
Aku meremas tubuh Maria yang meringkuk Di bawah ku. Menikmati rona kemerahan yang muncul Dan tenggelam mengiringi tekanan jemariku.
Rasanya seperti sesegar melihat persimmon yang ranum Di musim gugur. Segar Di antara dahaga daun kering.
"Kamu kira kamu tidak pernah menjadi selera pria?" Aku merendahkan tubuhku sesaat untuk menyesap ceruknya.
Ku raih ponselku yang tergeletak Di nakas. Merekam singkat Maria yang masih terbingkai dengan gaun SMA tanpa menutupi bagian yang menarik.
"pasti Johan pernah bernaluri melihat ini" aku menjukkan pemandangan yang aku tangkap. Sosok tubuh ramping Maria yang selalu merona ketika tersentuh dengan ekspresi pongah yang khas ala Maria.
Maria hanya berdecih Dan menarik selimut perlahan.
"Para lelaki yang lain saat itu pasti tidak ada yang berani mendekatimu. Bukankah tidak ada yang seimbang dengannya Di kampungmu ?" Aku benci mengurai theory ini. Tapi aku ingin Maria menyadari bahwa dirinya tidak seburuk yang dia kira.
Maria hanya diam tak menjawab. Jemari rampingnya mulai sibuk menyambutku yang mulai meringkuk kembali dan meraihnya dalam Pelukanku.
" Aku tidak butuh yang lain "suara Maria terdengar merdu Dan shadu" Buatku kamu sudah lebih dari cukup, jangan bahas hal yang sudah basi "
" Baiklah, ini terahir kali" Aku mengencangkan Lingkaran Tanganku "Aku mau pernikahan lagi, kali ini Di new zeland. Rambut panjang dan posturmu pasti sangat Cocok dengan costume Elf Dan aku akan me nyesuaikan" Aku mengangkat kedua alisku ketika Maria menatap heran Keinginan ku.
"seperti kamu tahu aku selalu cocok dengan apa aja" Aku tertawa sambil mengacak rambut Maria yang sudah tidak rapi.
"Tidakkah kamu ingin menyudahi otak anehmu itu" gerutu Maria
Aku menggeleng keras "Boys always boys, kami hanya terperangkap Pada tubuh Dan tanggung jawab yang lebih besar" Aku menautkan sepasang bibirku padanya "Dan juga kekuatan yang lebih besar"
*****
Kami tidak membatalkan pernikahan sebelumnya, kami hanya memperbaruhi perjanjian kami dengan lebih tulus tanpa pamrih.
Hobbiton Hills menjadi lokasi yang sempurna untuk melanjutkan yang baru.
"Ternyata sifat kurang ajarmu itu memang natural" Gerutu mami yang sengaja tidak aku undang ke pernikahanku.
"Hanya untuk menghindari hal yang tidak Di inginkan, tapi jangan khawatir Mami akan memiliki tugas penting Di sana"
"omonganmu sudah sulit di percaya"
"Bukankah mempersiapkan kamar cucu kedua juga sangat penting?"
"Maria hamil lagi?"
"Aku melihat dua garis pagi ini, kesempatan mami mengajukan calon lain tidak akan Ada lagi" Aku membenarkan kostumku yang meningkatkan kadar ketampananku dengan sangat drastis.
"Huh...kamu benar - benar tidak tahu balas budi" Mami mengeluh Dan mengahiri panggilannya dengan cukup nyaring. "Apakah kamu tidak tahu soal syurga Di telapak kaki ibu"
"Jangan menggunakan kata - kata religious untuk melakukan perbudakan Padaku Mi" Bukan aku tidak setuju, tapi kondisinya Mami selalu mencoba menciptakan neraka.
"Bukankah syurga mami ada Pada Papi? Aku sedang membantu mami meraih syurga. Karena Papi mulai menyukai Maria"
Mami langsung menutup telpon tanpa kata - kata berikutnya.
