
Luna ternyata adalah luna yang sama saat aku menempuh pendidikan di luar negeri. Sebenarnya kami tidak berbeda, selain jenis kelamin. Aku yakin dia tidak tertarik denganku kecuali dia sempat berharap lebih saat kami bersama di masa lalu.
Penampilannya yang Anggun sesuai dengan isi otaknya yang encer. Aku tidak menyangka dia mengambil dokter specialist saat memutuskan untuk tetap di luar negeri. Yang lebih memukau adalah Kenapa dia mulai tertarik dengan kehidupan yang dia umpatkan setiap kami bersama.
"Kakakku meninggal dalam kecelakaan, aku tidak punya pilihan selain menggantikannya" Luna menjawab rasa penasaranku ketika kami bertemu di pintu toilet, rupanya dia bisa menafsirkan arti diamku tadi. " Namun pilihanmu lebih mengagumkan? Jadi kamu yakin akan berahir dengan Maria? Aku dengar kondisinya saat ini tidak begitu menguntungkan"
Luna menghantam ingatanku akar dari permasalahan Maria, yang jelas itu adalah aku.
"Hidup ini bukan hanya Saling menguntungkan"
Luna mendengus dan tertawa kecil "Apa kamu sudah mulai termakan cinta?" Luna meneruskan tawanya yang terasa nengiris hatiku.
"Itu bukan urusanmu, aku punya hak atas cara hidupku"
"That's true!!! Tapi sepertinya ibumu tidak berfikir demikian"
Oh yeah.. Mami!! Wanita satu itu perlu berhenti mengurusiku. Ini juga salahku karena terlalu membiarkannya melakukan banyak hal untukku di masa lalu.
"As my respect, banyak lelaki lain yang lebih berpotensi menguntungkan keluarga mu yang kamu juga cukup mengenal mereka. And that's not me!" Aku mendengus penuh keluh kesah atas usaha mami yang cukup gigih.
"Yakin??" Luna menahan tanganku "Tidak ada yang tersisa antara kita?"
"Dari awal tidak ada apa - apa di antara kita" Aku menegaskan sekali lagi pendirianku "Tidak kah kamu melihat istriku sedang mengandung anakku, itu adalah masa depan yang sudah aku pilih"
Luna melepaskan lingkaran jemarinya. Langkahnya terdengar cepat dan segera membaur dengan kerumunan.
Ah.. Luna!! Untung kamu muncul sekarang, andai kamu muncul lebih awal mungkin.... "prak!!" Aku memukul jidatku sendiri. Nafsu lelaki pasti susah di bendung kalau melihat wanita seindah Luna. Tapi akal dan hatiku masih bisa menjadi pengontrol yang baik.
Mungkin kah Dion juga begitu dengan Elena?
Tawa bahagia antara Elena dan Dion menjadi pwehiasan paling mencolok untuk gemerlap pesta. Sudah rahasia umum kalau Elena berusia lebih matang. Desas - desus di antara tamu juga mulai bersahutan.
Bukan hanya aku yang curiga tentang Elena yang tiba - tiba menikahi Dion. Terutama ketika Dion bukan siapa - siapa dan tak lebih dari karyawanku dan Maria.
"Kamu masih muda, tapi setidaknya tunggu usai Maria melahirkan bila berniat selingkuh" Tiba - tiba Anthony muncul menghentikan langkahku dengan segelas sampange di tangannya.
Aku mengangguk "Bagus! Kamu mulai mengakui kalau kamu sudah tua, maka dewasa lah" mulutku sudah malas menahan diri hari ini.
"Kamu hanya anak manja yang bernaung di bawah Ketiak Maria, tahu apa kamu soal dewasa"
"Hah..!!"aku tertawa Sejenak tanpa perlu tahu apa yang sedang aku tertawakan" Aku yakin kamu belum mabuk hanya dengan segelas champagne "
Aku mendekatinya dengan wajah lurus dan tak berkedip." Asal kamu tahu, process kehamilan Maria saat ini bukan lewat lewat insaminasi. Aku melakukannya dengan cara dewasa sebagai laki - laki " sepasang mata Anthony seakan mau menelanku hidup - hidup.
