
"Mulai hari ini, Tower High akan saya pimpin kembali. Saya harap tuan Antonio Bisa bekerja sama dengan baik untuk processnya" Papi menyeru dengan penuh wibawa, tanpa ada satupun yang berani menatap.
Termasuk Anthony yang masih belum usai dari wajah pucatnya. Dia tetap mematung tanpa satu kata yang terucap. Begitu pula Elena yang mengerat giginya dengan
Maria melenggang Dan mengisyaratkan pamit Pada Papi. Langkahnya cukup tegap untuk berjalan menuju pintu keluar, tapi...
Maria mekewatiku begitu saja. Wajahnya hanya menatap lurus dengan senyum yang terpahat manis.
She is not OK!
Aku segera menyusul Maria Dan segera memberikan kode Pada Adi agar mengikuti Jalannya Rapat yang masih tersisa.
"Mar..!" Aku segera meraih tangannya ketika dia sudah hampir sampai di pintu lift.
Sepasang manik Maria nampak mengembun. Sikap tenang Dan Anggun tadi nampaknya mulai runtuh.
Aku menarik tubuh Maria ke arah pintu darurat. Dan membiarkan dia menangis terisak.
" Apakah ini tangis bahagia atau Sedih" Ups bodoh banget aku bertanya.
Maria menyelesaikan tangisnya Dan mengusap wajahnya dengan handscraf dari sakunya.
Perlahan dia mulai menata nafasnya, dan mungkin beberapa kalimat yang akan Di sampaikan nya.
"Apakah kamu tahu kalau hasil Rapat kita juga akan terekam secara Public?" Maria menanyakan itu dengan nada yang tak perlu aku jawab.
"Artinya, semua orang akan tahu perbuatan Anthony padaku. Meski aku memilih untuk tidak memprocessnya ke pihak berwajib"
Aku masih memilih diam, Pikiranku masih ambigu akan arah pembicaraan Maria.
"Tania tidak hanya akan dikenal sebagai anakku, tapi juga putri Anthony. Itu akan menjadi Noda dalam kehidupannya"
Aku menyadari apa yang di khawatir kan Maria. Tangisnyapun kembali pecah. Aku meraih tubuh Maria Dan membiarkannya membenamkan tangisnya Di dadaku.
******
Plak!!!
Tamparan keras mendarat Di pipi Antony yang tertopang rahang dengan cukup kuat.
"Kenapa mencantumkan nominal?" maki Elena yang harus mengubur cita - citanya menduduki posisi penting Di Tower High.
"Luna tidak mungkin melakukannya dengan gratis" Anthony mengusap pipinya yang merekah. Tanpa membalas.
"Kamu CEO hebat, kamu Bisa barter dengan beberapa hal yang lebih menarik" Elena menutup erat sepasang manik indahnya. Entah seberapa besar kekecewaan yang harus ditelannya saat ini.
"Kalau bukan karena Maria, kamu pasti masih bertapa di balik komputermu dengan sweater dekil" Maki Elena tanpa ragu.
"Aku punya kemampuan Na!"
"Hanya meniru strategy bisnis mantan istrimu dengan modal yang lebih besar, bukanlah hal sulit" Elena memang bukan wanita yang mudah untuk meredam emosi.
"Aku tidak mau tahu bagaimana Caranya kamu bersihkan namaku dari campur Tangan kotormu itu" Elena melanjutkan ucapannya. "Setidaknya aku tidak terlalu rugi datang hari ini
" Atau, aku akan membeberkan kelakuanmu Di Queensland. Jangan sampai kamu juga Di cerai dengan tidak hormat bukan? " Elena membuang nafas tepat Di muka Anthony Dan setelah tersenyum sinis dia memutar langkahnya meninggalkan Anthony sendiri..
"Aaaaaargh..!!!" Anthony menyapu seluruh isi mejanya.
Karirnya yang gemilang hanya runtuh tak tersisa hari ini.
"Mariaaaa!!!" teriaknya sekali lagi dengan sekuat tenaga.
****
" Kamu yakin, tidak ada dendam yang mendalam antara kamu Dan Anthony?" Aku membuka percakapan Di antara dering klackson Jalanan siang ini.
"Entahlah, sepertinya sifatku mudah sekali membuat lelaki yang dekat denganku membenciku dengan cara instant" Maria menjawab pasrah.
