
Maria hanya ternganga menangkap ucapanku. Maniknya membulat seakan melihat hantu Di siang bolong. Dan aku hanya sanggup menahan agar warna merah Di wajahku tidak meningkat drastis.
"Ja... Jadi... Bagaimana?" tanyaku terbata.
Maria menarik nafas dalam - dalam,
"Aku baru tahu kalau di dunia ini ada mabuk belajar" ucap Maria sambil berdecih " lebih baik kamu tidur sebelum otak kamu korslet"
"enak aja, aku ini termasuk lulusan terbaik"
"Iya benar, kalau begitu kamu cepet tidur supaya kepandaian kamu cepat kembali ke otakmu"
"Jadi jawabannya iya atau tidak?" aku mencoba mengembalikan obrolan kami Pada topik inti semula.
"Nggak perlu Di jawab"
"Eh... Aku perlu lho!!"
"Tidur.... Udah malam"
Aku menaruh wajahku di pangkuan Maria menghalangi pandangannya yang masih tertuju ke arah buku. Aku mengembangkan senyum di wajahku dengan mengarahkan pandanganku lurus ke arah matanya.
"Tidur Har..." pinta Maria lagi.
"Iya...?" aku coba meyakinkan perasaan Maria yang lagi ragu. "Iya?"
Maria mencoba memalingkan wajahnya menghindari tatapan ku yang tentu sulit Di tolak.
"Mar...."
Telapak Tangan ku mencoba mencegahnya.
"Iya aja ya.. Di coba dulu... Lagian udah nikah juga, sambil menyelam sambil minum air" Aku mengangkat kedua Alisku.
"A..."
"sssssst... Aku anggap iya aja"
Aku memutuskan sepihak
"Lagi pula aku cukup puas kok punya istri kamu" Aku menarik kepalaku Dan mulai berpindah ke bantal sebelah Maria.
"Karena istri sepertiku transferanya lancar" Goda Maria padaku.
"Bisa jadi...!! Gimana kalau aku kasih bonus? sebagai tanda kita jadian nih Mar!"
"Aku ngantuk..." Maria segera merebahkan badannya Dan mengambil posisi membelakangiku.
"menahan Atau tidak memberikan hak orang lain itu Bisa dibilang dzalim, terutama kepada suami " Aku mencoba mencari celah membenarkan diriku.
"kamu paling Bisa cari pembenaran" Maria memutar posisinya menatap diriku yang tersenyum penuh kemenangan.
"Punya istri kayak kamu.... Udah wajib hukumnya mencari kebenaranku sendiri, kalau nggak otakku entar berubah jadi mesin bukan manusia"
Aku memankas jarak Di antara kami.
"Iya..?"
"untuk Apa?"
Aku tidak menunggu Maria mengeluarkan kata lebih. Tanpa permisi aku segera memanggut sepasang bibirnya.
"Tunggu... pake pengaman"
"Nggak usah... Nanti Bisa di atur"
" ta... Tapi..."
Aku memanggut lagi sepasang bibir yang bergetar penuh khawatir.
"Kita ini nikah Mar Dan kita sedang bulan Madu, hamil itu wajar..."
"Ta..."
******
Langkah Maria begitu cepat, ketika kaki kami baru menginjak bandara. Tidak henti - hentinya Maria memandangi jam tangan minimalist berwarna rose gold Di Tangan kirinya.
Meski Keinginan bertanya tinggi, tapi setelah mengenal Maria sekian lama diam adalah pilihan yang bijak.
Aku mencoba setidaknya menyatukan Tangan ku dan Maria. Tapi aktivitas Maria yang selalu cemas itu selalu menggagalkan niatku. Harus aku akui aku bukan budha atau nabi yang bisa menunggu Maria menyambut aksi romantisku.
"ehem..." Saat ini Tangan Maria sudah ada dalam genggaman ku. Seiring dengan wajah Maria yang nampak mulai terkejut menatapku.
"Pasangan harusnya seperti ini" Aku menegaskan genggaman ku.
"Ooo... OK"
Langkah Maria semakin cepat ketika kami sudah mengambil koper - koper kami, dengan alasan yang masih belum aku ketahui. Kerja? Tentu tidak....
