Sugar Mamy

Sugar Mamy
Berencana


"Misimu tidak buruk, bisa di bilang 85% berhasil"


"Aku hitung itu sebagai ucapan termakasih, Aku penasaran dengan angka 15% gagalnya"


Maria tersenyum tipis," kegagalannya ada padaku. Anthony sepertinya mendendam tanpa aku tahu penyebabnya. Dia tak pernah lolos mengawasiku."


"Dia masih naksir kali, gagal move on! " celetukku yang masih yakin akan dugaanku.


"Aku sudah bilang itu mustahil.... Kami punya kesempatan lima tahun"


Mungkin Anthony tidak pernah mengira Maria akan menikah lelaki yang jauh lebih baik darinya, seperti aku. Bisa di bilang aku adalah bos dari Anthony andai aku berada Di Tower High saat ini. "Mungkin dia iri kamu mendapatkan suami yang tampan Dan muda sepertiku" Kelakarku.


Maria terkekeh kecil "Aku tidak bisa menyangkal soal itu" Sebuah tarikan nafas panjang Di ambil nya " ternyata aku memang dapat good deal"


Kami tertawa bersama ketika mulai mmembelah Jalanan malam yang mulai perlahan Di hiasi gerimis.


Maria memutuskan tidur sepanjang perjalanan. Sehingga suasana terasa henning tanpa celotehnya yang sering membahas hal Di luar dugaan.


Pikiranku melayang ke arah Dion, yah! Sahabatku yang satu itu. Apakah dia bahagia atau tersiksa. Dion bukan tipe yang menghalalkan segala cara untuk tujuannya. Setidaknya aku masih memiliki keyakinan itu hingga beberapa hari yang lalu.


Elena Dan Dion, Sungguh bukan pasangan yang serasi. Aku memandang dari sisi sifat. Sebagai anak pertama Dan tukang punggung keluarga Dion cukup matang Dan dewasa. Sedang Elena.. Huh... Putri manja itu tidak akan pernah dewasa meski sudah memasuki kepala 4 Di usianya.


******


"Mar...! Aku mau nambah satu sekertaris" Sebuah kalimat pertama yang aku luncurkan usai activitas ranjang kami pagi ini. "Aku berencana jadi suami siaga"


"Jangan bohong padaku..pasti ini ada hubungannya dengan hubungan Dion Dan Elena bukan?"


Aku lupa kalau Maria paling jago urusan membaca Pikiranku.


"Salah satunya....!" Aku membela diri sedikit.


Maria merenung sebentar sambil mengenakan kimononya "Kamu sudah punya calon?"


"Ada yang terlintas Di otakku tapi dia cukup pemula untuk bekerja Di bidang kita"


"Rajin? Dapat di percaya?"


"Aku rasa iya"


"Terus bagaimana dengan Dion?"


"Dia tetap Di tempatnya sekarang, dan pegawai baru akan berada Di pusat. Bukankah selama beberapa bulan aku akan merangkap jabatanmu?"


Maria berdiri Sejenak menatapku yang masih membiarkan tubuhku terexpose dengan jelas.


"Bagaimana Perkembangan bisnismu dengan Jonathan?"


"Kenapa malah yang kamu bahas om Jonathan?"


"Aku membahas Bisnisnya bukan soal Jonathan" Maria menyerahkan bathrobe kepadaku. "Aku ingin pastikan kamu mempunyai cukup laba usaha yang bisa memberiku garansi Apabila ada penurunan kinerja kalau aku menyetujuinya"


"Apakah status ku sebagai suami Dan ayah dari anak kita tidak cukup? "


"Apa?"


"Mungkin kamu hanya Berahir jadi sekertarisku" Sebuah senyum melengkung " Jadi semua yang kamu miliki bukan karena aku Har... Tapi karena kemampuanmu juga"


Maria Sungguh tahu sisi kurang percaya diriku.


"Jadi... Cepatlah mandi, dan segera berangkat kerja.. Pastikan ucapanku tidak salah" Candanya dalam langkahnya menuju kamar mandi.


"Kamu mau mandi bersama?"


Maria menggeleng "Aku mau berendam sambil menikmati complimentary darimu" Jemari Maria menunjuk ke arah shower "Aku tidak cukup tenaga.. Untuk itu, tapi aku tidak masalah dengan complimentary nya"


"Aaah....!!! Kamu mulai Bisa menggunakan ku dengan maksimal"


Maria hanya mengangkat kedua alisnya "Tapi ingat..!! Pastikan laporan tentang candidatmu sore ini Dan urus juga bagian Dion dalam rencana barumu itu"


"Aku juga pastikan untuk menyerahkan laporan labaku bersama Jonathan tanpa kamu menghubunginya"


"Great Idea!!" Maria mengangguk mantap " Now.. Give me your show time"


*****


Dion sudah menungguku Di ruanganku seperti pintaku dalam pesan pendek. Wajahnya tampak penuh semangat ketika aku memasuki ruangan.


"Aku tidak berharap kabar buruk" sambutnya "atas nasi yang sudah jadi bubur" jemarinya nampak enggan menyodorkan map laporan Enam bulan terahir.


" Apakah ada kabar buruk?"


Dion mendengus sesaat "Beri aku waktu setidaknya maksimal tiga bulan, kalau saja kamu ingin memecatku"


Meski itu sempat terbersit dalam otakku, tapi aku harus belajar menjadi pembisnis. "Dari segi Bisnis Dan pertemanan aku belum punya alasan untuk itu Dan aku berharap untukmu tidak membuatku memiliki alasan tersebut"


"Jadi... Kamu tidak memecatku?"


Aku menggaruk Hidung ku yang sedang tidak gatal " Nope!!"


Wajah Dion seketika menjadi sumringah seperti biasa. "Aku kira kamu benar - benar marah aku akan menikah tantemu"


"Urusan itu aku masih belum Bisa terima, tugasmu untuk membuatku Bisa memahami keputusanmu yang sedikit menciderai pertemanan kita"


"Huh.... Andai aku tahu kamu keponakan Elena, mungkin aku menjauhimu dari dulu... Setidaknya kamu tidak akan kecewa dengan kondisi saat ini"


" hah... Ini bukan masalah kita teman atau bukan, ini adalah masalah bahwa dia adalah tanteku" Aku menegaskan duduk permasalahannya "Dan aku tahu bagaimana pribadinya yang pasti tidak akan mudah untuk kamu hadapi..!!"


Mata Dion melebar Sejenak, mencoba menebak maksud ucapanku.


"Aku Tanya padamu.. Apakah kamu pernah melawan ucapannya atau mencoba tidak menuruti Keinginannya? Apa kamu juga sudah tahu Kenapa tiba - tiba dia memutuskan untuk menikah dalam waktu dekat?"


Dion hanya terdiam Dan menelan ludah kasar, kedua bibirnya pun mngatup Rapat, seolah sedang menahan Sebuah beban.


" Sekarang kamu paham kan.. Apa yang aku khawatirkan? " Aku menggeleng beberapa kali." Aku tidak ingin kamu Berahir jadi budak Elena, Dion!!"