
Maria langsung menyandarkan tubuhnya Di dalam mobil sepasang telapak tangannya mengatup Rapat Pada wajahnya yang sembab.
"Sorry Har... Aku benar - benar tidak tahu" Keluhnya, dengan nada yang sedikit aneh.
Jemari segera membuka Dan meraba bagian tubuhnya serta menggaruk dengan lemah.
"gatal" gerutu Maria dengan nada lebih Bisa di bilang manja.
"Nggak mungkin ada nyamuk Di sana kan?"
Aku mengamati sesaat tubuh Maria. Beberapa rina merah nampak ada Di tubuhnya. Baik cakaran atau mungkin karena garukan, dan yang paling menjengkelkan ada bekas kiss Mark.
Damn!!!
Luna sengaja ingin merusak Maria?
"Apakah badanmu terasa Panas?" aku menanyakan ciri - ciri umum, untuk jenis obat tertentu.
Maria mengangguk dengan terus menggaruk Dan membenarkan baju yang menutupinya.
"Kamu minum apa Mar?"
"Hanya lemon tea seperti biasanya"
Aku mencoba meletakkan telapak Tanganku Di beberapa bagian. Dan mencoba mengenali kenaikan suhu yang significant.
Dan seperti dugaanku Maria bersuara manja seketika.
Sial..!! Ada yang memasukkan obat perangsang padanya.
Aku keluar dari mobil, Sejenak mencoba menata emosiku yang sulit di bendung. Aku menendang ban mobil yang tak bersalah dengan sekuat tenaga. berharap itu adalah puncak dari ledakan sakit hatiku.
Tanpa berfikir jernih, aku melakukan mobil meninggalkan tempat itu.
Awalnya aku berencana ke rumah sakit untuk visum. Tapi aku tak tega melihat tubuh Maria yang sedang tidak terbungkus rapi menjadi kosumsi publick. Di tambah lagi dengan process yang panjang. Di taruh mana harga diriku sebagai suami yang membiarkan istrinya hampir Di kerjain seperti ini.
Aku memutar mobil ku menuju rumah. Tapi suara Maria yang mengeluh semakin terdengar aneh. Suaranya mulai meninggi Dan menyentuh naluri kejantananku. Aku tidak Bisa membiarkan Yulia juga melihat ini.
Aku berputar - putar Sejenak tidak tahu harus bagaimana.
Kami tak ada pilihan lain. Aku menginjak gasku lebih kencang Dan segera menuju tempat itu.
*****
Setelah sekian lama aku baru menggunakan statusku lagi sebagai anak ayahku.
Aku hanya cukup meminta kunci Pada penjaga yang tinggal Di rumah karyawan berjarak lima meter dari villa.
"Kunci Mang" Aku segera menegur Mang Agus yang sedang ngopi Di teras.
"Eh Den Harry.... Tumben lama nggak sini"
Aku hanya melempar senyum simpul "Sibuk, kuncinya mana.. Lagi buru - buru"
Mang Agus sudah biasa dengan kelakuanku Di masa lalu. Dia sepertinya tidak begitu ikut campur dengan urusan keluargaku. Dengan ringan dia menyerahkan kunci Villa ke padaku.
Kami hanya Berahir Saling melambaikan tangan sebelum berpisah.
"Ini Di mana Har?"
"Di tempat yang nggak akan Ada yang lihat kondisimu saat ini"
"Apakah tubuhmu masih sanggup Jalan?"
Maria mengangguk sambil meraih Tanganku, tapi tentu saja itu hanya kesombongan Maria saja. Baru tiga langkah tubuhnya sudah mulai rapuh.
Aku yang otomatis menangkapnya segera mengangkat tubuhnya ke kamar.
" Badanmu terasa makin Panas? "
Maria mengangguk sambil menanggalkan jas yang menutup bagian atas tubuhnya.
Aku beralih ke kamar mandi Dan meletakkan tubuh Maria di bathub, serta mulai mengisi dengan air hangat.
"Harusnya sedikit membantu meredakan"
Tapi sepertinya dosis yang berputar Di tubuh Maria lebih dari perkiraan ku. Aliran air yang menyentuh kulitnya secara perlahan. Membuat wanita itu jadi lebih sensitive.
Maria hanya panik dengan perasaan Dan ke anehan Di tubuhnya.
