Sugar Mamy

Sugar Mamy
Jenis


"Sudah hampir mendekati kelahiran?" aku mengamati kalender di pintu kamar kami. Aku sengaja menempelnya di sana agar tidak terlewat.


"Kamu tidak perlu menghawatirkan hal seperti itu, biarkan aku dan Yulia yang mengurusinya"


"Jangan memangkas konstribusiku sebagai ayah teladan" aku mengelus perut Maria yang seolah akan meledak. Hampir sulit di percaya pinggang yang dulu bisa aku genggam dengan tangan, Kini aku butuh kedua lengan untuk menggenggamnya "Kamu masih yakin tidak memberitahuku untuk jenis kelaminnya?"


Maria menggeleng, "Pada ahirnya akan sama - sama anak kita" Maria selalu mantap dan tidak berubah akan keputusannya "Semua perlengkapan bayi aku beli warna putih artinya semua bayi yang lahir itu suci"


Benar..! Menjelang melahirkan Maria jadi ini cukup melankolis. Mungkin begitulah dia sesungguhnya, karena bagaima mungkin dia pernah menjadi seniman kalau dia selalu seperti mesin. Seperti awal aku mengenalnya.


"Jadi apakah kamu bisa menghadiri pernikahan Elena?" aku tetap harus menanyakannya meski aku tidak begitu menyetujuinya. Pesta itu pasti bukan pesta biasa, akan banyak nama yang yang bertaburan. Dengan kondisi penuh hormon seperti ini, Maria bisa saja kehabisan tenaga untuk menahan emosinya menghadapi kondisi hubunganku yang semakin memburuk dengan keluargaku.


" Aku datang..."


"Tapi Mar?"


"Masih ada Willy yang akan bersikap neutral" Maria mengusap wajahku yang tak basah. " Tahanlah dirimu untuk tidak membenci Dion. Ini adalah keputusannya, apapun konsekuensinya kepada kita. dengan atau tanpa Dion, Elena akan tetap melakukannya bukan?"


Maria benar, Dion hanya pria kasmaran pada umumnya. Sering kali aku lupa bahwa dia bukan dari dunia kami yang hidup selalu berada di atas bidak Catur kehidupan. Perasaan dan kasmaran itu hanya goresan cerita pena semata, kami tidak semudah itu mengikat hubungan . Kenyataannya, pernikahan adalah Good Deal and Agreement. Cinta? Itu adalah hasil dari keduanya. Termasuk cintaku dan Maria.


****


"Mariaaaaa..!" pekikan khas Alberto membuat merasa jengah. Dia boleh seenaknya di istananya. Tapi ini istanaku, wajar kalau aku menunjukkan rasa ketidaknyamananku secara jelas.


"Suaraku tidak seburuk itu.." Alberto mengomentariku yang datang sambil menutup kedua telingaku.


"Andaikan volumenya naik satu tingkat, mungkin bayiku bisa lahir premature"


"Huh...! Mana Maria sayangku.... Dia mengundangku secara resmi ke sini. Kalau bukan Maria aku tidak sudi mengunjungimu "


"Alberto... Nice to see you.." Maria menghambur dengan wajah manis mengahiri Ketegangan di antara aku dan Albert. Ibu hamil memang punya daya tarik tersendiri.


"Kita langsung ke ruang tengah..." Maria menggandeng Alberto "Aku bikin sangria tanpa alcohol, still refreshing though"


Alberto melewatiku dengan wajah mencebik. Seolah dia sedang memenangkan hati Maria dariku saat ini.


"Mata kamu tidak pernah salah Mar" bisik Alberto yang masih terdengar dari jarak ku "Dia bertambah tampan saja"


"Aku tahu cara meningkat kan potensi dalam diriku, terutama yang sudah natural" Aku bergumam dengan suara Berat hingga Alberto Bisa mendengar dengan jelas, kata per kata.


"Aku baru memujimu sedikit, kamu sudah congkak" Alberto baru menyadari ternyata aku sedang mengikutinya.


"Apakah penjualan princesuit yang aku kenakan cukup naik? Aku melihat fotoku yang terpampang di studiomu dan promo fashion showmu terahir kali"


Muka Alberto semakin merah "Maria... Harry menggangguku" Alberto merengek seperti anak kecil.


"Selesaikan masalah kalian sendiri, kalian sama - sama dewasa" Maria tidak mau ambil pusing. "Aku penasaran dengan design Dan contoh Bahannya" Maria kembali ke inti tujuan Alberto datang.


"Aku mau baju kami senada!!!" Aku menyela Keinginanku "Semua orang harus tahu, Maria dan bayinya adalah milikku"


Alberto mendengus kurang suka, "Kamu cemburu kalau saja orang masih mengira Anthony adalah suami Maria bukan?"