"Jadi apakah aku perlu merobek perjanjiannya" celetuk mas Aryo yang membantuku memastikan kostumku benar - benar rapi.
"Bakar saja, jangan sampai tersisa" Aku menjulurkan lidahku dengan tawa ceria. "Aku sudah curiga Maria menyimpannya padamu"
"Mau bagaimana lagi, aku siap menuntutmu kapan saja kalau kamu melanggarnya" Mas Aryo tersenyum lebar "Apa Alberto akan terlambat?"
"Aku tidak mengundangnya" jawabku singkat "Dalam kaca mata Alberto aku tidak cukup tampan. Aku tidak ingin mengurangi reputasi ku Di moment penting begini"
Mas Aryo tertawa lepas "Seriously... Apakah kalian masih tidak begitu akur?"
Aku hanya mengangkat kedua bahuku.
"Sudah Siap?" suara Dion menyeruak ke dalam ruangan.
Aku mengangguk Dan segera mengikuti langkahnya Di susul mas Aryo Di belakangku.
"Kamu benar - benar sudah single?" tanyaku sedikit berbisik.
Dion mengangguk jelas "Mas Aryo membereskannya dengan cepat" Dion melirik ke arah mas Aryo Di belakangku.
"Bukankah Roselyn, cukup nampak baik Dan tidak buruk?" aku mendaratkan sikuku Di pinggangnya.
"Kamu menjodohkanku secepat itu?" Dion mendesis ringan.
"Pastikan kamu berdiri Di sebelahnya Dan akan aku lemparkan bucket bunga Maria ke arah kalian. Selanjutnya, kita serahkan takdir yang mengurusnya"
Dion melayangkan pandangannya Pada Roselyn yang sedang Berbincang ringan dengan Maria.
"Apakah kamu yakin dia menerima duda menyedihkan sepertiku"
"Tapi jangan lupa, kamu adalah Direktur utama Bio chemical. Mungkin itu Bisa jadi pertimbangan " Aku meninggalkan Dion Dan menggulurkan Tangan ringan ke arah Maria.
"Kamu lebih manis dari perkiraanku" pujiku Pada Maria.
Maria menggeleng "Aku merasa aneh, bukankah aku terlalu tua untuk hal seperti ini?"
"Live Tyler tidak lebih muda darimu Dan beberapa pemain yang lain juga"
"Bukankah aku terlalu pendek untuk gaun Berat seperti ini?"
Aku mengamati dari ujung rambut Dan juga kaki "Mungkin kamu lebih mirip dengan sepupu tinker Bell"
"Aku hanya mengabulkan Keinginanmu, jangan banyak komentar" Rona merah perlahan muncul di pipi Maria "Kostum ini terasa lebih sedikit sesak daripada saat fitting" bisiknya.
" Jangan asal bicara"
"Aku sudah mengetestnya pagi ini, karena keluhan pinggangmu beberapa waktu lalu"
Maria terlihat tidak begitu nyaman untuk beberapa saat. Tapi wajahnya mulai sedikit heran dengan perhatianku.
"Terima saja, bahwa kamu sudah punya suami Sungguhan sekarang, dan sangat tampan serta kaya raya" Aku berkelakar
"Dan narsist" Timpal Maria yang tak dapat menahan senyum nya dengan genggaman lebih erat.
"Aku menganggapnya sebagai mengungkapkan kenyataan" Aku membela diri.
Well sepertinya perjuanganku akan lebih mudah untuk selanjutnya. Setidaknya urusan cintaku sudah berlabuh dengan sempurna. Mungkin bukan dengan orang yang aku inginkan Pada awalnya. Tapi bukankah jodoh itu adalah orang yang tepat?.
Dan Aku berharap Roselyn adalah wanita yang tepat untuk Dion. usai menangkap bucket bunga yang Maria lempar sesuai kodeku. Aku menantikan sahabatku juga mendapati hidup yang bahagia.
