Sugar Mamy

Sugar Mamy
Lamaran terahir


" Well.. Not bad.. Tapi... The underwear is full of my choice " Aku mengajukan syaratku.


Maria menyandarkan kepalanya Pada lenganku.


"Aku rasa kamu Bisa mulai berhenti menghitung hargamu" Desisnya.


"Ha...? Maksudmu...? We are stop?"


"Benar" Maria menjawab tanpa beban.


Sedangkan aku seakan mati rasa seketika.


"Kamu tidak bercanda?"


"Aku tidak pernah bercanda"


Maria mengeluarkan sesuatu dari saku Celana jogernya.


"Aku berencana memulainya dengan Sungguhan" Maria membuka Sebuah box kecil berwarna turquoise Dan mengeluarkan Sebuah kotak beludru berwarna hitam pekat."Maukah kamu bekerja sama denganku?"


Maria membuka kotak itu perlahan. Sekilas jemarinya bergetar. Namun, konsentrasiku tertuju Pada srpasang cincin Berlian yang bersinar indah Di bawah sinar lampu walking closet kami.


Maria... Kamu keterlaluan "Kamu selalu mengambil tugas pria, bukankah ini sedikit keterlaluan?"


"hmmm...." Maria menutup kembali kotaknya "Aku tidak begitu suka menunggu lebih lama" gumam Maria. "Dan aku tidak pernah masalah ketika Di tolak, aku bisa mengerti"


Aku tertawa dalam hati dan menghembuskan nafas ke udara lepas "Huh....!!" Aku menjadi sedikit merasa gugup.


Maria memutar kotak itu sesaat sebelum dia berencana memasukkannya kembali ke tempat semula.


"Eits... Tidak mudah mememesan design khusus dari Tiffany & Co.." Aku meraih kotak itu Dan memeriksa isinya " Apakah ini hanya special design untuk kita?"


Maria mengunci mulutnya Rapat - Rapat, dan hanya menatap sepasang cincin yang cukup menawan.


"Bukankah hal seperti ini sulit di tolak?"


"Design mereka selalu bagus, sepasang cincin ini nampak cukup menawan" Suara Maria cukup tenang meski tersirat sedikit emosi " pasti laku mahal ketika aku menjualnya nanti "Lanjutnya yang sedikit menggelitik hatiku


" Aku sedang bicara tentang Maksudmu "


" Ah... Ya... Ya.. Tidak harus Di jawab" Maria memalingkan wajahnya dariku. "Aku bisa mengerti"


"Asalkan aku yang mengatur soal malam - malam berikutnya?" suasanapun menjadi henning "Ada sekitar sepuluh kostum yang ingin aku coba" Aku lebih detail.


"Bukankah itu sedikit seperti exploitasi?" Ahirnya Maria menanggapi.


"Aku rasa itu setimpal dengan perampasan tugas lelaki yang baru saja kamu lakukan" Aku mengamati Maria yang mulai merasa sedikit canngung.


" lagi pula... Tidak ada salahnya kalau aku ingin mengajarkan bagaimana macam - macam gaya dalam masa - masa productive mempelai wanita" Aku meraih cincin untuk mempelai wanita Dan mengulurkannya Pada Maria.


"Apakah kamu akan menggunakan kostum sessomaru"


"Kamu Sungguh sangat menyukai karakter beruban itu?"


" Setidaknya aku ingin mencobanya sekali"


"OK... DEAL!!" Aku menyodorkan lebih dekat lagi cincin itu.


Maria menatapku sesaat sebelum perlahan mulai memasukkan jemari manisnya Pada cincin Di Tanganku.


Aku tertawa kecil melihat dua cincin Kini bersemayam Di Jari manisnya.


Tanpa ragu aku meraih cincin pria Dan meletakkannya Di jemari yang sama.


"Jangan beremansipasi untuk biayanya, aku bayar sepasang cincin ini dengan semua sisa pembayaranmu padaku" gumamku.


"Bukankah itu terlalu banyak?"


"Tidak banyak kalau kita memulai Sesi pemanasan malam ini" Aku meraih paperbag Di sudut ruangan.


Maria mulai mengintip Dan mengeluarkan isinya "Seragam SMA??"


