
*****
Maria nampak berdiri Di depan kantor dengan wajah yang kurang sabar.
"Kok lama?"
"Hang out sama Dion dulu trus macet deh"
"Yakin... Itu alasannya?"
"Kamu curiga sama aku?"
" sedikit... Karena ini udah telat antri dokternya"
"Kalau gitu besok deh.. Janji nggak telat"
"Nggak usah.... Dua Minggu lagi aja, sekalian cek jenis kelamin"
"Oh ya? ... Udah Bisa lihat ya?"
"Hmmm..."
Maria memasuki mobilku dengan cepat.
" Brak!!"
"Jangan ngambek dong... Aku serius nggak sengaja telatnya"
"Hmm.... Buruan Jalan... Keburu croissantnya abis"
Aku memilih diam Dan mengikuti saja keinginan istriku yang sedang hamil.
Tidak ada yang berubah Pada cafe ini, selain kenyataan bahwa aku dan Maria sudah menikah dengan benar. termasuk dengan bayi Di dalam kandungannya.
"Senang??" tanyaku Pada Maria yang mulai tersenyum ketika croissant Dan secangkir kopi tersaji Di depannya."Ibu hamil nggak boleh banyak minum kopi" Aku mencoba mengingatkan Maria.
"Cuma hari ini kan...? Biasanya juga enggak"
"Iya..."Aku menanggapi singkat, agar acara ngidam ini cepat selesai.
" Aku ngidam baru sekali, katanya kamu pengen aku ngidam "
" Iya.... Tapi, nggak mikir sampai ke sini ngidamnya "
" emang kamu maunya aku ngidam sampe mana? "
Aku tersenyum memandang Maria yang semakin chubby "nggak kemana - mana, Di makan aja yuk"
Sejak hamil semakin hari Maria semakin lebih detail dengan hal kecil, tidak seperti biasanya yang selalu bilang ' nggak usah Di bahas'.
Maria menyantap croissant Di tangannya dengan lahap, tanpa sekalipun melirik padaku.
"Kamu itu ngidam atau doyan?" candaku.
Maria hanya menyeringai sesaat, kemudian melanjutkan lagi activitasnya.
"Mau lagi..." Maria tersenyum manja sambil menunjukkan piring dessert yang hanya berisi remahan kulit croissant.
"CK CK.. Se suka itu?"
Maria hanya diam dengan senyum membeku Dan mata yang manis.
Kondisi cafe perlahan mulai ramai, begitu juga pelsyan yang mulai bertambah untuk mengatasi situasi.
Aku mengayunkan Tangan, membetikan tanda untuk memesan. Seorang waiter yang baru datang dengan sigap langsung menuju ke arah meja kami.
"selamat malam " sapanya ramah. "Eh mas. Dan ibu?" pemuda itu seolah mengingat kami. Tampangku memang cukup mencolok, tapi aku tidak berharap karirnya masih hanya sebatas waiters.
"Apa kabar? Pesan croissant dua, cappuccino satu Dan jus strawberry satu aku mengucapkan dengan cepat. Sebelum dia mencoba menjabarkan bagaimana aku berkesan Di matanya.
" Wah kamu hebat ya.. Ingat dengan kita? "Maria memuji dengan wajah yang cukup ceria, jangan - jangan.." Apakah ksmi cukup berkesan? "
" I.. I.. Tu... " Waiter itu melirikku yang sedang tersenyum Dan menggeleng secara bersamaan.
Big No!! Jangan bilang Maria aku pernah nangis Di sini... Please..
"Hanya itu saja? Ada tambahan lain?"
Syukurlah, dia rupanya cukup paham arti harga diri lelaki.
"Itu saja" jawabku cepat sebelum Maria melontarkan pertanyaan lain.
Waiter itu segera meninggalkan kami, dengan kerutan Di dahi Maria. Insting Maria memang cukup tajam.
"Kamu selingkuh?"
"Kamu cemburu?" Aku membalas cepat.
Maria menggeleng cepat. Sebuah helaan panjang Di lakukannya seraya meneguk kopinya yang hampir habis.
Pesanan kami pun segera datang, tapi nafsu makan Maria sudah mulai mereda berbanding terbalik dengan kondisi cafe yang nampak lebih penuh.
Samar - samar terdengar Sebuah lengkingan tawa yang cukup akrab Di telingaku Namun sepertinya sulit kuingat kapan terahir kali aku mendengarnya.
Aku menabur pandang ke sekeliling, mungkin memang tawa itu benar - benar aku kenal.
Dua meja Di belakang kami, seorang wanita be rambut coklat ikal dengan kulit bernada ivory. Bola mata Abu - Abu yang cukup indah rasanya sulit Di lupakan siapa saja termasuk aku.
Elena..? Aku memekik tak sengaja.
Wanita itu segera memandang ke arahku, sama sepertiku dia juga terkejut.
"Harry??"
Aku terkejut dua kali ketika kudapati bahwa dia sedang bersama Dion. Sejenak aku lupa sedang bersama Maria secara reflect aku segera mendatangi meja mereka.
"Ini cewek barumu itu?" aku berusaha menahan emosi saat memuntahkan Tanya.
