Sugar Mamy

Sugar Mamy
Mempertaruhkan


Nama nama dalam daftar ini Sungguh sangat memusingkan. Aku mencoba mengidentifikasi mereka dengan mencarinya Di social Media. Mungkin saja ada salah satu yang bisa aku kenali wajahnya.


Tapi, ternyata rata - rata mereka sudah berumur atau memang tidak memiliki social media.


Kalau orang tua luna aku hafal betul, tapi kalau paman Dan bibinya aku sama sekali nggak ingat. Dari awal kami tidak berniat se akrab itu. We just having fun dengan status friend with benefit.


Luna sama sekali tidak tertarik menikah denganku. Dan begitu Sebaliknya. Sungguh aneh tiba - tiba dia muncul dan berniat serius denganku.


"Sandrina Kohadi?" nama ini agak familiar tapi yang jelas bukan temanku. Tapi aku pernah mendengar nama itu.


Dia putri dari fajar Kohadi seorang pejabat tinggi perusahaan bumn. Wajahnya sih aku benar - benar asing.


"Dion Bisa ke ruanganku?" aku berharap Dion Bisa membantuku mengingatnya.


'*******


"Hmmmm dia mantan pacar temen kita kalau nggak salah" Dion berfikir Sejenak "Tapi siapa ya?"


Sejenak ruangan hening.


"Butuh banget ya Har?"


"buaangeet...." Aku menekankan nadaku "Ingat nggak?"


"Kayaknya kita hang out beberapa kali... Hmm klo nggak salah..." Dion kembali memandangi foto - foto wanita cantik itu dari gallery social medianya "Pacarnya Ronald bukan? Yang paling lama tuh"


Aaah.... Iya iya...Ronald


"Yang paling sering di selingkuhin?" timpalku " Putus nyambung mulu kan?"


"Tepatnya yang ngelindes handphone Ronald beberapa kali" Dion mempertegas ciri - cirinya.


Kami tertawa serempak mengenang masa itu. Ketika kami sering mengejek Ronald yang sering susah di hubungi hanya karena kecelakaan handphonenya.


Ahirnya.... Ada titik terang juga.


Tawa kami segera mereda seketika, ketika kami mulai sama - sama mengingat bagaimana perangai wanita bernama Sandrina itu.


Uhf... Kenapa wanita ini juga bar - bar. Udah tahu Ronald brengsek masih Di pacarin, giliran sakit hati kelakuannya Di luar nalar. Sepertinya mayoritas pawang biaya darat harus galak ya, atau frozen seperti Maria.


"Sekarang lebih sulit.... Ronald pacaran ma dia udah hampir satu dekade. Nah aku deketnya ma siapa ya waktu itu?"


"Nah.. Mana aku tahu?" Dion mulai menjauh dari layar computer Dan mengambil duduk Di depanku "Cewek - cewek yang deket ma kamu udah Pada kayak jailangkung, bukan hanya datang tak Di jemput Dan pulang tak Di antar, tapi penampakannya juga sulit di deteksi"


Ronald tidak salah. Contohnya Luna, sebagai anak orang terpandang gossip tentangnya tentu jadi incaran. Jadi kami lebih sering menyewa private villa dari Pada hotel.


"Aku nggak pernah ikut acara party yang luar kota, maklum karyawan sejati. Beda ma kalian" Lanjut Dion mencoba mengingatkan. Bahwa para wanita yang pernah bersamaku itu lebih sering datang Di acara private party kami Di luar kota. Mengingat lebih sedikit mata yang tertuju.


" Ada mantan kamu yang lagi minta tanggung jawab ya?" Dion tiba - tiba menuduhku tanpa dasar "Dan kamu lupa mantan yang mana"


"Hush...!!!" Aku menampik keras "Sorry... Aku mah selalu main aman. Seperti pepatah mencegah lebih baik daripada mengatasi"


Tawa berderai Di antara aku dan Dion.


"Coba hubungi Ronald aja, kalian pasti hangout ke luar kota bareng kan?"


