
"Hmmm.... Aku butuh Direktur baru Di Bio chemical"
"uhuk..." Dion terbatuk dengan mendadak "Serius???"
"Mau bagaimana lagi" Aku menarik nafas panjang dan melanjutkan meminum juice Di Tanganku. "Selama istrimu tercinta itu belum Bisa membuktikan keterlibatannya"
"Ini soal kasus bu Maria?"
"Hmmm...."
"Jadi benar gedung itu punya Elena?"
"Hmmm..."
Dion membuang nafasnya kasar, "Apa yang ada Di otaknya, aku seperti sedang bersama orang lain saat ini"
"Urusan ranjang kalian beres kan?"
Dion mengatupkan kedua bibirnya, wajahnya beku Dan mulai mencoba mengaligkan matanya ke sisi yang berbeda. .
Aku hanya sanggup meringis "Elena itu nggak pernah minat untuk membangun keluarga, kamu aja yang naif Dan mau dipelihara"
"Namanya cinta pertama Har, berharap kan wajar"
"Wajar sih.. Tapi nggak harus Tutup Telinga"
Dion melempar tissue padaku.
******
Pucuk Di cinta ulam pun tiba.
Sosok Elena ternyata sudah berjalan ke arah kami.
"Kok dia tahu aku Di sini sih?"
Aku hanya menggeleng tanpa melepas pandangku dari sosok Elena yang nampak tidak ramah.
"Apa ini?" Elena menggebrak meja dengan Sebuah surat Di tangannya. "Kamu memintaku untuk non aktive?"
Kemarahan Elena tertuju padaku yang sudah mengeluarkan surat pe-non aktivan jabatan nya.
"Sampai semuanya selesai, setelah itu kita Akan mengikuti hasilnya" Jawabku tenang.
"Aku tidak terlibat" Nadanya cukup tinggi kali ini.
" itu terserah Maria yang memutuskan, sebagai pemilik saham terbesar"
"Dasar lelaki tak punya wibawa! Kamu benar - benar tak berkutik Di bawah ketiaknya" Makian Elena cukup terdengar nyaring. Menyita perhatian beberapa staff yang sudah datang.
"ehem.." Aku berdehem meski tenggorokanku tidak gatal "Apakah bulu mata panjangmu itu menghalangimu melihat siapa yang duduk bersama ku?"
Elena hanya memutar maniknya seiring nafas ya yang mendengus kesal.
"Setidaknya Maria tidak pernah menghardikku, aku tidak keberatan" Aku mengalihkan sepasang manik ku ke arah Dion.
Wajah pucatnya sudah sulit untuk di sembunyikan. Permasalahan rumah tangganyabyang Di tutupinya rapi, mencuat perlahan dari sikap istrinya sendiri.
"Jangan ribut Di sini, carilah tempat yang lebih nyaman" Aku menepuk pundak Dion Dan meninggalkannya bersama istri pilihannya.
*****'
"Kamu lari ke sini? Pengecut!" pekik Elena tertahan kepada Dion yang masih menahan sedotan Di mulutnya.
"Aku belum berfikir pulang" Ahirnya suara Dion keluar dengan nada setengah berbisik.
"Terserah padamu" Elena meniup lepas ke udara bebas "Tapi pastikan jangan permalukan aku dengan terlantar sesenakmu. Kebiasaan miskinmu itu harus Di ubah"
Elena mengeluarkan Black card Dan Sebuah kunci penthouse Dan melemparkannya ringan ke hadapan Dion.
"Hubungi aku kalau kamu sudah siap berdiskusi denganku" Elena kembali menutup handbagnya. "Ada kunci mobil Di lacu nacas kamar. Kamu Bisa menggunakannya"
Dion masih memilih diam Dan tak menanggapi ucapan istrinya. Pandangannya terarah Pada kemewahan yang bisa di aksesnya dengan mudah dari kunci Dan kartu Di depannya.
Bertahan atau mengahiri, keduanya harus mampu membuatnya untuk mandiri. Antara cinta, harga diri atau keserakahan untuk mendapatkan segalanya.
Dion bahkan tidak menghiraukan ketika Elena meninggalkannya dengan semua pandangan tak nyaman dari beberapa mata yang terpasanh Di sana.
Dion menyelesaikan sisa terahir minumannya. Sebelum dia mulai memutar nomor ponsel Laura adik satu - satunya.
"Mas Dion" pekik Laura yang terdengar cukup bahagia Di seberang sana.
"Ini lagi bikin nasi goreng buat makan malam"
"Makanlah yang lebih bergizi agar kamu lebih mudah belajar"
" Iya Mas, tadi kelamaan belajar jadi lupa ke supermarket. Besok pasti makan yang bergizi mas"
"Jangan khawatir soal biaya, bilang aja klo kurang" Dion menarik nafas dalam - dalam.
