Sugar Mamy

Sugar Mamy
Merelakan


Elena berdiri tegak di samping mobil mewahnya. Tampilannya yang selalu mencolok tentu saja mudah menarik perhatian.


Dua sejoli ini benar - benar merumitkanku, baru saja aku membereskan urusan suaminya. Kali ini istrinya yang mulai merepotkanku.


"Kamu Bisa menunggu di dalam dari Pada menarik perharian seperti itu"


"Aku ingin semua orang tahu, ketika kamu mengabaikanku"


"Oh.. OK! Kamu Bisa berjemur sesukamu, mintalah tolong Pada satpam, ketika kamu butuh sesuatu. Aku akan masuk ke dalam, seperti yang kamu tahu aku bukan pengangguran" Aku menutup jendela mobilku dan melewati Elena begitu saja.


Aku berharap dia pergi begitu saja. Tapi..


"Aku mencari Dion" sapa Elena yang ternyata sudah berdiri tegak ketika aku memasuki lobby.


"Oh... Semoga berhasil" Aku kembali melewatinya, dan sekali lagi berharap dia pergi.


"Kamu pasti tahu di berada di mana" Tak kusangka Elena mengikutiku.


"Dion sudah dewasa, dia Bisa memberitahumu kalau dia mau. Tidak ada urusan denganku"


"Andai saja perempuan, aku bisa melaporkanmu atas Pasal perzinaan"


"Aha...!!" Aku menghentikan langkahku dan mengambil posisi untuk menghadapi tanteku yang selalu nampak gila di mataku. "Jadi kamu mau main polisi denganku?"


Elena hanya tercekat.


"Memohonlah padaku, aku sudah sering merayu Maria"


"Huh... Aku malas bernegoisiasi upahnya denganmu" Elena berdecih dan kembali mengikutiku yang melanjutkan langkah ke arah lift.


"Jadi....???" Tanyaku yang terhenti di pintu lift.


"Aku tetap ingin Dion kembali"


"hmmm..." Aku berfikir Sejenak "Apakah kamu sungguh membutuhkannya sebagai Dion? atau kamu membutuhkannya untuk yang lain? Urusanmu dengan Maria misalnya" Kami Saling menatap untuk beberapa saat "Jangan lupa aku masih keponakanmu"


Aku segera memasuki lift yang sudah terbuka dan meninggalkan Elena yang mulai sibuk dengan pikirannya sendiri.


******


Senja seakan segera mampir. Sosok tegap dan tampan menjadi tamu yang tak di perkirakan hari ini. Tubuhnya bersimpuh di depan gadis kecil yang sedang menenteng boneka kelinci berwarna ungu.


"Ini juga rumahmu" Sebuah belaian di daratkannya di kepala gadis kecil itu yang masih bingung tentang di mana dia berada.


"Tania...." sepasang kaki ramping Maria segera muncul di teras dan menjulurkan tangannya meraih gadis berambut coklat yang menggemaskan. "I miss you" Maria menciumi gadis itu tanpa cela..


" Harry belum datang, aku terpaksa menerimamu di teras saja" Maria kembali memandangi wajah cantik yang Memanggilnya Mommy.


Anthony hanya tersenyum simpul. Tanpa menjawab dia mengambil duduk di salah satu kursi jati.


"Ah... Mbak Manda... Lama tidak berjumpa" Tanpa melepaskan tangannya Maria menyambut mbak Manda yang mulai repot membawa koper milik Tania dan miliknya.


"Yul... taruh Yodha di box dulu, kamu bantu mbak Manda" perintah Maria yang masih dengan atmosphere kegirangan. "Oh iya telpon lukman juga suruh datang ke sini.. Buat bantu - bantu"


"Baik bu..." Yulia segera mengikuti perintah Maria.


"How long daddy will going to work... Mom?" tanya Tania dengan polosnya.


Maria mengalihkan pandangannya Pada Anthony yang sedang memaku menatapnya.


"Just pray for the best sweet heart" Timpal Anthony ringan tanpa melepas pandang Pada Maria..


"Mbak.. Manda, bisa kenalkan Tania Pada adiknya. Kamu juga Yul... Sisa kopernya biar lukman yang bereskan" pinta Maria dengan berat melepaskan putri kecilnya ke tangan mbak Manda.


