Sugar Mamy

Sugar Mamy
Dinner terahir


"Aku tidak masalah, bagaimanapun kita adalah keluarga" Ahirnya aku harus sedikit berbasa - basi.


Aku pun mempersilahkan Anthony untuk turut masuk ke dalam rumah. Bergabung dengan riuh Di antara anak - anak kami, dari ibu yang sama.


*****


" Makanan yang kamu pesan, cukup memanjakan lidahku. Hanya saja aku berharap melahap masakanmu ketika aku berkunjung ke rumahmu" Anthony tidak pernah berusaha sopan Di depan Maria. Bahkan setelah semuanya.


"Bukan salahku kalau kedatanganmu tak terencana" Maria menanggapi tanpa bersalah Di srla kesibukannya menemani staff home service restaurant Italy yang tak jauh dari rumah kami.


"Lagi pula ini restaurant favoritemu Di Kota ini, aku sudah cukup menjadi tuan rumah yang baik bukan?"


Maria cukup faham dengan selera Anthony. Tapi tidak dengan seleraku, fix aku mulai cemburu lagi.


"Tania... Do you want to dinner with us?"


Tania mencebik mendengar ucapan Maria. Tangannya yang mungil memeluk erat tubuh adik yang baru saja di kenalnya.


"OK... But you go to another room OK?"


"Yay...!!!" Tania bersorak gembira karena tidak perlu berhenti bermain.


" Bawa anak - anak ke kamar Yodha saja" Pinta Maria kepada kedua baby sitter anaknya "oh iya, tolong bawa pizza Dan cheese ball untuk menahan rasa lapar"


Maria nampak sibuk dengan wajah berseri yang sulit untuk di sembunyikan.


hingga dia kembali bergabung dengan kami Di meja makan.


"Aku mungkin tidak bisa berkunjung untuk beberapa tahun" Keluh Anthony dengan wajah kaku.


"Lima tahun, aku mengajukan Black list lima tahun" jawab Maria tanpa beban.


"Bukankah kamu lebih kejam dari padaku"


Maria tersenyum miring "Setidaknya aku menyediakan makanan kesukaanmu sebelum melemparmu keluar"


Aku tidak mengira Maria mulai tidak sopan Di depan Anthony.


" Kalau orang lain, pasti kamu sudah masuk penjara bukan? "Aku coba menghentikan topik playing victim yang mungkin keluar dari Mulut Anthony.


" Ravioly dengan sage cheese sauce? " tawar Maria ketika Sebuah ravioli dengan sauce hijau Di sajikan oleh waiter.


Aku dan Anthony memilih diam.


" Saya Mau...." Jawab Maria.


"Kamu tidak memesan appetiser?" Tanya Anthony yang seperti kurang puas.


"Aku hanya berniat ramah padamu, bukan menuruti seleramu"


Well... Maria ternyata memang selalu bermulut tajam Pada para suaminya. Meskipun mereka mantan.


Dan sepertinya Anthony hanya bersikap normal, dan menanggapinya dengan tanpa menjawab.


Makan malam berjalan cukup henning untuk beberapa saat. Diskusi lebih detail yang aku harapkan, tidak kunjung muncul.


"Aku selalu penasaran... Kenapa accentmu tidak begitu Italy? Meski kamu Italian?" aku mulai mengisi piring ku dengan penne carbonara.


"Aku tumbuh hingga remaja Di Nottingham Dan Di adopsi Di usia remaja oleh keluarga Italy ku" jawab Anthony yang juga mengisi Piringnya dengan menu yang sama denganku.


"Maria tidak menceritakan padamu?" Tanya Anthony.


" Aku tidak pernah berminat jadi ahli sejarah siapapun" Maria menimpalinya dengan cepat..


Wanita satu ini memang terkadang lumayan kurang ajar. Bagaimanapun Anthony lebih tua darinya. Namun baguslah aku jadi batal cemburu.


"Kamu langsung kembali ke Italy?"


"Tanya Pada istrimu, ke mana lagi aku bisa pergi"


Maria membersikan sudut bibirnya dari sisa sauce yang tertinggal. "Dia hanya akan ke Italy" Maria tersenyum seolah baru mendapat kemenangan "pastikan kamu menyelesaikan urusanmu tanpa bekas. Lima tahun Sebaiknya kamu gunakan dengan baik" Lanjutnya Di tujukan Pada Anthony.


"Renata?" Nama itu muncul spontan dari mulutku. Bagaimanapun dia adalah istri sah Anthony.


