
Istirahat dalam ucapanku ternyata tidak sama dengan istirahat dalam pengertian Maria.
" Kenapa kamu bilang lelah kalau pada kenyataannya tidak?" Maria mencoba mengkoreksi keluhanku sebelumnya.
" Energy untuk tugas darimu sudah out of stock.... Tapi kalau energy buat istirahat ini belum terpakai seharian ini" Aku membela diri dengan caraku.
Hanya di ranjang Maria adalah wanita biasa, sepasang maniknya kadang susah berkedip ketika melihat seluruh tubuh yang terukir rapi dengan lekukan ototku. Aku merasa lebih superior atas dirinya walau hanya di atas ranjang.
Namun selain itu Maria lebih segalanya dariku. Cara dia menata hidup Dan menghadapi masalah membuatku berdecak kagum. Mungkin dia tidak Di anugrahi fisik yang rupawan, tapi dia berhasil membuat orang melupakan itu semua ketika bersamanya. Kini aku sadar Kenapa lelaki kurang tertarik Pada Maria, sederhana saja... Kami sudah kalah telak secara mental.
"Jangan terlalu memberi makan egomu.. Nanti sisi terbaik dari dirimu akan mati perlahan karena tersisih"
"Ini bukan ego tapi kebutuhan rohani Dan emosional" Aku mulai lihai membalikkan ucapan Maria yang kian hari kian memperjelas jarak usia kami.
Meski aku selalu enggan memgakuinya.
"Tapi ada namanya prioritas... Banyak hal yang harus kita tuntaskan terlebih dahulu agar pemenuhan kebutuhan rohani Bisa kita pertanggung jawabkan" sanggahan Maria membuatku termenung beberapa saat.
Kebenaran dalam ucapannya sudah tidak bisa ku sangkal, terus terang aku masih belum Bisa membayangkan untuk bertanggung jawab kalau saja Maria hamil karena ulahku. Pekerjaanku mengurus perusahaan Bisa meningkat berlipat - lipat dengan pengalaman yang belum seberapa.
Ups...
"Mar...!!" Pekikku ketika menyadari kecerobohanku sendiri.
" Apa...?" tanggap Maria yang mulai menggulung rambutnya.
"Aku lupa pakai Penga... man" kali ini suara ku berubah menjadi lirih.
Plak..!!!
+Lima Jari Maria mendarat tanpa peringatan Di pipi kananku. Meski cukup bertenaga tapi tak cukup membuatku kesakitan. Namun aku mencoba tetap meringis untuk sedikit mengurangi kekesalan yang sudah mulai terpahat dalam expresinya
"Aku nggak mau dengar alasan lagi, pokoknya kamu harus hafalin semua itu" Maria berbicara dengan menahan giginya tetap tertutup "Aku nggak mau perusahaan berantakan karena hanya keteledoranmu"
"Maaf.. Mar..!!"
Maria tak mengindahkan permintaan maafku, dia sibuk menggulung tubuhnya dengan selimut Dan setengah berlari menuju kamar mandi tanpa memandangku lagi.
"Braak!!!" terdengar suara pintu kamar mandi yang menabrak dinding dengan cukup keras.
Aaah... Nasi sudah jadi bubur kan...
Aku kembali membenamkan diri Di antara kehangatan ranjang. Sebaiknya aku menikmati kedamaianku yang mulai semakin terbatas.
****'**
Aku menyesal memberitahukan kecerobohanku pada Maria, sepanjang bulan Madu Maria menggelontorku dengan puluhan materi perusahaan.
Aku baru menyadari bahwa aku dan Maria tidak pernah begitu jauh. Maria sudah cukup lama bekerja sama dengan Tower High, perusahaan ayahku.
Pertambangan kami transportasinya menggunakan perusahaan Maria, pabrik minyak goreng kami, menggunakan supply kelapa sawit dari perusahaan Maria bahkan Interior beberapa Hotel kami termasuk dine ware Dan cutlery semua Di supply oleh perempuan yang sekarang menjadi istri ku.
"Kamu sudah naksir aku cukup lama?"
"Apakah itu kesimpulanmu setelah mempelajari dokumen perusahaan?" Maria membalas pertanyaanku dengan pertanyaan yang membuatku menyesal menanyakannya.
