
"Selamat pagi pak" Sapa Diana dari meja receptionist "Ada titipan dari pak Ario"
Diana menyerahkan amplop coklat kepadaku. "Terimakasih" Aku menerimanya dan segera melangkah ke arah ruanganku.
Seharusnya aku tak perlu bersedih lagi melihat kenyataan yang terjadi pada Papi. Tapi ternyata sulit. Sungguh keluarga kami lebih dari cukup, Namun kekuasaan selalu menutup mata dan membuat makhkluk seperti Papi merasa miskin seketika.
Sebenarnya, proyek Papi dengan om Handoyo sama sekali tidak menguntungkan, kalau di perhitungkan secara resiko.
Bukankah persidangan tidak akan selesai dengan singkat?
"Hallo Adi, apakah ibu sudah datang?"
"Sudah pak, baru saja datang. Tapi sedang ada tamu kalau nggak salah orang tua bapak"
"Orang tua saya?"
"Kata Roselyn begitu pak"
Mami.. Kenapa harus menemui Maria tanpa aku. Ini sudah kedua kalinya Mami mulai menghampiriku tanpa di undang.
Ah... Pasti Maria bisa mengatasinya. Pekerjaanku Sungguh cukup menumpuk, terutama dengan deadline yang Maria berikan dan juga Dion yang masih dalam masa cuti.
Tapi pikiranku benar - benar tidak mampu fokus lagi. Karena tidak mungkin Mami melakukan hal yang baik bukan? entah apa alasannya, mami tidak bisa menyukai Maria padahal secara tidak langsung dia juga mengakui keunggulan Maria. Bahkan sepertinya mereka punya kedekatan yang baik di masa lalu.
"Hallo Roselyn?"
"Iya pak"
"Apakah kamu sedang bersama ibu?"
"Tidak pak, ibu sedang di ruangannya dengan ibu bapak dan mungkin saudara bapak?"
"Saya ini anak tunggal"
"Maksud saya mungkin sepupu bapak"
"Renata?"
"Bukan pak.. Kalau bu Renata saya tahu, yang ini saya belum pernah lihat"
Saudara antah berantah mana lagi yang mendampingi Mami. Mungkinkah Elena, perasaanku sungguh tidak nyaman. Sebenarnya aku cukup enggan untuk meninggalkan pekerjaanku yang menumpuk. Tapi membayangkan Mami memojokkan Maria tentu juga sulit.
Tapi.... Bukankah keluarga juga utama?
Aku segera kembali meraih kunci mobilku dan segera meluncur ke kantor Maria. Paling tidak aku masih Bisa menyelesaikan laporan Bio Chemical bersama Adi, usai membereskan urusan Mami.
*****
"Mami.." Aku memasuki ruangan Maria tanpa mengetuk.
Dan benar saja, Wajah Mami nampak penuh emosi. Mami segera membuang muka setelah menatapku sinis.
"Mami ngapain di sini?" tanyaku "Dan Luna?" ternyata orang yang di maksud Roselyn adalah Luna.
"Mami sengaja datang untuk melihat jelas bagaimana rabunnya anak Mami" Ucap mami setelah menangkap arah pandangku. "Lihat Luna baik - baik dan kemudian lihatlah istrimu yang seperti mesin tua itu"
"Oh Mi..." Aku segera menutup pintu, aku tidak mau bertaruh dengan kata - kata lain yang akan keluar dari mulut Mami selanjutnya. "Kenapa terus membahas ini?"
" Lihatlah Har... dari ujung kaki hingga ujung kepala, Maria sama sekali tidak pantas bersanding denganmu. Mami malu mengenalkannya dengan para relasi Mami"
"Mi..." Aku mencoba memotong.
"Bukankah kamu dan Luna sangat dekat ketika kalian kuliah bersama? Masih ada kesempatan untuk kalian kembali"
"Mi...!!!" Kali ini suaraku mulai meninggi. Seisi ruangan langsung hening seketika.
Aku mengarahkan pandangku pada Maria yang entah bagaimana nampak tetap tenang.
"Keputusanku sudah final Mi" nada suaraku sudah mulai turun. "Kamu juga Luna, semuanya sudah Berahir. Its over!!"
"Aku hanya mengantar tante" jawab Luna tak bersalah. "Aku tidak ikut campur, lagi pula seorang ibu berhak atas masa depan anaknya"
"Ha.. Ha.. Ha.. Termasuk menghancurkannya?"
"Mami mau yang terbaik buat kamu Har.." Mami mencoba menyangkal kesalahannya.
"Jadi.. Mar, kamu pikirkan baik - baik tawaranku. Saya tidak keberatan dengan kamu sebagai relasi, tapi untuk menantu lain ceritanya" Mami tak mengindahkan pertanyaanku "Seharusnya sudah cukup kamu mengambil dari kami, tidak perlu anakku juga kamu rampas"
"Apa yang Maria rampas dari Mami?" aku sungguh penasaran saat ini.