Biaya kuliah Di Stan Ford bukanlah murah. Laura memang tidak berhasil mendapatkan beasiswa, tapi otaknya cukup encer untuk terdaftar sebagai mahasiswa Di sana.
"Mas Dion baik - baik aja kan? Apa kabar Kak Elena?"
Senyum tipis terlukis Di wajah Dion. Harapan untuk masa depan satu - satunya keluarganya terbayang indah Di angankan.
"Kapan Mas kamu ini nggak baik?" Dion menghadirkan tawa kecil untuk menghardik kecemasan adiknya. " Mas kerja dulu, Di sini masih pagi. Harus rajin kerja supaya transferan kamu lancar" Lanjutnya dengan nada bergurau.
"Siap Mas, aku juga pastikan nilaiku bagus semester ini. Aku nggak akan kecewakan Mas"
Dion menutup telpon dengan tawa renyah. Perlahan dia menarik kursi kayu itu Dan berdiri meninggalkannya Di antara suasana kantin yang sudah normal.
*******
"Benar Begitu Mel?" Suara Berat Pak Adiwilaga menggelegar Di Sebuah ruang perpustakan pribadi miliknya.
Beliau duduk dengan tegap Di kursi kerjanya dengan sosok anak gadisnya Dan anak pertamanya Di meja yang berbeda.
Melissa hanya menunduk, bubir merahnya yang biasanya bebas mengoceh. Membeku bagaikan sungai Di musim dingin.
"Kamu tahu bahwa kamu juga menfhancurkan masa depan kakakmu?" Volume suara pak Adiwilaga benar - benar tidak turun.
" Bapak menyesal membiarkan kamu bergaul dengan teman - teman celebritymu itu. Otak kamu jadi miring nggak karuan"
"Itu karena Bapak lebih memanjakan kak Nando dari Pada aku" Melissa mulai berani membela diri.
"Hanya itukah alasanmj atau kamu Iri karena Maria mendapatkan lelaki impianmu?"
"Dua - duanya" Suara Melissa terdengar hampir tenggelam.
"Kakakmu Nando sudah tertarik Di dunia politik dari awal, bahkan dia sudah mempelajari tentang hukum dari bangku SMA. Sedangkan kamu cuma iri tanpa berusaha untuk lebih baik?" Suara pak Adiwilaga masih belum mereda.
"Seharusnya Nando yang iri denganmu, karena kamu memiliki kebebasan sesuka hatimu, bahkan Bapak sudah berbaik hati menjodohkanmu dengan pria impianmu"
"Sedangkan Nando?" ucapak Pak Adiwilaga terputus Sejenak sambil mengarahkan pandangannya Pada anaknya yang selalu patuh "Dia selalu mengikuti personal branding yang Bapak atur, meski harus melupakan cintanya Pada Maria"
"Itu kak Nando aja yang bodoh" gerutu Melissa yang selalu tak mau kalah.
Brak!!!
Sebuah gebrakan meja terdengar nyaring keseluruh penjuru ruangan.
"Itu namanya tanggung jawab atas impiannya, dan kamu..." Jemari pak Adiwilaga menunjuk lurus ke arah putrinya yang kembali tertunduk karena takut "Mengjancurkannya dengan cara yang rendah"
"Kok ribut banget nasehatinya" Bu Retno datang dengan muka yang gelisah. "salah sih salah tapi nggak perlu sampai segitunya"
Wanita paru baya yang masih nampak Anggun itu segera menghampiri suaminya setelah menatap putra putrinya secara bergantian.
"Sabar pak"
"Apa kamu masih sabar kalau kamu jadi Maria?" suara pak Adiwilaga mulai sedikit rendah. "Apapun Caranya, kamu harus keluar dari negeri ini sampai karir kakakmu benar benar stabil"
"Udah tua dong?" Melissa masih saja mampu mendekat ayahnya.
"Bapak malah tidak berencana menhembalikanmu ke sini" pak Adiwilaga mendengus.
"lho... Lho kita diskusi semalam nggak gitu. Kita sudah sepakati Melissa untuk tinggal dengan. Ibuku Di solo. Lha kok.."
"Kamu lihat dia nggak menyesal ?" suara pak Adiwilaga kembali meninggi "Kamu mau keluarga kita semua hancur hanya dengan kelakuan setan kecil ini?"
Kali ini bu Retno hanya mampu terdiam dan memandang sendu Pada putrinya. Kepalanya menggeleng lemah.
Melissa hanya mendesis kecewa.
"Besok pagi kamu berangkat ke new Zealand ada posisi manager butik bibimu Di sana"
"Hah... Aku ini mantan Celebrity ternama, masak harus jadi cuma manager butik"
"Mell..." bu Retno coba mereda sifat manja Melissa yang kadang tak tahu tempat.
"Apa kamu mau masuk penjara?" tanggap pak Adiwilaga dengan kasar.