********
Di sudut lain...
Gemericik hujan membasahi Jalanan kecil sudut Kota Rome. Sepasang kaki panjang berbalut Celana velvet Dan beralaskan sepatu boot berbahan kulit sapi berlari sekuat tenaga meski sepertinya sudah letih. Deru suara beberapa sepatu lain juga bergema lebih nyaring.
Tiba - tiba Sebuah Tangan kekar menarik lengannya. Dan membekap mulutnya ketika hendak berteriak.
"bruk...!!" tubuhnya menghempas Pada sosok kekar yang Kini melilitnya.
"Anthony..!!"
"sasst...."
Kami sama - sama menahan nafas sampai orang - orang itu menghilang
" Bukankah kamu Di Cisily?"
"Itu bukan urusanmu, tapi bagaimana kamu Bisa di sini?"
"Aku ingin menyusulmu" suara Renata nyaris tak terdengar.
Anthony tampak tidak senang dengan pernyataan Renata.
"Hidupku tidak mudah untuk kamu hinggapi" Gerutunya "Orang itu siapa"
"Entahlah, mereka berusaha menculikku"
Anthony mengintip Jalanan yang makin sunyi. "Sepertinya mereka benar - benar pergi.... Kamu Bisa kembali"
"Tapi...bukankah kita sudah bertemu?"
( cerita Renata Dan Anthony ingin author bungkus dalam cerita yang lain. Mengingat characters Anthony yang cukup menyebalkan.
Maka author berencana mengangkat cerita tentang penyakit menthal paranoia yang akan ditambahkan dalam character Anthony.
Paranoia adalah penyakit menthal yang membuat mereka berprasangka buruk Pada semua hal.. Karena ketakutan mereka. Dan itu sering membuat berbuat yang kurang tepat.
Mungkin punya kenalan orang sekitar yang selalu mengeluh daan berprasangka? Siapa tahu mereka juga paranoia.
Dan tentu character Renata adalah sebagai pencari solusi Dan bagaimana menghadapinya. Mengingat sosok seperti Anthony pasti akan denial Pada kondisinya.
Kalau setuju, like... Yang komen juga Di tunggu...
Tapi butuh waktu untuk research, target launch bulan October.
Iklan tipis - tipis πππΌππΌ
*******
Terimakasih banyak buat semua yang sudah setia mengikuti cerita ini.
Semoga Bisa menghibur para.
Mohon maaf klo ada PUEBI yang banyak salah. Karena masih baru Dan mengetik dgn HP cukup penuh tantangan.
******
"Ingat, aku baru saja hamil, jangan berharap apa - apa setelah ini" Maria mengusap perutnya yang belum nampak membuncit.
"Kamu sering melupakan bahwa kamu punya banyak bakat" Aku mencoba mengingatkan Maria bahwa kami telah melewati fase ini sebelumnya.
"Sudah lama keahlianmu yang lain tidak Di asah, pelatihmu ini akan Sedih bila kemampuanmu itu hilang"Aku melanjutkan penjelasanku sebelumnya.
Tatapan Maria seakan dia tidak mengetahui apa yang aku maksud.
" No body ever say the dirty talk to you? " Karena sepertinya Maria bener - benar tidak mengerti maksudku.
Aku mendekatkan wajahku di Telinganya "Kamu masih punya Mulut Dan Tangan Mar... Jangan mencoba untuk Pura - Pura lupa.
" ehem.... Ehem.. "Maria berdehem beberapa kali.
" Ehem... "Aku membalas dengan dehem serupa.
Setidaknya itu memberikan kesan bahwa kami sedang bersiap Pada perjanjian pernikahan kami yang akan segera kami ikrarkan.
Meski Sebenarnya...... Mungkin malam Panjang kami yang sedikit sulit di bayangkan. Dengan hadirnya benih kecil kami Di perut Maria.