"hmm.... Tapi Lucu nggak sih aku nanya siapa pacarku ke temanku"


Kami sama - sama tersenyum beku "Yang pasti aneh" Tanggap Dion "Tapi kenyataannya kamu lupa kan siapa mantan kamu. Maksudku mantan friend with benefitmu itu"


Bertahun - tahun aku membanggakan kebiasaanku yang tidak terikat dengan siapapun. Bahkan dalam hubungan Asmara. Namun kali ini aku mulai sedikit menyesal karena untuk kembali Dan bertanya tentang mereka, rasanya aku sedang membuka lembar ketika aku menganggap bahwa wanita itu Bisa di ganti kapan saja.


Aku menatap Dion dengan tajam, berharap dia Bisa memberiku sedikit pilihan. Tapi...


Dion hanya mengangkat Bahu Sejenak sambil mengatupkan kedua sisi bibirnya dengan Rapat.


Tuuuut... Tuuuut.... Tuuuut....


Aku men dial nomor handphone Ronald beberapa kali Dan belum ada respon, hingga...


"Siapa....?" Sebuah suara perempuan yang sepertinya baru saja bangun menyambutku.


"Ini handphonenya Ronald kan?" Aku coba memastikan lagi kalau pemilik nomor yang aku pencet adalah Ronald.


"Nald.... Ada yang nyari..." Wanita Di seberang itu memanggil dengan suara nyaring. Dan tak lama kemudian terdengar suara gemericik air.


" Siapa...?" Tanya pemuda yang aku yakin adalah Ronald. "Halo...?"


"Aku Harry...."


"Hah.... Kamu Har.... Udah hidup lagi kamu?" sambut Ronald "Gimana rasanya bangkit dari kuburan yang di bikin bapak kamu?" Candanya.


" Lebih baik dari Pada dengar suara kamu yang lagi check in"


Ronald tertawa terkekeh "Kenapa? Udah kelar kehidupan bebas kamu?" Terdengar samar Ronald sedang berciuman. Dasar nggak pernah berubah " Masih betah Di sangkarin sama janda?"


"Rasanya.... Kayak aku ketemu habitat ku sih, bukankah janda lebih menggoda"


Ronald tertawa lepas " whooah seleranya udah pakai rasa nih! Sampai lebih milih janda daripada celebrity ckckkc" Ronald tak melepaskan kesempatan untuk mengejekku.


"Bagus dong, saingan kamu berkurang... Anyway, aku butuh bantuanmu yang jelas bukan uang atau kekuasaan" Aku mulai membahas pokok masalah yang jadi tujuanku.


"Hmmmm.... Nadamu serius banget"


"Emang urusannya serius nih!" Aku mulai sedikit kurang sabar dengan gaya slengekan Ronald yang nggak kelar - kelar " Kamu udah pakai baju belum, jangan sampai kamu mati masuk angin abis jawab telphone dariku"


Sekali lagi Ronald tertawa lepas "Tenang aja, aku ada penghangat alami. Buruan ngomong.... Aku lagi sibuk nih" Ronald terkekeh sekali lagi.


"Kamu ingat nggak cewek yang aku bawa saat kita liburan ke Villa Sandrina yang di tebing?"


"Ah.. Kenapa bawa - bawa nama Sandrina sih. Aku lagi move on nih.."


"Common Man..! Aku dukung gerakan move on kamu. Tapi jawab dulu pertanyaanku"


"Kamu yang berbuat aku yang di suruh mengingat cih" Ronald berdecih Dan diam Sejenak.


"Kayaknya temen kuliah kamu yang kayak Bidadari itu? Siapa namanya...." Aku masih diam tidak berani menerka.


Dalam hati aku berdoa bahwa wanita itu bukan Luna.


"Siapa namanya... Ingat?"


"Hmmmm...... Tunggu... Ada tattoo... Sayap Di punggungnya"


"Oh....!!" Aku menanggapi dengan lutut lemas.


"Kamu nggak ada niatan jodoh in aku ma Dia? Aku available nih"


"Ckck.... Yang sedang sama kamu sekarang aja pasti keringatnya belum luntur. Udah daftar tunggangan baru" Keluhku Pada Ronald yang masih jauh dari kata bertobat.


Aku menutup telphonku segera. Sebelum kata - kata sampah dari Mulut Ronald lebih banyak mengisi ruang dengar ku.


"Siapa....?" Dion yang sedari tadi memperhatikan obrolan kami dengan segera bertanya.


"Itu..... Yang punya tattoo Di punggungnya Dan teman kuliah ku"


Aku dan Dion sama - sama menghembuskan nafas panjang...