Sugar Mamy

Sugar Mamy
Kejutan


Dengkuran Maria langsung terdengar ketika aku memasuki rumah. Dia tidur bukan karena sedang menungguku, tapi rupanya dia tertidur karena kelelahan. Terlihat dsri layar laptop yang masih menyala dengan laporan perusahaan yang masih terpampang.Pasti Maria sedang stress, karena kondisi perusahaan yang tak kunjung membaik, bahkan Bisa di bilang terus menurun .


Aku memilih membiarkannya menikmati tidurnya dengan dengkurannya sekaligus meski dia sedang di sofa. Maria butuh istirahat. Tunggu, apakah Maria sudah makan?


"Aku jadi lapar...."


Meski tidak panda memasak, sekedar mie Instant aku pasti juga Ahli. Terutama mantan anak kos. Semua peralatan makan nampak masih rapi, aku yakin Maria tidak menyentuhnya sama sekali hari ini. Yang artinya, dia juga pasti belum makan.


" Mar... Bangun! "


Aku membangunkan Maria untuk mengajaknya bergabung makan malam denganku. Meski hanya sekedar mie instant.


"Makan yuk" Ajakku "Laper kan?"


"Kamu..." Maria membuka matanya dengan Malas. "Potong rambut?"


Maria langsung menyadari Perubahan ku, berarti dia cukup perhatian Sebenarnya padaku. Hanya sering nggak ngaku aja.


"Daniel yang saranin, katanya kamu suka cowok rapi"


Maria menggeleng Sejenak Dan mulai mengambil posisi duduk.


"Sejak kapan dia tahu selera ku? Tapi bagus juga" Maria mengacak rambutku Sejenak Dan menanyakan tawaran ku "makan Apa?"


"Mie... He he.."


Maria mengangguk Dan segera bangkit menuju meja makan.


"Enak kan?"


"Karena kamu yang masak?"


"Bukan... Karena kamu yang lapar"


Kami tertawa bersama,


"sering - sering tertawa, kamu cantik kalau tertawa"


"Aku tidak bisa menambah bulananmu, meski kamu memujiku"


"Aku tulus nih"


"Thank you.." sambut Maria.


"Kamu itu nggak jelek - jelek amat"


"Kamu habis minum apa sebelum pulang, kok jadi ngelantur"


"I am honest this time..." Aku mencoba meyakinkan lagi kalau aku serius. " your smile always perfect, kulit kamu juga bagus, rambut kamu juga sehat Dan Harum, panjang lagi... Your eyes always confident"


"hmmmm..." Maria selalu tidak tertarik dengan pujian fisik.


"You are slim... I love your body shape, but.... Kenapa kamu sering nggak percaya diri sama fisik kamu?"


"Sudah aku bilang, aku bukan tipe rata - rata pria"


"Tapi kamu mulai jadi tipeku"


"Sejak kapan aku jadi tipemu?"


"Sejak kamu pakai baju sailor moon"


Maria menghentikan makannya,


"Ada yang salah? You are looks good"


"But I am not perform good"


Aku mengangguk tanda menyetujui akan pernyataannya.


"Kita Bisa coba lagi, with better perform"


Aku dan Maria Saling bertukar pandang sejenak, aku rasa kami sama - sama flash back Pada malam pertama kami. Hingga ahirnya kami sama - sama tertawa.


Membicarakan hal lain selain masalah adalah cara healing paling mudah dan cepat.


******


Dion melambai - lambai Di troroar depan kantor ketika melihat mobilku yang berjarak 50 meter saja.


Ah... Mungkin saja itu bukan untukku, tapi untuk taxi online yang sedang dia pesan. Tapi sebentar lagi sudah jam kerja, mau ke mana dia.


Brak..!!


dia segera memggebrak jendela ku ketiku aku baru akan mulai masuj Di pintu gerbang


"Apa Yon..!!" Aku segera melempar kata ketus Pada teman yang sekaligus sekertarisku ini.


Dion menyebutkan Sebuah kata yang sulit aku cerna Di antara bunyi lalu lintas yang di hiasi dengan nyaring ya bunyi klakson.


"Parkir!!" Aku hanya sanggup menjawab dengan satu kata itu, berharap Dion Bisa bersabar dengan apapun yang dia maksud, hingga aku parkir.


"Kenapa sih? Kamu nggak kerja, situasi lagi genting nih"


" Urusan kantor masih Bisa di tunda, tapi yang ini langsung Bisa memyergap Di depan mata"


"Kamu lagi bintitan?"


Dion dengan kasar menepuk jidatku.