"bukan hal yang aneh Papimu mengusirmu"
"ck.... Aku serius Tanya"
"Aku juga serius menjawab"
"Kapan kamu pertama melihatku Mar..?"
"berapa total value transasksi kita dengan Tower High per kuartal?"
" OK.. OK.. Aku belajar lagi, tapi janji jawab aku nanti.."
Aku tidak punya pilihan selain mengalah saat ini. Maria cukup keras kepala meski sering kali nampak lembut saat aku hanya mengenalnya sebagai seorang bos.
" Hmmm... " jawab Maria yang sepertinya tidak yakin Bisa menyanggupi janji yang ku minta.
Maria hanya menggeleng tanpa menggeser penglihatannya Pada buku yang sedang di bacanya. Tapi seharusnya dia tidak perlu marah karena itu adalah hakku. Hanya saja Maria seakan membangun benteng untuk perasaannya sendiri.
Ah.. Aku putus kan untuk mengahiri Sesi membaca ini. Rasa penasaran yang berdesir Di hatiku, membuat otakku susah berkonsentrasi.
"Aku mau Di jawab sekarang" Aku menghampiri Maria Dan menarik buku dari jemarinya.
" Eh....!!"
" kamu kan bakal hamil bukan mati... Jadi aku masih Bisa minta bantuan saat itu, mungkin aku Bisa bawa pekerjaan ke rumah" lanjutku yang tidak ingin mendengar alasan Maria.
Maria memutar maniknya Dan menarik nafas dalam - dalam.
"Saat kamu merengek Di kantor papamu karena menolak sekolah Di London" jawab Maria datar. "Sudah??"
Aku mencoba mengingat masa itu, samar - samar aku mencoba mengingat masa itu Di mana Ayah sangat tidak menyukai teman - temanku hingga memutuskan untuk mengirimku ke negara ratu Elizabeth.
" Jangan menghitung!!" Maria menyentak pipiku "Aku sadar aku lebih tua darimu"
Aku tertawa geli mendengar alasan Maria menolak menjawabnya. "Kenyataan tidak berubah meski kamu tidak ingat"
Aku melompat ke ranjang membenamkan diri Pada selimut tebal yang hangat. "Jadi kamu udah naksir aku atau belum saat itu?"
"Enggak" jawab Maria singkat.
"Tapi kamu pasti sadar kalau aku tampan kan?"
"Iya.."
"Dan kamu nggak naksir?"
"Enggak.."
"Kamu bukan pecinta sesama jenis kan?"
Bruk..!!!
Maria memukul wajahku dengan bantal Di pangkuannya.
"Aku juga pernah punya pacar... Tapi lelaki kayak kamu nggak masuk kategori"
" Siapa.. Pasti nggak ingat namanya" ledek ku.
"Johan Hadinata" jawab Maria singkat yang langsung membuat jantungku berhenti Sejenak.
" om Johan Hadinata yang itu..."
Yang merupakan kompetitor terbesar Tower High dalam bidang property, Namun juga memiliki akar kuat dalam Bisnis medis Dan juga teknologi.
"Jangan Di panggil Om.. Kami cuma terpaut tiga tahun" protes Maria.
" Iya... Tapi dia itu teman main om willy kan?"
Pantesan Maria kenal dengan Om willy.
"Kamu memang bukan tipe laki - laki Pada umumnya, tapi tiga laki - laki superior Bisa kau ambil hatinya" Aku memuji kenyataan.
"Hubungan kami terjalin saat kami belasan tahun, tidak masuk hitungan" Maria menyangkal "Aku tidak pernah menaklukkan Anthony Dan Kamu aku rasa belum superior karena aku masih harus keluar biaya untukmu"
"Kalau aku yang sudah merasa tunduk padamu bagaimana?"
Ups... Serius?? aku mulai keceplosan.
Tidak aku pungkiri rasa penasaranku Pada Maria sudah berubah jadi ketagihan. Aku juga mulai perlahan cemburu Pada Anthony Dan sisi kehidupan Maria yang lain.
Maria hanya ternganga menangkap ucapanku. Maniknya membulat seakan melihat hantu Di siang bolong. Dan aku hanya sanggup menahan agar warna merah Di wajahku tidak meningkat drastis.
"Ja... Jadi... Bagaimana?" tanyaku terbata.