Sugar Mamy

Sugar Mamy
Meyakinkan


Cinta yang tulus itu memang ada, tapi sepertinya tidak Berlaku Di dunia Maria. Wanita itu sudah terlanjur menganggap bahwa tidak ada hal yang gratis dalam kehidupan nya. Termasuk urusan percintaan.


"Kamu selalu berterus terang, bahkan ketika kamu cemburu padanya" Widya menanggapi tentang konsultasi Maria.


"ternyata aku sesak melihatnya menginginkan wanita lain"


" terima saja perasaan itu, lagi pula kalian sudah menikah, hal itu wajar. Sekalian kamu belajar mencintainya tanpa ragu"


"Entahlah... Sulit bagiku untuk mempercayainya Pada bagian tertentu"


"Itu wajar, dia tidak pernah mengatakan kamu jelek Dan bahkan sering mengatakan Sebaiknya. Itu tidak salah, kamu memang cantik dengan caramu"


Maria termenung.


"Aktivitas ranjang kalian bagus?"


" Iya" Maria menarik nafas "Dia tidak pernah melewatkan kesempatan. Tapi aku jadi takut, ketika suatu saat dia menghilang"


"hidup ini penuh resiko seperti Bisnis yang kamu Jalani, tapi dy tidak pernah menyebut wanita lain. Atau bertemu wanita lain tanpa sepengetahuanmu?"


"Tidak... Sejauh ini aku lihat dia cukup terbuka"


"Dunia ini tak adil, bila kamu terus berfikir begitu. Selalu ada kebaikan bila kamu berfikir baik" Widya membubuhkan catatan pada sejarah konsultasi Maria siang itu.


"Entahlah, aku masih belum Bisa melakukannya dengan baik. Bukankah aku masih harus menemuimu hanya untuk sekedar curhat?" Maria mulai membuka matanya perlahan Dan menegakkan punggungnya dari kursi relax milik dokter Widya. Psikolog pribadinya.


"Ini lebih baik dari Pada aku punya teman, karena kamu terikat Pada kode etik"


"Mar... Apakah kamu tidak ingin memulai sedikit melihat suami tampanmu itu? Bersenang - senanglah sedikit, keindahan dunia ini juga perlu di nikmati" Widya tersenyum ramah dan teduh seperti yang terjadi selama ini Di antara mereka.


"Kamu menyukainya?"


"Sangat wajar mengagumi ciptaan tuhan yang sangat menawan itu...dan sepertinya dia menyenangkan. Berdasarkan ceritamu tentang kekonyolannya"


"Jangan lupa aku membayarnya"


"Jangan lupa juga aku dan semua karyawanmu juga kau bayar. Tapi, kami tidak selalu memuaskanmu seperti sikapnya padamu"


Maria termenung Sejenak


"Apakah kamu ingin aku mengetes ketulusannya?"


Maria menggeleng "tetaplah menjadi bagian dari rahasia hidupku"


Widya mengangguk Dan menerima kantong coklat yang di keluar kan Maria dari handbagnya.


"Jadi kamu akan terus membayarku dengan cara cash?"


"Lebih baik begitu"


"Dan kita Akan terus Pura - Pura tidak mengenal satu sama lain?"


Maria menunduk sambil tersenyum "percaya lah aku tidak ingin menjadi sangat rumit seperti ini. Tapi kenyataannya memiliki rahasia adalah harus untuk jenis kehidupan sepertiku"


"Tentu saja... Tapi tetap pertimbangkan suami barumu. Bukan karena dia yang tampan Dan menarik, tapi mungkin karena dia sepertinya tidak berfikir rumit"


Maria tersenyum untuk kesekian kalinya Dan mengangguk pelan, sebelum ahirnya dia meninggalkan ruangan Dr widya lewat pintu belakang.


"Ini masih sangat pagi bukan?" Desisnya sendiri ketika dia menghentikan Sebuah taksi Di pinggiran Jalanan Kota yang masih relative sepi.


"Apakah bapak sudah sarapan?" Tanyanya Pada Yulia.


"Tidak bu... Beliau sudah pergi ke kantor, setelah menggendong Yodha keliling kebun depan"


"Ah... Begitu......, bisa kirimkan video yodha untukku?"


"Terimakasih Yul..."


Maria mengamati Yodha yang tumbuh semakin mirip dengan ayahnya.


'Bagaimana mungkin tidak ada satupun dari mereka yang mirip denganku' Batinnya. 'Apakah Tuhan memperingatkanku untuk tidak melupakan ayah mereka? Meski kadang aku ingin menghapus salah satunya "


******


jam kantor sudah lama telah Berahir Maria masih enggan menghubungi suaminya yang sedikit memercikkan perselisihan Di malam sebelumnya.


" Harry... Apakah kamu Sungguh menawarkan cinta itu dengan tulus? "


****'


Gemericik air terdengar dari kamar mandi. Tanpa sengaja Maria menangkap sosok hari dari celah pintu yang tidak tertutup Rapat.


"memang indah" Batinnya.


****


Oh God..!!"


Harry terkejut ketika mendapati Maria yang masih menatap beku sosokny dengan surai yang terurai.


"See..?? Aku lebih mirip hantu dari pada malaikat" Maria menggulung rambutnya dan menyatukannya dengan pencil."Aku akui aku kalah, tapi aku benar - benar tidak bisa menggoda" Maria melanjutkan ucapannya.


' benar kan? Kata cantik itu tidak tulus. Aku sesekali nampak menyeramkan' Batinnya kecewa.


Aku memperhatikn lagi Maria dari ujung hingga bawah. Dan aku menarik nafas dalam dalam. "Aku cuma mau kamu bersedia bukan Ahli" Harry segera mengalungkankan handuk basahnyake leherku


" Iiih... Basah ini "


" Iya aku tahu " sepasang manik Harry mulai mengamati Maria yang mulai memegangi kedua sisi handuk di kanan dan kiri" Coba kamu kerucutin bibir kamu ".


" Fungsinya apa? "sedikit rasa dongkol berpacu dalam hatinya.


" Itu menandakan kamu minta dicium "


" Kamu tidak pernah melakukan itu " Maria menarik kedua Telinga Harry dan segera memanggutku. Dia menyukai suaminya itu, tapi dia cukup tahu diri untuk tidak berharap lebih dari kontrak yang mereka sepakati.


" Wuah... Itu benar, rupanya kamu memang lebih suka yang sedikit kasar"


"Itu yang kamu lakukan kemaren padaku"


"yeah... That's true"


Maria menyunggingkan senyumnya dan segera memutar badannya.


"Eits...!" Harry menarik kerahnya."bukankah seharusnya kamu belajar klo masih belum Bisa?"


Tapi Harry yang selalu seperti ini membuat Maria ragu untuk tidak melepaskannya.


*******


Karya ini Berahir Di pernikahan Pada Bab sebelumnya. Karena tuntutan platform harus terus update sampai ahir bulan.


Author akan update Berdasarkan sudut pandang Maria Pada beberapa sudut kejadian


Mohon pengertiannya πŸ™πŸΌπŸ˜Š


****'