Anthony menarik nafas Dan mengarahkan pandangan pada Maria "Kamu masih non alcohol?"


"Aku tidak pernah berubah"


Anthony mengisyaratkan waitress untuk mengisi gelasnya dengan sparkling water.


"Keahlianmu sebagai ahli Di bidang IT tentu belum tumpul" Celetuk Maria yang menyela.


"Baguslah... Kamu mengakui sedikit kecakapanku"


Maria hanya tertawa lirih sebelum dia mengisi mulutnya dengan jenis minuman yang sama.


"ya... Ya... Bidang itu, cukup menghasilkan uang dengan jumlah lebih dari layak" Aku coba menjadi katalisator dengan dua emosi yang bergesekan.


Maria memanggil salah satu staff yang berjaga Di kitchen kami Dan mengisyaratkan sesuatu.


"Aku memesan Cannoli untukmu, kebetulan mereka memiliki ricotta cheese original from Sicily" Maria membantu Waitress menyajikan cannoli ke piring dessert Anthony.


"setidaknya kali ini kamu mengusirku dengan cara yang manis Mar?" Anthony mendengus kesal.


Di antara aku yang sedikit tidak mengerti maksud dari kalimatnya.


Anthony tidak berkata - kata lagi. Sepesang bibirnya mengatup menutupi activitasi mulutnya yang sedang memprocess makanan special itu.


Derit kursi terdengar sedikit nyaring setelahnya.


" Sebaiknya aku tidak berpamitan dengan Tania, aku tidak ingin melihat dia menangis Mengantar kepergianku" Anthony mulai berkata lagi yang mengisyaratkan maksudnya berpamitan.


Mariapun dengan cekatan beranjak dari duduknya Dan mengarahkan tangannya ke arah pintu keluar.


"Kamu sudah selesai?"


"Aku Di usir Har.."


"Aku tidak ingin bersitegang denganmu saat ini. Dan ini rumah suamiku, aku punya kewajiban me jaga kedamaian" Maria membela diri seiring dengan langkahnya yang ringan menuju arah tangannya tadi.


Aaah... Aku mulai mengerti, Maria telah memberikan hidangan penutup. Ketika makanan Di piring Anthony juga belum habis.


"Jangan kecewakan Tania" Maria melambai ketika Anthony membuka pintu mobilnya.


Apakah aku harus menitip pesan yang sama untuk Renata?


Ah... Tapi aku rasa itu tidak perlu, salah Renata membiarkan suaminya bertindak Di luar batas. Apakah aku jadi sedikit kejam?


"Aku rasa Renata akan tidak sulit menghadapi situasi suaminya saat ini. Setidaknya kejadian ini lebih ringan sangsi sosialnya dari Pada Anthony harus meringkuk Di jeruji besi?"


Meski aku masih gundah, setidaknya Maria ada benarnya.


*****


" Benar kamu tidak pernah tidur dengan Anthony? " Entahlah Kenapa aku jadi mulai penasaran lagi dengan hal ini.


Aku harus mengakui Anthony terlihat sangat rupawan hari ini.Apalagi beberapa tahun yang lalu. Sebagai laki - laki saja aku mengakui keunggulan mantan suami istriku.


" sejarah bukan terus untuk di ulang, begitu juga pernyataanku" Maria membenarkan letak kepalanya yang perlahan membenam Di pusat bantal.


"Tidak tergoda?"


"Sudah bukan urusan lagi" jawabnya singkat tanpa membuka mata.


"Kamu itu selalu menyebalkan ya Mar"


Maria membuka maniknya yang seolah menahan kantuk.


"Apakah kamu bersikap menyenangkan kalau aku membahas Luna?"


Aku kalah telak "Aku akan menjawab.." Aku mengamati expresi Maria yang belum cair.


"Aku lebih menyukai kalau kamu yang di bawahaku Dan aku tidak keberatan kalau kamu memilih posisi Sebaliknya...." Aku mencolok dagu Maria yang sedikit terangkat "Karena aku dengan mudah mengenalikan pinggulmu"


Aku segera mengambil posisi siaga.


"Ngantuk Har.... Kita punya dua anak Di urus"


"Hanya satu jam..." aku mengajukan durasi.


" lima belas menit"


"Tiga puluh menit" Aku mengalah lima puluh persen.


"Cih.... Dua puluh saja"


"Kita lihat nanti...." Bukankah ini hak ku... Lagi pula tubuh kecil Maria tidak pernah berhasil menolak ku.