pintar me bolak balik kata.
Tawar di antara aku dan Renatapun, ahirnya mengahiri obrolan kami.
Sebenarnya aku merencanakan ini hanya berjaga - jaga. Kalau saja Anthony beralasan tidak mengembalikan Tania, paling tidak Tania bisa bersama ibunya dengan puas.. Sampai perpisahan itu tiba.
Mungkin Maria marah akan rencanaku ini yang tidak meminta persetujuannya. Tapi saat ini, aku juga ayah seorang Tania, gadis kecil yang harusnya berjiwa bahagia bukan terjebak dalam konflik keluarganya.
***
So... How was this happen...?
Anthony nampak agak terkejut ketika Renata tiba. Hampir saja jantungku copot ketika Anthony mulai memangkas jaraknya denganku dan Maria.
Otot pipinya samar - samar agak berkedut beberapa menit lalu. Namun semuanya menjadi relax dengan kedatangan Renata yang nampaknya di luar dugaan Anthony.
Senyum tampan lelaki itu langsung mengembang saat panggil an Baby memgalir lembut dari sepasang bibir Renata..
"Hi Baby... Its kind of surprise?"
Tapi tentu tidak dengan Maria yang rupanya sudah menduga rencanaku. Helaan nafas panjang dan senyum lega sekejap aku tangkap darinya, ketika manik kami bertemu.