"Ehem..." Maria berdehem "Permintaan Harry tidak sulit, aku tidak keberatan"


"Pelet kamu memang manjur.. Huh?" Alberto ternyata masih saja tidak ikhlas dengan pernikahan kami, terutama dengan perceraian Maria dan Anthony. Andai saja Alberto tahu apa yang Anthony perbuat, apakah dia masih bersikap seperti ini.


"Design yang ini cocok" Maria menunjukkan satu design pregnancy dress bergaya semi victorian.


"Bagaimana kalau ini?" Alberto menunjukkan design yang lain " Aku suka kalau kamu sedikit nampak mewah sesekali"


Maria sudah pasti menolak.


Benar kan? sikap down to earth Maria ini kadang bikin gregetan. Tapi sifat itu juga yang membuatku jadi mulai lebih dewasa, dan fokus ke hal yang lebih penting saja.


"Maria..!! pesta Elena mengusung tema glamour dan elegance. Semua warnanya berunsur logam, aku tidak ingin kamu nampak tersisih dari jejeran keluarga suamimu"


Alberto ada benarnya. Pernikahan Elena pasti berbeda dengan pernikahan Renata dan Anthony yang sudah jelas banyak yang tahu siapa mereka, pesta berkesan bukan tujuan utama. Tapi untuk Elena, dia tentu ingin menunjukkan sisi specialnya yang kaya raya.


"Aku setuju dengan Alberto saat ini"


"Kamu tidak berniat menjilatku kan?"


"Aku tidak perlu dukunganmu untuk tetap bersama Maria, tidak lihat hasil kerja ku?" Aku mengarahkan wajahku ke perut Maria.


" Mar... Setelah melahirkan, kamu masih bisa menimbang lagi mau terus bersama bocah ini atau tidak"


Maria memilih diam dan bergantian menatap kami.


"Apakah kamu punya koleksi ready to wear?" Tiba - tiba Sebuah ide melintas di otakku. Design Alberto cukup menarik Dan berkarakter. Meski hubungan kami tidak manis, tapi siapa tahu kami cocok dalam urusan bisnis.


"Aku terlalu sibuk untuk hal seperti itu"


"Yakin....? " Aku meraih satu lembar design yang lain "Andai ini di buat jadi midi dress dengan sedikit detail di kurangin bukankah sudah cukup baik"


Alberto menarik kertas designnya dari tanganku.


"Aku tidak mempan di jilat"


"Mar.. Aku serius" Aku benar - benar serius, Maria punya garment kami bisa membuat Merk exclusive dengan Alberto. Itu peluang baru untuk menghasilkan tambahan uang.


Maria mengerutkan keningnya, dia pasti sudah tahu aku tidak sedang bercanda. Jemarinya meraih kembali kertas design dari Tangan Alberto. "Menurutmu... apakah koreksi design dari Harry bisa di hitung?"


"Kamu menganggap bocah ini serius?"


" Aku hanya pembisnis, kalau saja menguntungkan aku akan membuatnya menjadi serius " Maria mendukungku dengan benar.


Alberto mengamati designnya sekali lagi, dan mulai mengangguk setuju meski ada beberapa koreksi kecil.


"Buatkan aku sample ini, dan kirim ke kantorku sebelum aku cuti melahirkan. Aku akan membuat Harry menyelesaikan perkataannya dalam wujud presentasi"


"Jadi kamu mau design yang mana? aku punya satu set perhiasan untuk di padankan pada gaun rekomendasiku" Alberto mengeluarkan Sebuah kotak beludru berwarna hitam dari handbagnya. "Cukup Elegance bukan? tidak akan mengurangi kharisma kamu.." Senyum Alberto melengkung sempurna.


" Bagaimana Har.?"


Maria mendekat kan satu set perhiasan itu padaku.


"Tidak buruk, sedikit berbeda dari biasanya, tentu akan menarik"


"Kalian Sebenarnya Cocok hanya saja, kamu belum move on dari Anthony" mata Maria mengarah tajam ke arah Alberto. " Aku dan Anthony have a new life"


" Buang pikiran itu, aku masih berfikir untuk menagih harga perhiasan ini padanya. Mengingat sepertinya dia tidak pernah memanjakanmu dengan hal seperti ini"


Alberto mengkritikku dengan benar, aku baru ingat bahwa aku cukup jarang memikirkan kado untuk Maria usai kami menikah. Masalah kami sangat kompleks di sisi yang lain


"Kirim saja tagihannya ke email ku, aku akan segera memprosesnya"


"Huh.. Aku sudah memutuskan untuk memberikannya secara gratis, peluang u sudah lenyap. Cari ide yang lain" Alberto masih saja membenci ku,


Aku menarik nafas panjang, tidak ada yang bisa memaksa perasaan orang Pada kita" Untuk Busanaku, kalian putuskan saja. Aku yakin aku akan selalu nampak mengagumkan "