Sugar Mamy

Sugar Mamy
Persetujuan


"Aku masih hidup dan belum mati" jawab Maria tajam seperti dulu, Ya... Ya.. Hormon Maria sudah mulai normal.


"Kamu mau ke mana?" Aku menggenggam erat pangkal lengan Maria yang akan ikut berpamitan dari ruang kerjaku.


"Mau melihat Yodha"


"Ada Yulia bukan?"


"Aaaa.. Iya..."


Tanpa menunggu kalimat berikutnya aku menarik tubuh Maria kepelukanku.


Ssst....


Klek... Suara kunci pintu yang sudah berubah posisi.


"Har..!!! Aku masih dalam masa nifas"


"Ada mulut dan tangan kan?" Maria cuma bisa membulatkan maniknya "Dan sepertinya sofa di ruang kerjaku cukup untuk kita berdua.. Auch!"


Maria mendaratkan ujung sikunya di perutku. Namun aku sudah mulai terbiasa dengan aksi jual mahalnya yang selalu membuat feromonku naik.


At the result you are still serve me!


******


Langkahku cukup berat menuju ruang tunggu, sudah beberapa kali aku ke sini dan Berahir hanya di tolak.


Derit suara pintu segera terdegar mengkhawatiranku. Wajah Papi muncul dengan raut yang enggan melihat ke arahku.


"Apa Mami tidak membawakan pisau cukur untuk Papi?" Aku mencoba bersikap biasa, dan biasanya kami sering bertengkar. Merubah kebiasaan itu tidak mudah.


Sudut bibir Papi hanya terangkat sebelah. "Aku tidak suka membuang waktu"


"Apa di dalam Papi sangat sibuk?" Alasan Papi tidak pernah berubah.


Papi memalingkan wajahnya dariku. Sikap arogan ini pernah aku warisi hingga beberapa saat yang lalu. Tapi ketika kamu hanya orang miskin, hal itu adalah racun.


"Aku sudah menunjuk kuasa hukum untuk melakukan sidang ulang"


Wajah Papi nampak sedikit cerah, meski wajahnya masih enggan menatapku.


" Papi sifatnya membantu kejahatan, sudah wajar papi di sini. Wajah jengkel Papi itu tidak layak"


"Ini gara - gara kamu dan istri tuamu itu"


"Dia lebih muda dari Papi!" Aku tidak membiarkan papi mengisi ruang dengarku dengan umpatan lebih. "Lagi pula tidak ada bukti itu aku atau dia"


"Siapa lagi yang bermasalah denganku dan bersih, hingga berani melakukannya?"


"Jadi Papi sadar kalau Papi membuat masalah dengan Maria?" Aku melempar amplop coklat ke hadapan Papi. "Jadi dugaanku ini adalah fakta? bahwa Papi di balik semua masalah Globalindo?"


Papi membuka amplop itu dengan kasar. Raut mukanya hanya masam melihat semua bukti yang aku kumpulkan. "Mintalah maaf kepada Maria suatu saat nanti. Aku yang melamar Maria dan memilih bertahan"


"Dan itu artinya kamu tidak menyayangi Papi, lihat hasilnya pada Papi"


"Justru karena aku menyayangi Papi, setidaknya Papi tahu sekarang bahwa om handoyo juga tidak ingin membagi pisau cukurnya dengan Papi"


Wajah Papi serentak memucat.


"Kami akan mengadakan sidang ulang, sepertinya Papi Bisa keluar lebih cepat" Papi kali ini memandangku. "Aku sudah mempelajari berkas Papi, seharusnya Papi tidak perlu menjalani hukuman maximal"


"Kamu tidak tertarik dengan Tower High?"


Aku menarik nafas dalam - dalam "Dulu... Saat aku hidup dalam Aquarium" Aku tersenyum tipis "Sekarang aku sedang berenang dilautan aku melihat banyak hal"


"Jadi kamu tidak akan kembali ke Tower High"


"Papi sendiri yang melemparku keluar dari aquarium tanpa setetes airpun" Aku menggelengkan kepalaku. "Mungkin aku tertarik menjadi partner suatu saat nanti dengan kemampuanku bukan karena aku adalah keturunanmu"


"Kamu sudah dewasa.." Papi mendesis dengan nada kecewa dan bangga.


"Karena itu, tanda tangani ini"


"Hah?! Ternyata kamu tidak cukup ikhlas membantuku"


"Bagaimanapun aku anakmu, tentu saja aku memiliki beberapa sifatmu" Aku menyodorkan pulpen ke arahnya. "No more married arrangements for me"


"Huh.. Aku tidak memerlukannya lagi"


"Betul sekali dan pastikan istri pujaan papi itu berhenti melakukannya" Aku mengetukkan jemariku di area yang harus di tanda tanganginya. "Aku sudah sangat puas dengan Maria, selepas usia dan mungkin fisik yang tidak mencapai standard kalian. Bukankah dia memiliki kecerdasan dan kemampuan yang qualify untuk Tower High?"


