
"Kalian punya rahasia bersama tanpa aku? "
"Jangan salah faham, kamu pasti aku kasih tahu. Kalau memang udah cocok" Aku coba menengahi pernyataan Alberto yang aku tidak harapkan.
"Apakah kalian punya hubungan lain selain partner kerja?"
"Aaah..."
"Ada" Aku melanjutkan ucapan Alberto yang belum usai.
Alberto membuatkanku kostum untuk Maria. Aku rasa Alberto orang yang tepat, karena dia sudah memiliki ukuran Maria dan sejauh ini aku selalu suka hasilnya..
"Tolong berikan padaku, supaya Nyonya besar nggak sewot" Aku memcebik sesaat sambil membalas tatapan Maria yang sedang tidak begitu ramah.
"I support you this time, aku sudah move on.. Kamu dan Anthony sudah memiliki hidup masing - masing. Meski sebagai teman kalian hal itu tidak mudah untukku"
Aku melempar cushion pada Alberto yang aku anggap terlalu banyak bicara. Terutama mengungkit soal Anthony.
"Tapi pekerjaanmu untukku ini rahasia, awas kalau sampai kamu bocorin ke soul mate kamu si Anthony itu"
Alberto memutar maniknya yang berbingkai bulu mata lentik. "Of course, I am professional"
Aku segera meraih sebuah paper bag dari tangan Alberto, yang serasa sedang di awasi oleh sepasang elang pemangsa. Aku memberanikan diri membalas sepasang mata Maria dan mendengus "Aku sudah bayar" balasku pada Maria yang nampak masih berprasangka.
"No....refund, just service" lanjut Alberto membelaku.
"Aku tidak percaya, anjing dan kucing bisa berbagi seperti kalian"
"Mungkin sesekali kamu Bisa menonton national geographic Mar! It was happen. Hidup nggak selalu hanya urusan finance dan bisnis"
"Absolutely" Alberto menimpaliku sekali lagi, sebelum dia mengeluarkan gaun yang akan di pakai untuk Maria di peluncuran nanti.
Kali ini Alberto memberikan warna putih Pada design gaunnya.. Tubuh Maria yang berubah. Tentu menjadi menjadi tantangan tersendiri baginya. Tapi bukan designer handal kalau tidak bisa membuat Maria tampil mempesona.
Kali ini Gaun Alberto memilih design Halter, Maria tidak akan menyusui sepanjang event itu. Yang pasti dia akan menggunakan stok asinya untuk Yodha. Meski hanya dengan detail ruffle yang di sematkan secara spiral dari atas hingga bawah. Hal itu berhasil membuat tubuh Maria yang berisi, justru tidak nampak. Seolah perubahan itu tidak pernah ada.
"Kamu tidak sedang membuat istri ku, menggaet suami baru kan?"
" Aku membatumu keluar dari nilai matrealistik yang nampak jelas di matamu, menikahi wanita cantik itu wajar, tapi menikahi wanita kaya itu yang tidak wajar"
"Jadi bagus nggak" Maria melerai kami yang sedang berdebat memandanginya.
"Tunggu belum selesai" Alberto mengeluarkan sebuah ikat pinggang silver berbahan stainless dengan beberapa sentuhan crystals." Ini baru selesai" Senyumnya begitu lebar dan nampak sangat puas dengan hasilnya.
Aku hanya manggut - manggut setuju, karena memang kenyataannya Maria sangat cocok dengan gaun di tubuhnya saat ini.
"Oh iya.. Katanya kamu mau check pesananmu itu" Maria menunjuk paper bag yang sedang aku peluk sejak tadi.
Aku dan Alberto serempak saling memandang. "Alberto punya garansi satu minggu, aku bisa cek nanti saja"
Alberto otomatis mengikutiku menganggukkan kepalanya.
"Baiklah terserah kalian, selama itu tidak menimbulkan kekacauan yang harus aku bereskan"
Aku dan Alberto masih kompak, kami sama - sama. Mengatupkan sepasang bibir kami rapat - rapat.
