Sugar Mamy

Sugar Mamy
Masa Lalu


Maria masih mengunci mulutnya Rapat - Rapat. Dia di sudutkan Antara keluarga atau kepercayaan kekasihnya.


"Kamu tahu bagaimana masa depannya, yang pasti akan terganjal olehmu?" seorang pria paru baya sedang menjelaskan duduk perkaranya Pada Maria "Mungkin tidak sepenuhnya, tapi pastinya tidak akan maximal"


"Saya mengerti posisi saya om" Maria menjawab dengan lirih.


"Kalian masih sangat muda, bukan hal yang sulit untuk jatuh cinta lagi"


Maria hanya mengangguk kali ini.


"Kamu Bisa fokus dengan kuliahmu, urusan pengobatan Dan kebutuhan adik - adikmu. Saya pastikan terjamin, kalau kamu setuju. Kalau tidak..."


"Apakah saya Akan dipaksa untuk setuju? Misalnya dengan ancaman Dan sejenisnya?" Kali ini wajah Maria menatap berani.


"Jangan melihat saya terlalu jahat, saya hanya ingin memastikan bahwa Bisnis saya Akan tetap Bisa memberikan kehidupan yang baik bagi seluruh karyawannya. Dan saya yakin Jonathan tidak bisa melakukannya denganmu"


"Hmmm...." Maria mencoba menata kesedihan Dan pengertian yang saat ini bertentangan "om tidak salah, tapi saya Dan Jonathan juga tidak. Namun harus ada yang menjadi korban bukan?"


Pria paru baya itu hanya menunduk Dan meneguk tehnya.


"Dan korban itu harus saya, karena nilai saya yang tidak seberapa. Baik secara nominal atau social"


" Saya tidak bermaksud merendahkan sama sekali"


"Saya cukup tahu diri Om. Dan saya akui saya Naif" Maria menarik nafas dalam - dalam. Ada kesempatan yang lebih baik, tapi juga ada pengorbanan yang tidak ringan.


"Jadi kamu setuju..?"


Maria mengangguk "Tapi saya ingin mengubah nilainya"


Pria itu sedikit heran, bagaimana mungkin gadis muda itu menginginkan lebih dari yang ditawarkan.


"Saya tidak butuh uang" Maria langsung menegaskan."Saya ingin proyek Green village Dan pengembangannya beberapa tahun kedepan ada Pada saya"


"Hah..." Pria itu tertawa "Kamu masih amatir, bagaimana mungkin saya Bisa memberikannya padamu"


"Tapi Om menunjuk Jonathan dari pihak om bukan? Saya Akan berusaha menjadi setara dengannya, meski kami tidak bersama"


" Kenapa kamu tidak kuliah saja yang benar Dan tidak perlu memusingkan pekerjaan"


"Kalau saya seperti itu, kejadian tawar - menawar akan hak saya sebagai manusia kemungkinan akan terjadi lagi" Maria menanggapi cepat. " Saya Akan keluar dari kampus besok"


"Kamu Sungguh serius?"


"Saya sangat serius" Maria menata emosinya. Sebenarnya, dia juga memang tidak akan melanjutkan kuliahnya yang baru menginjak semester pertama. Biaya adalah faktor, tapi lebih dari itu dia juga harus bekerja untuk masa depan keluarganya.


"Jadi... Biaya rumah sakit, dan semua yang om janjikan sebelumnya. Saya anggap Down payment untuk kontrak kerja sama kita"Maria melanjutkan dengan wajah tertunduk" Dan untuk bonus awal tolong bantu saya untuk mendirikan PT untuk Kelancaran legalitasnya "


Pria itu tidak henti tertawa. Dia melanjutkan melahap dimsum yang sudah dingin Di meja mereka.


" Sepertinya Jonathan mengajarimu dengan benar, padahal aku berencana akan bekerja sama dengan Tower High yang sudah sangat pengalaman. Dan kamu memaksaku untuk berpindah denganmu yang mencoba saja belum pernah?"


"Saya juga Pada kondisi yang sama, saya berencana untuk serius Dan tulus dalam urusan percintaan saya. Tapi saya Di paksa memilih antara keluarga Dan kebahagiaan saya. Padahal saya berhak atas keduanya Dan saya layak" Maria berani mengangkat wajahnya, "ini satu - satunya pilihan yang saya tawarkan, paling tidak anda memiliki angkanya untuk di pertimbangan".


"Bagaimana denganku?" Jonathan tiba - tiba muncul ke dalam ruangan VIP itu "Aku juga punya hak, karena ini menyangkut hidupku"


Meski terkejut, Maria tak mampu menatap wajah kekasihnya yang telah digadaikannya. Dalam hati dia sangat berharap Ayah Jonathan akan menolak permintaannya, sehingga semua akan kembali seperti semula.


"Apa kamu sangat membutuhkannya Mar?" Jonathan melempar tanya dengan suara yang bergetar. Namun hanya isak yang menjawab.