Papi mengatupkan sepasang bibirnya dengan cukup rapat. Aku tahu Papi menyukai Maria sebagai partner Bisnis pada masa sebelumnya.


" Karena itu juga, kalian mengincar Anthony untuk mengadopsi strategy bisnis Maria... Mengingat dia sempat menduduki posisi CEO di sana"


"Apakah Papi seorang pemulung? Perusahaan air mineral juga berinvestasi tinggi pada botol kemasannya. Tapi mereka tidak memungut ulang ketika botol itu sudah mereka lempar ke tempat sampah"


Aku melempar botol minum sekali pakai air mineralku ke arah tempat sampah di ujung ruangan "Meski kadang botol itu berisi penuh, mereka akan memilih memproduksi lagi bukan? " Aku menarik semua berkas yang berserakan di meja kami "Kecuali pemulung, karena mereka tidak mampu memproduksi" tanganku dengan cekatan merapikan lembaran - lembaran kertas itu dan menasukkannya segera ke dalam tas kerja ku.


" Apakah Maria yang menyuruhmu? "Celetuk Papi sebelum aku beranjak.


" Lepaskan Maria dari urusan kita " Aku mendekatkan wajahku ke Papi" Mari kita berduel dengan adil. Hanya Papi dan aku"


Papi mendenguskan nafasnya "Apa maksudmu?"


"Aku tidak akan mewarisi Tower High, tapi aku akan memilikinya dengan kemampuanku. Whitout drama!"


Papi hanya memalingkan muka dan terus begitu hingga aku hampir keluar dari ruangan.


"Oh iya.. Bekerja samalah dengan baik, aku menantikanmu di luar sana"


Papi terlalu mencintai Tower High, dia hanya ingin aku jadi bonekanya di sana. Bukan pemilik sesungguhnya. Tapi Apabila aku bisa mendapatkannya dengan caraku, dia tidak akan berkutik.


*****


Huh Dion, sudah aku duga dia pasti terlambat. Padahal aku sudah memberinya sepuluh hari libur usai pernikahannya yang penuh hingar bingar. Kita lihat saja, keputusannya atau keputusanku yang benar.


"Sorry aku telat"


Aku hanya mengangguk "Dimaafin! Selamat datang di dunia nyata pengantin baru".


"Aku nggak maksud telat, tadi.."


"Udah simpan aja alasan kamu, yang penting sebelum makan siang kamu sudah bisa hand over kerjaan dari Adi. Kamu langsung bisa hubungi dia kalau ada dokumen yang kurang"


Dion menggaruk kepalanya kasar dan beranjak pergi. Tapi...


"Eh tunggu ... Kamu jangan keluar dulu"


" Ada yang lain?"


" Udah duduk bentar "


Dion menatapku penuh tanya meski dia menuruti perkataanku.


" Diana, apakah kamu bawa concelar? " telponku pada staff receptionist.


" Bawa pak.. "


" Tolong bawa keruangan saya "


" Kamu normal kan? " Dion mempertanyakan kemaskulinanku yang jelas nyata.


" jelas.... Aku sudah menghasilkan "


" Lha terus ngapain nahan aku di sini dan minta Diana ngasih concelar ke kamu? "


Aku menarik kera leher Dion sedikit."Banyak bekasnya, kayaknya Elena semangat banget sama kamu ckckck"


Dion refflek menarik kerahnya Dan memendekkan lehernya. "Se.. se ri us?"


"Kerjaan semalam atau pagi ini" Aku mendekatkan wajahku ke arah seolah menuduh bahwa penyebab keterlambatan Dion hari ini adalah....


"Oh.. Maaf!!" Diana masuk dengan ekpresi terkejut dengan posisi kami.


"Gpp.. Mana concelarnya? Cepet bawa sini"


Diana menyerahkan concelar di tangannya. Senyumnya memandang arah leher Dion dengan senyum penuh Arti.


"Kami normal Di.." aku malas dengan gossip.


"Eh iya.."


"Ini bekas Dion ma istri barunya"


"Oh iya pak, tapi memang mas. Dion ada istri lama?"


Aku dan Dion menggeleng bersamaan setelah kami Saling menatap.


" Oooh... Saya pamit dulu pak "Diana mengucap kata setengah terbata dengan langkah cepat meninggalkan kami berdua.


" Terjadi lagi... "Aku dan Dion mengeluh bersamaan.


Sebenarnya ada rumor kecil yang masih menggulung halus di sela gossip kantor. Bahwa aku dan Dion memiliki hubungan special. Karena aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Dion dari Pada rekan lain sejak awal masuk.


Ini semua karena rahasia yang terus aku telan. Pertama karena rahasia tentang keluargaku dan kedua rahasiaku dengan Maria.