"Aku akan melihat jadwal dulu siapa tahu bisa aku periksa malam ini"
"Semoga lancar" Alberto mendukungku sambil mengacungkan jempolnya.
"Kalian sungguh menggelitik rasa penasaranku.
Kami hanya tertawa bersama dan segera meneguk mixtea buatan Maria yang sudah aku sajikan sejak tadi.
*******
" Ini apa Har? " Rupanya maria sudah membongkar paper bag untukku dari Alberto usai dia memberikan Asi pada Yodha.
" Seperti yang kamu lihat " Aku tidak bisa menjawab dengan lebih.
" Bentuknya aneh "
" Ini nggak mungkin buat kamu kan? "
" Ini pertanyaan atau kamu lagi cemburu Mar? "
" Habis aneh, siapa yang bakal pake baju kayak gini"
Aku menghadapkan tubuhku 100% tegak di depan Maria, tanpa segan aku mulai berkacak pinggang dan menatapnya dalam - dalam.
"Jelas ini bukan ukuranku, yang tersisa hanya kamu"
"Oh No.... Non sense"
Aku menangkap tubuh Maria yang hendak beranjak.
"Ada memory yang harus di perbaiki tapi bukan sailor moon aku mau nyoba yang agak garang"
"Hah... Ada berapa banyak makhluk semacam itu di dalam otakmu?"
"Berdasarkan isi paperbag itu ada tiga, mungkin bisa berkembang setelah melihat hasilnya nanti" Aku menarik tubuh Maria lagi, untuk duduk dan mengeluarkan isi di dalam paperbag itu.
"Itu namanya Rei.. Lengkap dengan sarung tangan merahnya, serta Obi" jelasku pada kostum yang di tarik pertama oleh Maria.
"Tapi apakah kostumnya belum selesai? Aku tidak melihat ada kancingnya"
"Ini sejenis off shoulder kimono"
Maria mendengus dan menggeleng, jemarinya kembali menarik sekali lagi.
"Itu Mitsuri" Aku tersenyum dan mencolek dagunya "Mungkin saja kamu akan bersikap manis seperti karakter animenya?"
"Jangan harap"
"Bagus! yang terahir adalah Shinobi" kali ini aku yang mengeluarkan isi paperbagnya "Garang dan tegas, dalam karakternya dia membawa pedang"
Maria hanya memijit pelipisnya "Dan yang di paper bag satunya?"
"Itu sesshomaru dari serial inuyasha, itu untukku"
Sepasang manik Maria langsung membola.
"Aku tidak menyangka tipe cowok idamanmu adalah pria beruban itu ckckck"
Aku juga baru mengetahuinya dari Tania. Bahwa poster Sesshomaru di kamarnya dulu adalah milik ibunya.
Maria mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku tidak menyukai kagura, atau kagome, atau kyoko mungkin Rin. Mereka kurang mewakilimu."
"Kamu bekerja seharian, dan masih punya waktu memikirkan ini?"
"Of Course! Aku lelaki yang muda dan sehat, I work hard and I play hard" Maria tidak memberiku pilihan, aku tidak berniat melakukannya secepat ini " Kalau sesuai kalender harusnya sudah selesai bukan Mar?"
"Oh God..! Kamu menghitungnya?" suara Maria memekik tertahan.
"Dari dulu aku suka menghitung, apalagi soal hakku"
"Masih ada Yulia"
"Ya Mulut kamu aja yang di tahan, bukankah kamu yang lebih berisik dari pada aku?"
Maria menginjak keras kakiku, "Eits nggak bisa kabur" Aku menarik leher daster Maria."karena kamu sudah garang, kita pakai kostum yang Rein"
"Tapi ini nggak ada kancingnya?"
Aku tidak memperdulikan keluhannya.. "Jangan lupa pakai sarung Tangan merahnya, aku mau double service" Aku mendorong tubuh Maria ke area closet. "Anggap saja ini bonus dari kamu untukku, karena telah mengurus perusahaan selama kamu cuti. I need booster, didn't I? " Aku memanggut Maria dengan lembut."Agree?"
Meski kurang yakin, ahirnya Maria mengangguk and it's happen!