
Aku hanya mengangguk sambil menunggu Maria menelan sup Di Mulutnya. Hanya sekedar berjaga - jaga, kita tidak pernah tahu bila tiba tiba aku akan berpindah alam saat usai memakan sup yang nampak menggoda ini.
"Ada yang kamu ingin sampaikan...?"
Tuh... Kan... Maria mulai ingin mendengar pesan terahir ku.. Aku meletakkan sendok Di tanganku dengan kasar.
"salah ku apa Mar...?" aku mulai kehilangan rasa sabar.
"Ah.... Bagus... Kamu yang mulai bertanya" Maria juga membalas dengan meletakkan sendoknya dengan nada serupa. "Perhatikan aku baik - baik.... Apa ada sesuatu yang kamu mulai sadari? Atau terlihat cukup familiar?"
Hmmm... Aku memperhatikan Maria yang duduk mematung Di hadapanku dengan mata cukup tajam.
"Kamu memakai Kemejaku? " itu yang aku sadari.
" Kamu ternyata cukup pintar..."
Kenapa kamu menukar isi koperku dengan barangmu..
"Ah.... Soal itu!!!" Aku memang sengaja melakukan itu saat Maria sedang mandi, salah sendiri membiarkan kopernya tidak terkunci. "Hanya berjaga - jaga kalau saja kalau aku tersesat atau kamu tanpa sengaja meninggalkanku sendiri, jadi kamu akan secara naluriah berusaha menemukan ku" Jelasku yang 89% adalah jujur. Karena setelah apa yang terjadi selama bulan Madu Bisa jadi kalau Maria memecat ku sepihak.
"CK.. CK.. Kamu mulai bersiasat"
"Hanya semacam seni bertahan hidup" Aku melempar senyum manis, berharap Maria akan melunak karenanya meski aku tahu itu tidak akan berhasil.
"Makanlah..!! Penuhi otakmu dengan nutrisi agar kepandaianmu lebih bermanfaat Di masa depan"
Hanya itu.....? Tidak ada hukuman atau setidaknya suara yang melengking atau omelan?
"Kenapa?" Maria mempertanyakan aku yang sedang bengong. "Kamu mau menunggu aku berubah pikiran?"
Aku menggeleng otomatis seiring dengan suara perutku yang sudah mulai menyela keheningan.
Tanpa menjawab lagi, aku segera menelan sup ayam yang ternyata cukup lezat.
"Kamu tidak memasukkan semacam sianida kan? " Tanyaku yang berhenti mengunyah.
"Apa kamu berharap aku melakukannya?"
"Terimakasih... Selamat makan Mar!"
Case closed, jangan berbicara Pada sugar Mamy saat suasana hati yang buruk. Cukup tenang Dan menunggu... Hingga...
******
Malam sudah semakin larut, mataku yang Berat terbuka perlahan karena hasrat ke kamar mandi yang tak tertahan.
" Maria...? " Sedang di mana dia selarut ini.
Aku baru menyadari keberadaannya yang tak nampak di setiap sudut kamar.
"Mar..." yang ahirnya aku temukan istri ku sedang memangku laptopnya Di sofa ruang tamu.
"Kamu bangun?"
"Hmm..." jawabku yang sudah terinfeksi virus Maria.
"what's up?"
"Besok ada meeting Di kantor aku ingin memasukkan beberapa bahasan baru"
" besok kita liburan ke tempat Tania bukan?" aku mengingat kan rencana kami yang aku rasa tidak akan berubah.
"Benar... Maka dari itu aku harus menyelesaikannya sebelum besok"
"Tidak ada yang bisa membantu pekerjaanmu"
"Kamu...." Mata Maria segera mengarah kepadaku.
"Sekali - kali nggak papa kan?" Maria yang selalu hidup sehat biasanya cukup memusuhi jenis minuman ini. Tapi sekarang dia ada Di apartemenku yang tidak punya peraturan yang sama.
