
Ucapan Maria tentang hak perasaan Dion membentuk rasa bersalahku jadi menebal.
" Yakin? soal pernikahanmu?" aku tidak sanggup menahan keresahanku.
Dion mengusap keringatnya dengan handuk kecil dari tas sportnya. "Jangan mulai bahas yang aneh - aneh, masak kita kalah lawan mereka" dagu Dion menunjuk ke arah om will Dan om Jonathan yang meneguk minuman soda sebagai perayaan kecil kemenangan mereka atas permainan basket kami.
"Sorry..."
" is OK! Masih ada ronde ke dua, kita pasti menang" Dion befikiran berbeda atas permintaan maafku.
"Ini soal cintamu sama Elena?"
Dion menatapku dengan senyum tipis "Beda usia Dan kasta memang bukan hal yang mudah Di terima"
Aku menghembuskan nafas panjang "Urusan itu cuma 10% dari kekhawatiranku"
"Jadi Ronde ke dua nggak?" teriak om Willy yang nampak cukup semangat.
"10 menit lagi Om!!!" teriakku sekalian melepas sesak Di dada.
"Sisanya, adalah karena masalah dalam keluarga kami. Aku tidak begitu ingin kamu terlibat di dalamnya"
Dion mengangguk anggukkan kepalanya, pertanda memahami keresahanku yang aku ungkapkan. "Elena berjanji tidak akan melibatkanku dalam politik bisnisnya"
"Ah... Cinta membuat kita mudah mempercayai seseorang dengan mudah" gerutuku yang tak yakin dengan rayuan Elena.
"Lagi pula, kalau saja aku memang terperangkap. Bukankah aku punya sahabat yang siap menyelamatkanku?" Dion beranjak dari duduk ya Dan berdiri tegak mengulurkan tangannya padaku.
Seberkas senyum dan dengusan keluar seirama dengan tanganku yang menyambut uluranya.
" Kita tumbangkan dulu para pria berumur Di sana, masak kita kalah. Malu sama usia dong!!" Dion membagi botol mineral water ya denganku Dan segera berlari ke arah lapangan. Menyambut tantangan om - om sok jago Di bawah sana.
Aku tak pernah berfikir bahwa Dion bisa begitu kasmaran. Dengan tanteku lagi huh..!
" Calon pengantin udah ready buat KO dua kali nih" sambutan om willy begitu kami Di lapangan.
"Tapi, Calon ayah lagi pengen menang.. Gimana dong" Sahutku penuh kelakar.
"Wah... Kita berdua jadi iba nih!!" tawa berderai Di antara om willy Dan om Jonathan "Kalau kalian menang, berarti kami lagi mengalah lho."
"Alasan classic penyelamat harga diri.. No way!!!" Aku menolak mentah - mentah.
"Mulai..!!" Dion sudah tidak sabar memulai pertandingan.
Pertandinganpun berlangsung cukup sengit Di antara kami.
Selama pertandingan Pikiranku masih terpecah dengan masalah pribadiku dengan Dion. Sejujurnya Dion benar, bahwa dia masih sahabatku hingga saat ini. Aku saja yang paranoid dengan kehadiran cintanya dengan Elena. Sosok yang selalu bertindak kurang nyaman di keluarga kami.
Kenyataan belum Di mulai tapi aku sudah mulai menghakimi Dion dengan prasangkaku sendiri.
3 points... Tembakan yang cukup lancar untuk penutupan rinde ke dua permainan basket kami. Dion langsung melompat memelukku.
"We are the winner Man!!" tanpa sungkan jemari kekarnya mengacak rambutku dengan keras.
"Siapa dulu... Harry!!" Aku melebarkan tawaku dengan lepas. Seiring doa dalam hati yang terpanjat hebat. Semoga hubunganku dan Dion tidak berubah.
"Sesekali membiarkan yang muda menang, kami sudah terlalu sering menang" om Willy menghampiri kami dengan nafas yang masih ngos ngosan.
"Ya jelas aja, kalau di hitung sejak kami masih merangkak" celetukku sekenanya.
Tawar di antara kami makin terdengar kencang.
*****
Tidak pernah ada kata sederhana dari Elena. Dan tentu aku tidak berharap pesta pernikahannya biasa saja, Namun juga tidak semegah ini. Pergaulan Elena rupanya mengalami krmajuan pesat ahir - ahir ini. Aku masih ingat pesta - pesta ya di masa lalu yang lebih banyak bertabur Celebrity.
Beberapa sosok politisi dan juga pengusaha serta keluarga konglomerat juga turut menghadiri pernikahannya. Apakah Elena benar - benar menikah?
Aku menggeleng lepas. Tanganku semakin erat mengenggam Tangan Maria yang melingkar di lenganku. Berbeda denganku, Maria nampak lebih bersemangat. Apalagi kalau tidak kesempatan bertemu Tania. Anthony pasti datang dengan Tania Di acara seperti ini. Dan dengan wajah ruang Dan ramah dia akan memperseilahkan Maria dengan leluasa bersama Tania, huh... Dasar pencitraan.
"Hiiii....!!!!" Mami tiba - tiba memotong Jalanku yang baru saja memasuki arena ramai pesta. "Lama tidak bertemu, ternyata Harry tidak bohong tentang kehamilanmu. Maaf mami amat sangat sibuk tidak sempat menjenguk" Alasan, Mami tidak pernah ada kesibukan berarti. Tidak ke kantor Dan dimanjakan dengan banyak pelayan Di rumah kami.
"Ah.. Ini Luna, Putri professor Henry Djatmiko" senyum sumringah penuh makna mengiringi pengenalannya.
"Luna..." Gadis cantik itu mengulurkan tangannya yang lentik ke arahku tanpa ragu "Apa kabar Harry.. Lama tidak bertemu"
Tunggu.... Apakah aku mengenalnya? Apakah ini Luna yang sama?
"Apa kabar juga Tante Maria" kata tante begitu tebal Pada kalimatnya.
Tunggu... Apakah dia juga mengenal Maria?
"Kamu mengenal Maria?"
Luna mengarahkan maniknya Pada Maria yang berdiri tegak di sampingku. "Ayahku yang mengenalnya, harusnya dia cukup menjadi seniman saja agar tidak perlu mencuri perhatianmu"
Aku menaikkan alisku tinggi tinggi, mencerna makna tersirat dari Mulut Luna.
" You are still the best on the bed.." bisiknya sebelum dia melangkah meninggalkanku bagai rubah yang mengibaskan ekornya.
No Way!!! She was that Luna... My friend with benefit during I am in university.
Sebagai lelaki normal, nafsuku tentu mengikuti langkahnya yang menggoda. Terutama aku sudah tahu persis godaan seperti apa yang di tawarkan wanita bergelar dokter specialist mata itu padaku. Tapi hatiku aku teguh kan tertancap Pada Maria.
Mami memang tidak pernah kehilangan akal, dia tahu sekali cara menggoyahkan pendirian seseorang. Bagaimana takdir menemukannya dengan Mami?