Aku memberani kan diri memeluk tubuh tegap Anthony, memberi kesan bahwa kami cukup akrab
" Ckckck.. Bagaimanapun aku harus berterima kasih kamu telah menjaganya dengan baik. She was amazing there!! " bisikku dengan penekanan tajam di setiap katanya.
Aku yakin Anthony sudah terbakar amarah saat aku memindahkan tubuh kami.
"Simpan tenagamu untuk Renata, dia layak diperlakukan dengan baik. Aku yakin Renata cukup mengerti arti dewasa" Aku sengaja memberikan senyum paling indah sebelum meninggalkan Anthony
"Prang!!!" terdengar suara gelas yang nampak pecah. Anthony tidak mungkin membantingnya. Dia cukup bertenaga dengan jemarinya.
Dari awal pesta ini sudah memberiku firasat cukup buruk. Andai bukan Maria yang ingin datang, aku tidak mungkin ada di sini.
"Mar... Ikut Aku.!"
"Ada room available?" aku mengeluarkan Black card dan id card ku sekaligus tanpa berfikir.
Recepsionist segera menyerahkan kunci dan menginstruksikan room boy untuk mengantakan kami.
"Har... Are you insane" Maria memekik tertahan padaku. Yang sengaja aku tidak gubris. Kami suami istri, tidak ada salahnya.
Aku memanggut bibir Maria yang masih menegang karena marah yang tertahan. Ketika kamu sudah berada di dalam kamar.
"Harr...!!! Kamu mabuk?" Maria coba mengidentifikasi kegilaan yang terjadi pada suaminya saat ini.
Aku memilih terus melanjutkan niatku.
"Harr!!!" Maria kali ini sedikit berteriak ketika aku dengan cepat menuju intinya.
"Sssst..." Hanya itu yang aku suarakan.
Maria tidak menyukai sikapku, sepasang matanya seakan akan terbakar. Dia pasti sadar, dengan perut sebesar itu, tak ada gunanya protes dariku. Dan Maria sangat membenci rasa ketidak berdayaannya.
Aku yang gusar antara nafsu dan hatiku, hanya memperdulikan apa yang ingin aku luapkan. Mungkin ingatan tentang bersama luna sempat terbersit. Tapi wajah dominant Maria saat menawari kontrak pernikahan saat itu lebih menarik hasratku saat ini. Aku mengutuki diriku sendiri yang selalu hanya di bawah kontrol orang lain, bahkan istriku.
Persetan dengan julukan pewaris tunggal, pemuda paling bermasa depan cerah. Bahkan wajah rupawan yang selalu di idamkan banyak orang. Buatku semua hanyalah rangkaian kutukan yang belum berujung.
Beberapa kali Maria menyebut namaku, yang jelas bukan karena dia sedang menikmati permainan. Tapi karena...
"You are sick..." Maria meringis seakan menahan sesuatu ketika aku telah selesai.
"Sorry.. Mar..!!" Aku mengatupkan sepasang bibirku kuat - kuat "I was..."
"Ke rumah sakit Har...!!! " teriaknya dengan suara tercekat
Mataku melompat segera. "Sekarang???"
"Now!!" Maria menahan sakit dalam jeritannya. Aku segera menghubungi emergency call hotel untuk meminta bantuan medis. Dengan cepat aku membungkus tubuhku dan Maria dengan bathrobe.
Sorot kemarahan cukup ber rapi - Api di mata Maria nampak makin menjadi.
"Cepat... Istri saya mau melahirkan" pekikku ketika petugas medis datang.
Ambulance segera bersiap di lobby Hotel membawa kami menuju rumah sakit tempat Dr. Eva praktek. Untung jaraknya tidak jauh.
"Booking atas nama Maria Tirta Janitra" Aku segera mengumumkan Pada staff Receptionist rumah sakit ibu dan anak itu.
Dengan cepat Mariapun segera menghuni ruang operasi. Dr. Eva tergopoh - gopoh datang dengan beberapa kembar kertas.
"Mohon tanda Tangan" tanpa pikir Panjang aku membubuhkan tanda tanganku seraya memohon. "Tolong selamat kan anak dan istri saya dok"
Dr. Eva mengangguk cepat dan berlalu tanpa sepatah katapun.
Aku berdiri penuh kecemasan dan penyesalan. Tak henti - henti aku mengutuki diriku sendiri atas apa yang aku lakukan,.
"Bodoh - Bodoh Bodoh...!!!"
****