"Huh.. Bukankah kalian suami istri, bagaimana kamu tidak tahu soal istrimu?"
Tapi berbicara dengan mami dalam suasana emosi, selalu menjadi keputusan yang buruk "Dan itu bukan urusan Mami" Aku memutuskan untuk mengahiri "aku sudah dewasa dan berhak atas hidupku"
Aku mengalihkan pandanganku kepada Luna, mencoba menerka apa yang sedang di rencanakannya. Bukankah dia yang menghakhiri? dan dia selalu mengumpat pernikahan Bisnis di sepanjang kebersamaan kami, Kenapa tiba - tiba berubah.
"Luna, kamu tahu tidak pernah ada Jalan kembali di antara kita, I never look back"°
"Really Har..? Semuanya? "
Luna memang tipeku, baik fisik atau sifat pada masa itu. Bohong kalau aku tidak pernah menyimpan perasaan untuknya. Tapi Luna juga tidak menyapaku ketika aku bukan siapa - siapa. Issue pengusiranku adalah rahasia umum, terutama dengan Melissa sebagai penyebabnya. Yang luna cintai bukan aku, tapi apa yang di miliki keluargaku.
"Apakah ayahmu ingin menjabat lebih lama? Dukungan Tower High tentu sangat berarti bukan?" aku langsung ke inti tuduhanku "Kita tidak pernah serius sama sekali dari awal, tapi aku sangat serius ketika Berahir"
Luna hanya membuang nafas kasar, sepintas bibir sexynya mengumpat meski tak bersuara.
"Har... Kita akan memiliki semuanya, Mami tidak keberatan kalau memang kita harus mendukung ayah Luna"
"Kenapa Mami tidak menikah saja dengan Ayah Luna. Bukankah kekayaan tunggal Mami juga cukup mampu"
"Prak!!" Sebuah tamparan mendarat di pipiku. "Kamu Sungguh kurang ajar sekarang"
"Aku butuh kurang ajar untuk bertahan hidup Mi"
Maria beranjak dari duduknya dan melangkah dengan rapi menuju pintu. "Berdebat itu biasa, tapi saya Mohon maaf saya tidak mengijinkan adanya kekerasan dalam lingkungan perusahaan saya" Maria menatap kami secara bergantian "Saya Mohon kalian menyelesaikannya di luar"
" Untukku, ini sudah selesai" aku membalas ucapan Maria dengan pasti.
Mami hanya memaku dan memandang Maria dengan tidak ramah. Meski ahirnya dia berjalan menuju pintu yang sekarang telah terbuka.
"Maaf, saya tidak pernah mengambil dari siapapun. Saya selalu membayar dengan harga yang pantas" ucap Maria dengan suara yang lembut tapi sepertinya cukup menusuk Mami "Anda sudah tahu harga saya, dan tawaran Anda bahkan tidak mendekati setengahnya"
Maria menyunggingkan senyum yang sekali lagi membuatku penasaran. Topik pembahasan apa yang terjadi di antara mereka.
"Tawaran Apa?" aku bertanya langsung ketika pintu sudah kembali tertutup.
"Hanya kasus classic" Maria menjawab seakan pertanyaanku tidak serius.
"Mami menawarimu sesuatu?" Maria kembali ke tempat duduknya dan mengangguk. "Tapi kamu menolak kan?"
"Jelas..!" Jawab Maria tegas " Penawarannya terlalu rendah"
"Jadi kalau tawaran Mami cocok akankah kamu melepaskanku?"
"Aku tidak menutup kemungkinan" jawab Maria seperti tidak ada beban.
"Meski ada anak di antara kita"
Maria mendengus "Har.." panggilnya lembut tapi mengiris hatiku.
Kenapa Maria tidak bilang 'Tentu saja Tidak'
"Berikan aku perjanjian baru kita" Aku segera menagih "Aku tanda tangani sekarang"
"Har.. Aku.."
"Berikan Mar..."
Ahirnya Maria memberikan sepasang map berwarna hijau. "Bacalah dengan seksama, diskusikan bila ada yang ingin kamu ubah"
"Tentu..." Aku langsung menunjuk pada point pinalty. "Aku tidak bisa percaya dengan angka ini"
Aku meraih bolpoint Maria "Aku mau angka yang sama dalam currency Poundsterling" Lanjutku dengan mengganti logo mata uang dalam perjanjian kami.
"Bukankah itu terlalu besar?"
"Tidak untukku, karena aku pastikan aku akan menepatinya dan pinalty ini tidak akan terjadi padaku" Aku menegaskan tekadku dan tanpa ragu aku membubuhkan tanda tanganku.
"Well.." Maria hanya menghela nafas panjang, dan tanpa ragu dia juga membubuhkan tanda tangannya.