"Mar...!" Aku menarik tengkuknya Dan mendekat kan wajah kami " Jangan ratapi harga dirimu yang akan rontok Dan mungkin tak tersisa malam ini"
Maria hanya menyatukan kedua alisnya dengan suara tercekat yang justru terdengar sexy.
"Setidaknya, kamu melakukannya denganku yang sudah pasti suamimu"
Aku tak ada pilihan selain melepaskan apa yang sudah tertahan Di tubuh Maria. Tanpa menunggu aku langsung memanggut sepasang bibirnya Dan membiarkan anggota tubuhku yang lain perlahan menyatu dengan milikny.
Tentu saja, kali ini berbeda Maria tidak bisa menahan response tubuhnya yang penuh semangat. Semua gerakannyapun sangat alami Dan lentur. Ahirnya aku merasa kan juga efek yoga dari tubuh ini.
Kami ber pindah dato satu tempat ke tempat yang lain. Dan belum sekalipun refflek Maria yang biasanya suka mengulur waktu terjadi.
Dia hanya bersuara merdu Dan meliuk menikmati sesuatu yang sudah seharusnya memang milikku. Meski aku selalu mengharapkan hal ini terjadi, tapi rasanya ini tidak benar.
"Seberapa banyak kamu meminum minumanmu Mar"
" Hampir habis, aku kesal dia tidak... AUH.."
"Jawab seperlunya saja.." Aku kembali membungkam bibir Maria yang terus terpisah. Karena menerima serangan ku Di bawah sana.
Sesaat aku menghentikan activitasku, sekilas aku terbayang bila saja aku terus mengawal peluncuran Bio beauty sampai ahir Dan tidak mengikuti instingku.
" Har...." rintih Maria dengan jemari yang mulai melingkar Di pangkal pahaku. Dan bibir bawahnya yang tergigit.
Aku menepis jemarinya Dan menarik lengannya agar lebih tepat Di bawah ku.
"Beg me Mar!" Aku menatap mata kelam Maria yang biasanya garang, Namun kali ini jadi sendu. Dia hanya mengeerjap - ngerjap sesaat. Hingga...
"Please..."
Huh...."Yes... I will please you.."
Kami beractivitasi hampir semalaman. Dengan harga diri Maria yang sudah terobral. Sudah beberapa kali, aku berhasil membuatnya memohon padaku.
*****
Tentu saja Maria pasti terkapar lelah pagi ini. Energinya pasti banyak terforsir semalam. Rambutnya yang panjang membingkai wajah lelahnya yang justru terlihat merona.
Aku Sejenak menekan - nekan pipinya yang nampaknya empuk Dan ranum. Tanpa peduli apakah dia marah.
"Har..." Maria menepis jemariku.
"Good Morning" Sapa ku datar Pada wajah polos Maria yang sedang menarik kembali raasa gusarnya.
" do you have fun last night?" Aku mencoba mengkonfirmasi hasil kerja ku semalam.
Maria hanya terdiam dengan sepasang mata yang mengerjap pelan. Aku memilih untuk tak mengalihkan pandanganku.
"Su... Lit.... But is good" jawab Maria sedikit gugup.
Aku menarik nafas dalam - dalam Dan melemparkan pandanganku jauh ke arah jendela yang masih tertutup korden dengan rapi.
"Aku sangat berharap tidak pernah ada kejadian ini. Aku hanya ingin normal" Keluh ku tanpa sadar.
"Sorry.... Har.. Aku.."
"Sudah lah, yang penting kita masih selamat" Aku kembali mengarahkan pandangku Pada Maria yang kali ini sudah lebih menegaskan duduknya.
Wajahnya nampak lugu Dan culun ketika rambutnya cukup mengarah tak beraturan. Tanpa Bisa ku tahan tawakupun lepas.
"Apa yang lucu...? ." Maria mengulum bibirnya sendiri.
"wajah culunmu itu lucu" Aku mengacak lebih banyak rambut panjangnya.
"Jadi kita bagaimana sekarang? Sudah pasti luna tidak bekerja sama bukan? Dan mungkin sisanya" ujarku usai memanggut sepasang bibir Maria.
"Aku Sungguh tidak ingin mengambil langkah ini karena aku ingin menjaga tentang orang tua yang baik untuk Tania" Maria sedikit tertunduk Dan ragu.
"Maksudmu?? Ada cara lain??"
******