"Aku sengaja ingin menanyakan sesuatu, tanpa suamimu itu tahu" Anthony berdehem Sejenak " Menjengkelkan melihatnya selalu menempel padamu"


"Aku tidak keberatan, dan itu sangat wajar"


"Kamu bahkan tidak memasukkanku ke dalam rumahmu hanya karena dia belum datang?"


Maria mengangguk tanpa ragu "Itu peraturanku" Maria memasang senyum seperti biasa "Langsung saja ke intinya, pertanyaanmu"


"Hmmm... Yeah..!" Anthony sedikit mencondongkan badannya dan menggaruk dagunya yang sedikit berbulu.


"Bagaimana kamu mengetahui keterlibatanku, jelas Luna tidak akan membuka mulutnya"


Maria membuang muka otomatis dengantawa kering yang bernada pelan. "Kamu selalu menolak keunggulanku" Desisnya.


Kali ini Maria menegaskan tubuhnya. Sejenak dia menyilangkan kedua lengannya dan mengarahkan sepasang maniknya tanpa kedip ke arah Anthony.


"Zat addictif yang di berikan padaku dan Nando akan tidak berbekas setelah 24 Jam?" Maria tak gentar dengan percikan amarah yang mulai muncul "jenisnya tidak pernah ada di peredaran negeri ini. Siapa lagi yang bisa mendapatkannya selain kamu" Maria tersenyum dan membuang nafasnya dengan berat.


"Luna? Tidak mungkin dia berurusan dengan berandal penuh resiko, kecuali barang itu di serahkan secara suka rela oleh sindikat mereka tanpa syarat atau mungkin...." Maria menggantung ucapannya " mantan gembongnya "


Kali ini sepasang manik Anthony tertutup Rapat. Jemarinyapun mengepal dengan erat.


" Pesawat jetmu mendarat siang hari sebelum kejadian. dan segera kembali ke eropa beberapa jam setelahnya "


" Kamu selalu teliti dan penuh insting, apakah aku harus berterima kasih"


Maria menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Seharusnya..!! Andaikan kamu bukan ayah dari Tania... Masalah tidak akan selesai semudah ini"


"Apakah kamu berhitung denganku?"


"Hitunglah, aku masih menang. Bukankah wanita pujaanmu tidak sudi memiliki keturunan darimu.. tapi aku tidak keberatan setelah proposal tobatmu. Tapi sayang aku melewatkan satu hal.." Maria memalingkan wajahnya dan berdecih.


"Kamu hanya tobat dari obat terlarang bukan dari kelicikan otakmu" Maria menegaskan kakinya.


"Pulanglah! hadapi masalahmu di tempatmu berasal. Aku tidak akan menutupi soal dirimu dari anak kita. Kalau memang kamu mencintainya. Jadi lah manusia baik. Dan jangan pernah libatkan Tania dalam jejak gelapmu "


*****''


"Anthony??" aku membelalak melihat sosok lelaki yang sedang duduk di teras rumahku adalah Anthony. Bahkan mereka sepertinya sedang membahas hal yang serius hanya berdua dengan Maria.


"Dia mengantarkan Tania" Maria menjawab penuh senyum sambil melambaikan tangan.. dan tangan yang lainnya mengarahkan ke arah Tania yang sedang menikmati rumah barunya dengan gelak tawa bersama mbak Manda.


"Rupanya Anthony salah jadwal, aku juga tidak tahu kalau dia datang lebih awal" Maria menghambur ke arahku dan meraih tas kerja di tangan kanan ku.


"Aku berhak curiga kan?" Bisikku Pada Maria yang nyaris tak terdengar.


"Aku suka kamu cemburu" Senyum Maria semakin sempurna.


"Kamu Bisa bermain bersama Tania untuk beberapa saat, sebelum kamu pulang. Aku rasa Harry tidak keberatan menemanimu selagi aku menyiapkan makan malam"


Aku tidak suka Anthony makan malam bersama kami. Aku ingin lelaki itu Enyah dari hadapanku selamanya.


"Pahamilah dia sebagai seorang ayah yang baik" Maria menasehatiku seolah sudah menebak isi dalam Pikiranku.


Ssssst...


Dasar Maria, terkadang dia terlalu Bisa melihat kebaikan di banding keburukan.


"Aku tidak masalah, bagaimanapun kita adalah keluarga" Ahirnya aku harus sedikit berbasa - basi.


Aku pun mempersilahkan Anthony untuk turut masuk ke dalam rumah. Bergabung dengan riuh di antara anak - anak kami, dari ibu yang sama.