Masalah dengan Melissa belum terdengar ada penyelesaian. Maria sama sekali tidak mendiskusikannya padaku.
Sosok Mas. Ario setengah berlari menuju arah kami wajahnya sumringah sambil berkerling ke arahku.
Hmmmm.... Dia normal kan?
"Nampaknya bulan Madu lancar nih..." ledeknya yang langsung membantu Maria mendorong kopernya Dan menyerahkan map berwarna merah tua.
" kamu boleh mulai siapin untuk ijin hak cipta logo Dan nama yang kita diskusikan dulu, sisanya memyusul" sahut Maria cepat dan langsung melepaskan Tangannya beralih membuka per halaman Di dalam map.
Mas. Ario hanya menggeleng Dan menyeringai. Sepertinya dia sudah biasa dengan kebiasaan Maria.
"Aku tidak menyangka dia begitu creative" komentar Maria akan isi Map Di tangannya ketika kami sudah sampai di dalam mobil.
" Kita melaju langsung ya... Ngobrol sama Jalan" tanggal Mas. Ario yang sudah di belakang kemudi.
"Kita ke mana?" bisikku yang sudah gatal mengahiri jadi penonton.
"Menemui Ayah Melissa, sebelum jadwal kampanye beliau Di mulai" suara Maria terdengar sedikit Berat Dan mulai teratur.
"Kita nggak mandi dulu, pulang dulu atau makan dulu?"
"kamu tidak memberi tahunya?" mas. Ario nampak ada sedikit hawatir.
"Tidak" jawab Maria singkat padat jelas Dan menghawatirkan ku.
Bagaimana tidak menghadapi Ayah Melissa dengan kondisiku saat itu. Bukan soal penampilan, aku pasti tidak kurang. Tapi masalah psikologis sebagai seorang sugar Baby. Peranku yang sering pasif Di samping Maria pasti akan jadi sorot an yang aku tidak suka.
"Kamu sempat kursus Public speaking seingatku" jemari Maria tiba - tiba melingkar di pangkal lenganku. Lebih hangat Dan lembut dari biasanya.
Dan ketika menatapnya dengan alislu yang berkerut, Sebuah senyum manis penuh makna dengan mata teduh selembut musim semi menyambutku.
Aku segera mengalihkan pandanganku Pada Mas. Ario yang baru saja usai memarkir mobilnya Di basement Sebuah gedung. Senyum yang hampir juga aku dapati darinya.
"Aku hanya butuh Sebuah kalimat pembuka sebelum inti masalah harus aku sajikan" suara Maria yang merdu menggaung jauh sampai lubuk hati.
Aku menghela nafas panjang... Karena aku sadar aku tidak memiliki Jalan keluar kecuali berenang Pada permainan Maria yang tak terpetakan olehku.
"Jadi aku harus bagaimana..." suarakupun ikut lemas seiring dengan semangat hidupku yang saat itu menurun.
Ayah Melissa bukan orang biasa, selain pengusaha yang cukup ternama Dan piawai. Kekuasaannya juga hampir tak terbantahkan Dan yang lebih penting beliau adalah kandidat orang nomor satu Di Kota ini. Kalau aku bermasalah dengannya, hidupku Bisa di pastikan sudah setengah Jalan menuju kesuraman.
*****
Maria berjalan berdampingan denganku dengan sangat tenang Dan senyum merekah seperti biasa. Diikuti Mas. Ario hampir nampak cemas, Namun tidak secemas diriku.
Berbicara Di depan umum tentang Sebuah konflik tentu lebih mudah Di banding me nyerang langsung Pada target yang penuh kuasa..
"Hahaha...." Tawa langsung berderai dariku, ketika kemari Maria menari kecil Di pinggang ku.
Ting...
Belum usai kepalaku berputar menoreh protes Pada Maria pintu lift ternyata sudah terbuka Di lantai yang kami tuju. Lantai yang penuh dengan para pria bertubuh tegap dengan seragam yang cukup keren atau lebih Bisa di bilang seram untuk saat ini.
"Maria....."