"Melissa..... Di sini...."


"kok nggak bilang dari tadi"


Aku udah coba tadi ngoceh sebelum kamu parkir.


"Tok... Tok...."


Aaaaah....


Aku dan Dion menjerit bersamaan, mendapati seorang gadis cantik berambut ikal dengan warna burgundy sedang mengetuk jendela mobilku.


"Sejak kapan dia tahu ini mobilku" Bisikku..


"mana aku tahu" Dion balas berbisik.


Turun nggak ya.... Kenapa aku jadi yang takut, bukankah aku nggak salah. Tapi dia mau apa sih? Di antara kita urusan sudah beres.


"turun nggak.." bisik Dion sambil melempar senyum ke arah Melissa yang masih menatap kami dari balik jendela.


Yah... Pada ahirnya harus Di hadapi.. Aku memutuskan untuk turun Dan mencoba menghadapi Melissa.


" Katanya tadi bapak nggak masuk hari ini" Melissa menyindir Dion yang beringsut berdiri di belakang ku.


"Rencananya gitu.... Tapi ada urusan mendadak yang butuh beberapa hal Di kantor jadi aku putuskan untuk masuk"


Hah... Otakku udah mulai encer untuk ngeles. Seumur - umur aku nggak pernah bohong Di depan cewek untuk urusan nggak penting, baru kali ini deh...


"Ada perlu dengan aku Mel..?" Aku mencoba tetap bersikap tenang meski Sebenarnya aku juga khawatir dalam hati.


" Tentu saja, masih ada hal yang belum beres Di antara kita" wajah Melissa nampak cukup kesal.


Ah.... Alamat ribut deh.... Tapi mau gimana? Aku mencoba menatap Dion untuk mencari setidaknya pendapatnya tentang kondisiku.


Aku menarik nafas Dan mencoba mengira - ngira bagaimana Maria ketika menghadapi sosok yang tak terduga di hadapannya.


"Kita langsung ke ruanganku saja" Aku segera membalikkan badan Dan berjalan cepat menuju ruanganku, pastinya Dion juga mengekor Di belakang ku.


"Tolong bawakan data penjualan bulan inj ke meja saya, Sekarang" pintaku Pada Dion yang sudah aku tebak pasti berencana kabur dari situasi Dan ingin aku me ngatasi Melissa sendiri. Sorry.. Bro....


"I.. Iya pak" jawab Dion agak terbata sambil menginjak kakiku dengan keras.


Aku hanya sanggup memasang senyum Lebar menggantikan ringisan yang menahan rasa sakit.


"Silahkan duduk Mel..."


Melissa memang hanya seorang wanita, apa yang aku khawatir kan? Benar.... Tapi kalau dia bukan putri kesayangan konglomerat yang sekaligus politisi. Aku tidak perlu berfikir untuk menghadapinya. Tinggal bilang "Maaf saya sibuk" kelar cerita.


"Mau minum apa?" tawarku basa - basi "Ah sorry.. Kantor belum buka, aku rasa pantri Dan kantin belum mulai beroperasi"


"Tidak masalah aku langsung ke intinya saja".


"Oh... Sebentar" Aku memencet tombol saluran ke meja Dion yang sengaja tidak turut masuk tadi. "Langsung masuk saja!" perintahku, mungkin Dion tidak banyak berfungsi untuk menghadapi Melissa, tapi paling tidak aku ada saksi,


"Maaf" Aku mencoba memgambil jeda "Aku harus memeriksanya sebelum meeting pagi"


"Kamu mulai serius menjalani hidup kamu" Melissa berkomentar dengan nada mengejek.


" Aku selalu serius Mel.." Aku coba menekankan kalimat ku, berharap aku bisa memberi impression seperti Maria ketika berbicara.


Melissa tertawa Sejenak hingga dia kemudian terdiam


"Kenapa kamu tidak mau menikah denganku?"


Tok Tok.. Aha.... Dion datang tepat waktu.


"Langsung masuk saja Yon" Pekikku " Sorry....!"


Melissa menahan emosinya dengan senyum manis, "It's OK!" Ucapnya lirih tertahan.


"Selamat Pagi.."


Hah... Maria... Bukan jadwal dia untuk meninjau kantorku.


"Ah ada tamu rupanya.... Halo Mel..! Lama tak bertemu" lanjutnya dengan santai.


"Apa kabar tante..." Melissa menekankan kata tante terlalu tajam.


"Seperti kamu lihat, aku baik" Jawab Maria sederhana tapi membuatku jadi Deg - degan. Kira - kira apa yang akan terjadi.