"Baik, aku menganggap iya" Jonathan menarik nafas dalam - dalam "Asal dengan satu syarat"


"Apa...." Ayah Jonathan menanggapi cepat.


"Perempuan yang aku nikahi harus pilihan Maria, dia harus memastikan bahwa aku bahagia Dan tidak akan pernah kembali kepadanya atau dia akan kehilangan semuanya"


Jonathan Dan ayahnya menatap Maria yang masih menyelesaikan tangisnya.


"Saya rasa, saya tidak punya pilihan bukan?"


Ayah Jonathanpun mengangguk menyetujuinya. Dia kemudian mengulurkan lengan kanannya "Deal..?"


Maria menatap Jonathan yang masih menahan marah Dan Sedih Di matanya. Tapi dia tahu mereka berdua pasti tidak akan sanggup melawan ayah Jonathan. Dan kesepakatan ini adalah yang terbaik.


Maria mengulurkan tangannya menyambut dan me genggam erat." Deal"


"Sampai ketemu besok di kantor team legal saya, kalian sudah tahu kan?"


Maria Dan Jonathan hanya terdiam, hingga pria itu pergi.


"Ahirnya kamu menjualku juga Mar" Desis Jonathan yang masih berdiri tegak Di tempat sebelumnya.


"Kamu sudah tahu dari awal kalau aku matre" Maria mengusap bekas air matanya dengan tissue Di meja "Paling tidak nilaimu hampir seluruh kehidupan keluargaku Dan masa depanku"


"Jangan sok baik, kalau kamu matre akui aja"


"Aku tidak menyangkal aku matre... Tapi aku tidak menerima uang dari ayahmu, aku bekerja untuk uang itu" Maria memberanikan diri menghampiri kekasihnya yang sudah hampir berstatus mantan.


"Aku akan menghandle proyek Green Village, bersamamu. Dan aku pastikan aku tidak akan melanjutkan pendidikanku" lanjut Maria sambil memakaikan Jaketnya pada Jonathan yang basah Dan berantakan usai menembus gerimis hari itu. "Pastikan kamu bekerja dengan baik Dan membimbingku, jadi andaikan suatu saat kamu mampu kembali padaku. Aku tidak akan selemah saat ini"


Jonathan hanya terpaku antara terkejut, Sedih dan patah hati. Tidak ada kata yang terucap lagi darinya hari itu, hanya sepasang matanya yang menatap langkah lesu Maria meninggalkan ruangan.


******


Maria bergegas menuju rumah sakit, hari ini hari terahir batas pembayaran perawatan ibunya. Dia sangat berharap Ayah Jonathan menepati janjinya, mengingat ayahnya yang belum juga ada kabar sejak tempat kerjanya tertimpa benacana alam.


"Ibu saya Di mana Suster?" Tanya Maria ketika sampai di ruangan ibunya.


"Ibu anda Di pindah kan ke ruangan VIP, dan akan menjalani operasi malam ini" suster itu menjelaskan "Untuk ruangannya Bisa di tanyakan ke receptionist"


Maria segera berlari ke receptionist dan menanyakan kamar ibunya. Meski dia akan kehilangan cerita cintanya, tapi dia cukup bahagia dengan hasilnya.


"Plak...!!!" Sebuah hamparan mendarat ke pipinya saat dia baru memasuki ruangan ibunya.


"Paman!!" Desis Maria, sambil menahan hawa Panas yang menjalar "Kenapa?"


"Tega - teganya kamu mencoreng nama baik keluarga kita" Suara kakak tertua ibunya menggema


"pak.. Ngomong Di luar saja" bibi Maria langsung menyeret keduanya keluar "Biarkan ibumu tenang"


Maria hanya ikut dalam kebingungan tentang apa kesalahannya.


"Kita memang butuh uang, tapi kamu nggak usah jual diri... Malu" Paman Maria mulai menjelaskan dengan nada marah ya.


"Maksud pak de apa? Saya sama sekali tidak faham"


"Lelaki tua yang tadi membayar semuanya, adalah lelaki yang sama yang masuk ke ruang VIP"


Maria mengerutkan keningnya "Tapi Maria tidak menjual diri, Maria bekerja untuk uang itu"


"Pelacur juga pekerjaan, pakde juga tahu itu"


"Tapi mana ada pekerjaan seharga itu, hanya dengan sekali bertemu Nduk?"


DeG!!! Paman Maria tidak salah, hanya kenyataannya yang tidak benar. Namun Maria bingung bagaimana dia menjelaskan.


Hari itu dia hanya memaku menerima semua cacian Dan nasehat tak beralasan dari kerabat ibunya. Entah bagaimana mereka tahu dia pergi ke tempat itu dengan ayah Jonathan. Tapi Kenapa sumber itu tidak melanjutkan cerita, bahwa Jonathan sang kekasih juga ada Di sana?


"