Maria nampak ragu..
"Just one time.."
Bujukku yang ahirnya Di terima ya.
"Cheers!!"
"Kenapa harus aku Mar..?" akupun melanjutkan perca kapan kami yang belum usai.
"Untuk Apa...?"
"Membantu pekerjaanmu"
"Karena itu jabatan barumu"
Maria benar, aku harusnya membantunya kalau aku sudah aktiv menjadi Direktur cabang. Paling tidak aku Bisa meringankan pekerjaannya.
"Apakah aku tampan?"
Maria mengangguk.. "Kamu juga menarik.. Kalau itu yang kamu tanyakan" Maria melanjutkan. "Tidak ada yang salah dengan mu secara fisik atau mental, kamu memang masih muda.. Mungkin ituembuatmu kurang serius"
Aku meneguk minumanku tanpa melepas pandang dari wanita Di depanku yang nampak sedang beristirahat dari lelahnya.
"Aku ingin jadi ibu yang baik..." ucap Maria usai menghela nafasnya dalam - dalam "Aku ingin membangun keluarga yang baik meski hanya aku dan Tania. Aku ingin lebih banyak waktu dengannya tidak seperti sekarang - sekarang ini"
"Apakah dengan mengajakku bergabung akan membuat rumit?"
"Aku sedang memikirkan itu Har...!"
Maria menatapku lekat - lekat sambil menarik nafas sekali lagi.
"Masa depanmu masih Panjang, duapuluh tahun kedepan... Aku Bisa mempercayaimu untuk mengelola perusahaan" Maria menailkan kedua kakinya Di pangkuanku Dan mulai memandang jemarinya sendiri "Karena itu aku sangat berharap kamu Bisa fokus dengan tujuanmu ketika menerima tawaran ku dan jangan terpancing dengan egomu yang merasa tertantang menaklukkanku"
Maria mungkin mengira hal yang lebih luas ketika aku memilih menikahinya, tapi hari itu aku hanya berfikir untuk menolak perjodohan dengan Melissa yang masih enggan hilang meski aku terusir dari rumah. Dan tentunya hidup Dan berkarir dengan layak seperti orang Pada umumnya.
"Mari buktikan Pada Ayahmu bahwa kamu Bisa tanpanya, aku akan membantumu hingga Bisa memiliki 30% saham PT. Pegassus Globalindo Dan.. in return.... Bantu aku memiliki Tania tanpa terganggu"
Maria sungguh nampak serius.
"Kalau aku pakai perasaan Mar...?" aku sedikit interupsi tentang hubungan kami yang sudah meningkat dari sisi ku.
"Aku sudah pernah gagal dengan Anthony yang Pada ahirnya mengorbankan persahabatan kami. Aku tidak ingin mengulang kedua kali"
Kini aku mengerti Kenapa Maria enggan memberi hatinya padaku.
" Andaikan suatu saat kamu menemukan perempuan yang benar - benar kamu suka Dan memilih untuk mengahiri pernikahan kita, tidak ada dari kita yang sakit hati... Terutama Tania yang akan tetap menganggap kamu sebagai figure lelaki yang baik"
Maria membuatku teringat Pada Mami yang sampai sekarang masih tidak ada tanda ingin menghubungi ku. Bahkan, selain menjadi penerus Papi dia sama sekali tidak memikirkan Jalan lain.
Maria menguap lebar.... Matanya juga nampak sulit untuk bertahan dari kantuk.
"Tidur yuk!" Aku memgulurkan tanganku.
"Aku tidur Di sini saja... Malas Jalan" jawabnya sambil tersenyum Dan membenarkan tubuhnya untuk berbaring.
"Aku gendong....? "
"nggak usah.." jawabnya dengan suara lebih lirih..
"Setidaknya maximal kan aku selama kita masih bersama" Aku menggumam sendiri..
Karena hingga saat ini aku masih menyukai Maria Dan tidak berniat mengganti kedudukannya dengan siapapun.