
"Kita janjian Di sini? Kenapa nggak Di kantor aja?"
"Dia kerja di sini"
Maria hanya mengerutkan keningnya menahan keheranan Di benaknya.
"Nah itu dia" Aku bersemangat menghampiri sosok waiter yang tidak asing lagi bagiku "Adi Kurniawan kan?" todongku pada sosok waiter yang baru usai mengantakan makanan ke meja sebelah.
"Ah mas Ganteng, masih ingat nama saya?" Seyuman ramah khas milik adi menyambut ku."Selamat sore bu.." sapa Adi kepada Maria.
"Dia istri ku"
"Oh... Iya iya,.... Ada apa Mas?"
"Kelar shift jam berapa?"
"Masih satu jam lagi"
"Hmm..." Aku melirik ke arah Maria Sejenak. "mumpung masih sepi Bisa ngobrol dikit?"
Adi sedikit menggaruk kepalanya" Tapi saya berdiri ya Mas? "
Aku mengangguk mengiyakan." udah berapa lama kerja di sini? "
" sekitar tiga tahun "Jawan Adi cepat dengan wajah yang agak penasaran.
" di tempat kerja ku ada lowongan, kayaknya Cocok sama kamu "
" oh masnya kerja di cafe juga, pasti cafenya rame "
" CK.. Bukan "Aku menepis prasangka tak berdasar milik adi" kalau boleh tahu pendidikan terahir kamu apa? "
" Sebenarnya saya lulusan finance, tapi cari kerja tidak mudah"
Ah... Berarti punya dasar yang tidak buruk.
"Oh.. OK.. Kami pesan croissant dua Dan Earl Grey tea satu sama cappuccino satu" pesan ku tanpa Tanya dulu ke Maria.
"OK mas.. Siiip" Adi meninggalkan kami untuk memproses order kami.
Pucuk Di cinta ulam tiba, aku tidak menyangka seorang lulusan finance Bisa Berahir tiga tahun jadi waiter. Rencana dan takdir memang tidak pernah terprediksi, termasuk soal Elena Dan Dion. Hmmm serta aku dan Maria.
"Kamu menyukainya?"
Aku mengangguk cepat "Aku punya rencana dengan dunia finance"
Maria memicingkan kedua matanya "Apakah aku layak buruk sangka?"
"Harusnya kamu berbaik sangka, lagi pula kondisi perusahaan belum pulih benar. Hanya satu dua perusahaan yang kembali bekerja sama dengan kita"
"Hubungannya?"
"Aku ingin menciptakan peluang"
"Bukankah harusnya aku tahu?"
"Ini mau Di kasih tahu, tapi nunggu presentasinya selesai. Mungkin Minggu depan, jadi kita urus soal Adi dulu"
Maria mengangguk ragu."Aku tidak berharap sempurna, tapi pastikan nilai kecewanya cukup terbayarkan"
"Sudah waktunya aku menunjukkan hasil investasi ayahku secara terpisah dari inangnya"
"Maksudmu?"
"Aku pastikan kamu aman kalau saja rencana ini berjalan"
Maria memilih diam Dan mencoba menerjemahkan dengan pengertiannya sendiri tentang ucapanku.
Selang lima belas menit, Adi datang dengan pesanan kami.
" Apa kamu tertarik bekerja Di bidang finance?" Tanyaku tanpa basa - basi "Itu akan lebih baik sebagai career plan kamu dari Pada seorang waiter bukan?"
"Itu mudah, yang penting kamu berniat kerja dengan baik"
Adi mengangguk mantap.
"kirim CV ke email saya segera beserta kapan kamu Bisa mulai kerja"
"Hmm.... Tapi.. Soal itu.." Adi seolah enggan mengungkapkan sesuatu "Gaji..."
" saya naik kan 50% dari gaji kamu Di sini untuk tiga bulan pertama, kalau kamu kinerjanya bagus, naik 25% Lagi Dan bila tiga bulan berikutnya kamu saya gaji dua kali lipat"
Adi Dan Maria sama - sama terpaku menatapku.
"Aku serius!!"
"Kamu tidak menanyakan lagi soal penggunaan uangku?" Maria menegaskan protesnya usai Adi berlalu.
"Gaji dia akan aku bayar dari uangku, kamu akan menggantinya ketika menyukai hasilnya"
Hmmm....
"Ayolah... Mar..! Kasih kesempatan aku membangun Bisnis dengan caraku. Berada Di sisi mu telah membuatku belajar banyak. Aku rasa aku sudah mulai Bisa mengambil resiko saat ini" Entah rayuanku mempan kali ini "Bukankah sudah saatnya kamu melihat hasil dari didikanmu ini"
"Aku mulai penasaran, hanya karena Elena Dan Dion, tiba - tiba kamu punya Sebuah rencana Bisnis cukup besar"
"Aku me rencanakan nya sudah lama hanya saja aku baru yakin melakukannya, ketika aku sadar tak ada kayu yang tak akan di te... bang"
Ucapanku menggantung ketika sosok Elena muncul di pintu cafe, Sungguh sangat mudah mengenalinya. Bukan karena penampilannya yang mencolok.
"tapi memang dia cukup memiliki fisik yang susah di lewat kan" Maria menganggu gerutuanku dalam hati.
"Kamu melihatnya juga?"
"Tentu saja, makhluk - makhluk seperti kalian susah di lewat kan"
Jangan mendekat... Jangan mendekat.... Belok ke kiri.. Dan jangan ke sini. Aku berharap Elena tidak melihatku.
"Tidak mungkin dia tidak melihatmu" Tebakan Maria benar. Wanita cantik yang memiliki garis keturunan yang sama denganku ini Sungguh sulit mengacuhkanku.
"Harry... Nice to see you" sapanya yang langsung mengambil duduk Di meja kami tanpa permisi. "Bagaimanapun kita keluarga bukan"
" Susah memang mengingkari hubungan Sarah denganmu, seharusnya kamu mengunjungi Mami dia pasti kesepian"
"itu salah ayahmu sendiri, bukan urusanku"
Aku mengangguk - angguk membenarkan, Kenyataan tidak bisa di pungkiri. Membantu tidak kriminal dengan alasan apapun tidak bisa di benarkan.
"Renald Dan Richard juga tidak berniat melepaskan genggaman mereka, aku rasa mereka cukup berpangku Pada kemampuan adik ipar barunya Anthony" ucapan Elena terputus Sejenak "Mantan suami istri Dan calon ibu dari anakmu, Maria"
"Sepertinya kamu menyukai bagian terahir hingga menekankan kalimatnya begitu dalam"
"Tentu saja, aku tidak menyangka akan kejutan yang satu itu apalagi... Kenyataan bahwa calon pamanmu adalah pegawai kalian" Elena menarik nafas dalam - Dalam dengan senyum cantiknya "Bukankah kita ternyata tidak bisa terhindar dari Lingkaran takdir"
"Sepertinya sejauh apapun aku pergi, kalian semua semua enggan melepaskanku"
Aku dan Elena tertawa kecil bersamaan, Namun tidak dengan Maria. Wajahnya tetap sibuk menikmati hidangan dengan seksama seolah dia tidak mendengar apa - apa.
"Apa yang kamu inginkan kali ini?" tanyaku langsung.
"Seperti biasa.. Aku tidak pernah berubah"
"Kalau urusanmu dengan Dion"
"Apakah salah kalau aku membalas cintanya padaku?" Elena malah bertanya balik.
"Apakah kamu mencintainya..?"