Diluar kendali aku sudah mencengkram kerah baju Dion.
"Lho.. Lho... Saling... Kenal" Elena menimpaliku dengan nada bingung. Dan coba melepaskan Tanganku dari Dion.
Aku tak percaya karma begitu dekat.
"She is my Aunty!?" Aku tak berbasa basi.
"brrrrt..." Dion menyemburkan kopi yang baru Di teguknya. Sial!!
"Isn't she?" lanjut Dion lirih,
"Iya... He is my cousin yang aku ceritakan" jawab Elena lirih. Jarinya mulai menegang tissu Dan mulai membersihkan wajahku.
"Jadi selama ini kamu pacaran sama tanteku?" Aku masih kurang terima. " kamu juga Elena!! Ngapain main - main ke sini"
"Hey... Aku juga pemilik saham Di tower high, wajar aku berkunjung"
Aku mulai melonggarkan cengkeramanku Dan beralih menatap tante Elena yang memang tetap cantik Di usia yang tidak muda.
"Kulit semulus porselen.. Cih!!" Aku mengulang ucapan Dion tadi siang.
Sulit aku menerima bahwa sahabatku sendiri tidur dengan tanteku. Lebih sulit lagi Apabila dia akan menjadi pamanku. "No.. Way..!!"
"What is a matter Harr?? We like and love each other... Nggak ada yang salah"
"And you also fucking each other..!!"
"We are couple.." Elena mendongak tegak menantangku "Kamu seharusnya panggil saya Tante Elena!! Respect me.."
Elena benar.. Tapi aku memang tak pernah memanggilnya tante. Karena dia selalu bertingkah lebih muda dari usianya, Namun tak ku sangka dia juga ahirnya berpacaran dengan yang jauh lebih muda.
"Is it the reason.. You are divorce?"
Plak... Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Tidak seperti Maria, tamparan Elena sangat kuat. Mengingat structure tubuh kami yang hampir sama, tinggi Elena mungkin 170cm dengan bentuk badan dominant ras Caucasians.
"You are jerk!!" Maki Elena yang langsung beranjak pergi dengan menarik Dion bersamanya.
Baru usai aku jadi sugar Baby, sekarang tanteku yang mulai menjadi sugar mamy. Apakah karma secepat ini.
"Maria...?" aku baru sadar bahwa Maria sudah lenyap dari tempat duduknya.
Aku mengacak rambutku kasar, berfikir bahwa mungkin dia mengira Elena adalah pacarku.
Aku segera pergi setelah mendaratkan empat lembar uang ratusan.
Kondisi Maria yang hamil besar tidak mungkin dia jauh.
Benar saja aku melihatnya sedang melintas Di lobby Dan hendak keluar.
"Mar...!!! Tunggu...!!!"
Maria hanya menoleh Sejenak, Namun dia terus berjalan keluar tanpa memperdulikanku.
"Mar...!!" Aku segera meraih pangkal lengannya ketika dia hanya berjarak 50cm dariku.
"Aku mau pulang.." Jawab Maria dengan wajah lurus menatap Jalanan.
"Ayo... Kita ke parkiran"
"Aku mau pulang sendiri.." suara Maria kali ini agak bergetar.
"Mar..?" Aku segera memankas jarakku dengannya"Kamu nangis? "
Maria memalingkan wajahnya dariku.
" Why..? " aku meraih wajah Maria agar memandangku.
" Enggak!! "Bantahnya.
" Elena.. Itu bukan pacarku tapi tanteku.. Nggak usah cemburu? " tebakku kasar.
" Tante kamu? "Maria segera mengusap pipinya.
" Iya... Kamu cemburu? "
Maria.. Menarik nafas." Enggak...!! Pokoknya aku mau pulang "
" Iya.. Pulang bareng kita.. Ayo?! "Aku merangkul tubuh Maria dan mengajaknya ke arah mobilku berada.
" Serius dia tante kamu? Kok cantik? Kok nampak muda? "
" memang mamiku tampak tua? Ketampanan ini juga genetik, " Aku memangkas keraguannya" Jadi kamu nggak usah hawatir aku cepet tua "
Langkah Maria terhenti," Tapi.. Aku akan cepat tua "gumamnya lirih.
" CK.. Gampang.. Itu.. "
" Apa nya ?? "
" Awet muda.. Kan? Itu gampang Di atur zaman ini, yang penting kita pulang dulu dengan selamat "Aku terpaksa sedikit menggeret Maria untuk memasuki mobil.
" Kamu... Nggak selingkuh kan Har.. "
" Kamu.. Cemburu kan? "
Maria ahirnya menunduk sambil mengangguk." Kamu kan.. Bapak dari anakku "
" Sering - sering hamil ya.. Supaya kamu manis kayak gini.. Hehehe"
" jawab dulu,..."
"Enggak... Aku nggak selingkuh Dan nggak akan selingkuh.. Tenang aja"
"yakiiin....?"
"Mau aku Di samber geledek biar kamu percaya?"
"Eh jangan.. Percaya"
"Gitu.. Dong!!"
Maria Sungguh memusingkan kalau sudah mulai menyangkut detail.