Sugar Mamy

Sugar Mamy
Cv


Adi memenuhi janjinya, bukan hanya mengirim CV dia juga datang menemuiku usai jam makan siang untuk membahas pekerjaan yang aku tawarkan.


Pembahasanku dengan Maria beberapa waktu lalu mulai membayangiku


****


"Bukankah kamu sudah bertahan dengan Anthony cukup lama Dan ada Persahabatan di antara kalian?"


Maria enggan membahas hal itu untuk beberapa menit. Namun aku tak bergeming menunggunya membuka mulutnya.


"Bercerai bukan berarti memecatnya dari jabatan CEO di perusahaanmu" Aku memancing dengan umpan yang lebih jelas.


"Anthony...." Maria menundukkan kepala sepasang bibirnya terkatup lebih rapat. "Dia cukup menganut patriaki dalam hal karir pula"


"Dan..."


"Tanpa sepengetahuanku dia berusaha mendapatkan private placements saham perusahaanku" Maria menarik nafas lagi dalam - dalam seakan berat rasanya untuk melanjutkan cerita buruk tentang ayah dari putrinya " Andaikan semua Di setuju, maka dia akan menjadi pemegang saham tertinggi dan selanjutnya dia bisa mengambil alih perusahaanku dengan kemampuannya"


Aku terkejut Dan heran dalam waktu bersamaan. "Bukankah dia menjadi CEO yang pertama di perusahaanmu bukan? "


Maria enggan mengangguk tubuhnya hanya mematung mengenang masa kehamilannya di masa lalu.


"Bukankah mencari keuntungan adalah pekerjaan setiap pembisnis?" Maria tersenyum kecut. "Alasan kehamilanku terjadi adalah karena aku tidak Bisa menceraikannya, dan akan tetap tidak mudah menceraikan suami yang tidak melakukan kesalahan seperti Anthony"


Aku mengernyit mencoba menebak arti kesalahan Pada kalimat terahir Maria.


"He doesn't betray me in our relationship, tapi dia menikamku dalam hal yang lain" jelas Maria sambil melepaskan nafasnya berat. "Aku perlu waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan semua bukti Dan saksi, hingga membuatnya bersedia menceraikanku dan menerima Pemecatan dirinya atau. Atau aku akan menuntutnya secara pidana dan perdata"


Ternyata Maria bukan sekali berurusan secara hukum dengan Anthony.


"Kenapa tidak dituntut aja, biar hancur karirnya"


"Dia masih ayah dari anakku"


Aku mendengus kesal, namun juga lega karena tidak perlu aku berfikir bahwa Maria akan melirik Anthony kembali apapun yang terjadi.


Dan aku yakin Anthony tidak akan mampu melakukannya di Tower High, karena hampir semua saham di miliki oleh keluarga kami. Kecuali jika Elena muncul an mulai mengambil langkah.


*****


Langkahku semakin cepat mengarah ke Adi.


"Terimakasih sudah datang" Aku langsung menyalami Adi dengan cepat.


Adi mengangguk dengan penuh rasa Hormat dan heran. Dia tidak menyangka akan posisiku di perusahaan ini. Lelaki cengeng yang di kasihaninya beberapa waktu ke belakang.


"Hidup itu mistery" Aku menyambut rasa heran ya dengan santai. "Aku sudah membaca dengan baik dan memeriksa CV kamu"


Adi hanya terdiam, masih bingung Dan malu atas perlakuannya dulu kepadaku. Mungkin dia mengira bahwa dia menghinaku saat itu.


"Ah iya pak"


Aku mengangguk meyakinkan "Kamu cukup baik dalam nilai kamu Di dunia finance, dan kamu mengambil kursus hospitality juga.. Hmmm.."


Aku membaca ulang CV Adi untuk ke sekian kalinya.


"Iya pak..."


"Untuk jabatan awal, saya akan menempat kan kamu sebagai analyst" Aku termenung sesaat "Tapi pekerjaanmu bersifat rahasia, jadi jangan pernah me ceritakan Pada siapa pun"


"Tapi perusahaan ini kan.."


"Benar... Tapi akan Ada divisi finance Pada masa depan. Saya berharap kamu akan memimpin saat itu Apabila kinerja kamu baik"


"Terus..."


"Yup, saya Akan menjadi atasanmu secara langsung. Data analyst ini akan menjadi pertimbangan buat saya apakah saya Akan mengakusisi perusahaan atau saya hanya berinvestasi. Rata - rata perusahaan yang kamu kerjakan adalah perusahaan yang belum go public, Namun tidak menutup kemungkinan saya Akan meminta analysis kamu Pada perusahaan yang sudah cukup dewasa dan go public"


Adi manggut - manggut mulai sedikit memahami situasinya.


"Untuk Minggu depan, kamu baca laporan ini dengan baik sebagai awal. Karena inj menyangkut kerja perusahaan induk saat ini "Aku menyerahkan laporan Dion beberapa waktu lalu Pada Adi.


" Kantor kamu ada Di kantor pusat Di mana istri saya bekerja, nanti saat dia cuti hamil saya Akan di sana menggantikannya sementara "


Adi masih diam Dan manggut - manggut seolah belum percaya apa yang dia dapat hari ini. Pekerjaan yang langsung melompat Pada posisi strategies.


" Anda yakin pak... Dengan keputusan bapak saat ini? "


" Saya sedang bertaruh dengan kamu, dan tugas kamu untuk membuat saya beruntung" Aku mengedipkan sebelah mataku sambil melempar senyum ramah pada Adi.


"Siap pak..!! saya akan berusaha semaksimal mungkin" Suara Adi saat ini cukup tegas dan gembira.


Terkadang kita cuma butuh orang yang pekerja keras dan bisa di percaya Di sekitar kita. Bukankah otak manusia semua memiliki volume yang sama. Soal kepintaran itu hanya urusan kesempatan yang kita berikan.


" Hi Mar... Urusanku dengan Adi sudah selesai, sisanya aku serahkan sama kamu"


"Hmmm... Kamu dapat yang kamu mau?"


"Sepertinya begitu"


"Thank you for recruiting staff so wisely" Puji Maria dari seberang sana.


"I got it from you"


Keberadaan Adi tidak bisa aku berita hujan kepada HRD dengan cepat. Aku sudah berdiskusi dengan Maria agar dia yang mengurus itu Di hari pertama Adi masuk kerja. Selain menghindari keresahan Dion aku juga tidak menyukai berurusan dengan Bu. Lia... Uhf!! Meski aku yakin dia tidak menggodaku seperti dulu lagi.


****