Maria tertawa kecil "Aku hanya tahu apa yang aku mau lebih cepat, bukan berarti aku dominant bukan?"
Tatapan kami bertemu Sejenak sebelum aku memfokuskan pandanganku kembali ke Jalanan.
Pikiranku melayang jauh ketika kami awal bersama, lima tahun seharusnya Anthony mulai biasa dengan sifat Maria. Tapi Bisa jadi dia juga mendendam karena Maria juga adalah bosnya.
"Aku sadar... Aku bukan wanita yang di sukai. Tapi aku bisa membayar harga untuk menunjukkan bahwa aku tidak pernah bermaksud buruk"
Aku mulai mengangguk memahami sisi Anthony. Di mana ribuan gadis memimpikan Dan memuja kami. Tapi kami hanya berada Di bawah perintah kuasa seorang wanita yang berpenampilan sederhana seperti Maria.
"Tapi semua tidak gratis bukan?" Gumam Maria seolah tahu isi otakku.
Uhf... Dan itu bena. , bedanya Maria mengontrakku dengan jelas Dan kami memulai hubungan sebagai karyawan Dan atasan. Sedang Anthony hanya Berdasarkan Persahabatan, yang ternyata sering lebih rapuh dari uang.
******
Sehari setelah persidangan Papi.
"Kenapa kamu menemui saya Mar?" suara pak Raja terdengar sedikit parau.
"Apakah anda kurang minum atau hanya sekedar haru dengan putra anda?" Maria tidak ingin menjaga jarak Berdasarkan usia seharusnya.
"hmm... Langsung saja Mar, kita ke intinya. Kita bukan baru saja kenal bukan?"
Segurat senyum ramah Maria tersungging sempurna."Saya sedang mengajukan bebas bersyarat, hanya menjadi tahanan Kota"
"Imbalannya?"
Sejenak suasana hening, hanya suara titik gerimis Di luar ruangan yang terdengar sendu.
Maria menyodorkan beberapa salinan dokumen yang di Tata rapi dalam amplop coklat tebal.
"Mungkin terdengar akan Ada keuntungan dari pihak saya, tapi sesungguhnya saya juga berusaha menyelamatkan keluarga anda dari kehilangan posisinya dari Tower High"
Pak Raja membuka perlahan Dan membaca satu demi satu.
"Anthony melakukan ini?"
Maria mengangguk mantap. "Dan tidak menutup kemungkinan akan melakukannya lagi dengan support dari adik ipar anda"
Sebuah senyum sinis tersembul "Keuntungan yang membengkak Pada masa jabatannya, akan membuatku tidak akan mampu menyingkirkannya sendiri"
"Benar!" Maria menyetujui pendapat pak Raja tanpa berfikir. "Tapi yang satu ini pasti susah di tolak" Maria menyerahkan satu lagi amplop "Saya yakin anda tidak akan menghancurkan perusahaan demi seorang CEO"
Tawar kecil berderai dengan renyah. "Maria... Maria...." sedikit batuk kecil menghentikan gumamannya "Kamu tidak menyandera anakku dengan cara ini kan?"
"Ada sudah mengenal saya cukup lama. Saya tidak butuh romansa, saya hanya seorang pembisnis" Maria menarik nafas dalam - dalam "Di mata saya dia cukup menguntungkan, dengan atau tanpa anda sebagai orang tuanya Dan saya yakin anda mengerti itu"
Sekali lagi pak Raja memeriksa dokumen terahir. Dan menyapukan pandangan pada sosok wanita yang Sebenarnya adalah menantunya.
"ehem.. Berikan kesepakatannya, dan pastikan menjemput ku dengan layak saat Rapat pemegang saham"
******
"Selama hidupku aku belum pernah berhasil membujuk Papi" Aku menurunkan jendela kaca mobilku saat memasuki area Perumahan kami.
"Selamat sore Pak" seorang satpam menyapa dengan ramah "Selamat Sore bu" sapanya lagi Pada Maria.
Akupun segera menutup kembali kaca jendela mobilku.
"Tapi kamu sepertinya Bisa melakukannya dengan baik" lanjutku yang mulai melakukan kembali mobilku untuk menuju rumah kami.
"Kamu hanya perlu tahu apa yang paling Di cintainya" jawab Maria datar. "Seperti Anthony tahu bagaimana menyerangku"