Aku tersenyum tipis. "Aku selalu penasaran wanita seperti apa kamu saat sma"


" Aku tidak ingin membuang banyak waktu dengan mengangkat rok yang sedikit lebih panjang" Aku menegaskan bahwa ukurannya sesuai dengan tujuan utamaku.


"Kemejaku setidaknya memiliki tiga kancing Di bagian atas" Protes Maria dengan kemeja putih Di tangannya.


" Bukankah kamu harus belajar bagaimana mengolah yang di balik kemeja bukan kancing nya ?" aku segera menangkap sepasang bibirnya yang bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu "Aku menunggumu Di ranjang"


*****' *****


Dion menelan salivanya dengan cepat serta menepuk pipinya sedikit keras. "Ini tidak setimpal" batinnya.


Balutan wrap dress berwarna ivory membalut tubuh berlekuk esthetic Elena yang Kini berdiri Di balik pintu penthousenya.


"Ahirnya kamu datang juga" Elena menarik nafas dalam Dan menghebuskannya dengan ritme yang sama. Menimbulkan pergerakan pelan bagian dadanya yang hanya terbungkus sebagian.


"Aku tidak lama" Dion segera menerobos masuk Dan mengambil duduk Di sofa ruang tamu. "Ini...."


Dion mengeluarkan beberapa kunci dari dalam saku tas ranselnya. Dan mengeluarkan beberapa kartu dari dompetnya.


"Aku menyadari bahwa cintaku itu tidak bisa di nilai bukan tidak bernilai" dengan sedikit bergetar kalimat itu mulai muncul dengan sedikit terbata.


Sebuah map kemudian Di keluarkan dari dalam tas ranselnya.


"Aku sudah menandatanganinya" Dion mengangguk sendiri dengan mata tertutup. Berusaha menghindar godaan yang mungkin Bisa menganggu keputusannya yang sudah bulat.


"Keegoisanmu mulai muncul, sifat aslimu tidak bisa kamu sembunyikan lagi" Elena menghembus nafas kasar Dan meraih map itu. "Kamu tidak memikirkan kuliah adikmu"


"Aku akan mengurusnya sendiri"


"Bagaimana pinalty yang harus kamu bayar"


"Aku akan memenuhinya juga" Dion yakin janji Harry untuk membantunya adalah serius. Posisi Direktur utama Di Bio chemical juga akan memiliki gaji yang cukup baik untuk Bisa mengembalikannya dalam kurun waktu yang relative tidak lama.


"Kamu akan menumpang terus Pada Harry?" Elena mengamati tanda Tangan Dion yang nampak masih segar.


" Aku aku tidak menumpang, aku bekerja dengan tenaga Dan ke ahlianku. Aku punya nilai yang layak Dan Di lindungi oleh undang undang tenaga kerja" terdengar konyol, tapi itu benar. Setidaknya keamanan hak sebagai karyawan lebih Bisa di perjuangkan dari Pada keamanan sebagai peliharaan Elena.


Maria menghitung kartu Dan kunci yang tercecer Di meja.


"Urusanmu dengan bu Maria, tidak perlu kamu Khawatirkan. Dia tidak akan melanjutkannya ke ranah yang lebih serius" Dion menjelaskan juga hal penting yang di resahkan Elena."Hanya....."


Elena menghentikan jemarinya yang mulai memunguti kunci Dan kartu Di meja.


"Kamu tidak bisa mendapatkan visa investor dalam waktu yang lama" Dion melanjutkan ucapannya yang menggantung.


"Kalau aku menolak pengunduran dirimu ini?" Elena mulai kecewa dengan kenyataan yang hadir di hadapannya saat ini.


Dion dengan pelan mendorong beberapa lembar foto ke arah Elena.


"Kamu masih mencintainya?" Tanya Dion lirih "Aku menhargainya sebagai cinta, dan aku tidak berharap harus menggunakannya sebagai alat bukti.


Lembaran foto itu sangat jelas bahwa wanita itu adalah Elena Dan mantan suaminya. Sedang menikmati has rat mereka dengan penuh semangat Di dalam mobil mewah.


"Kamu menguntitku?"


Dion Sungguh kecewa bahwa Elena tidak terlihat bersalah.


"Lain kali plihlah lokasi yang aku tidak tahu" Suara Dion sedikit Berat. "kalau hanya di area parkir lantai ini, itu bukan hal yang tidak menutup kemungkinan aku melihatnya. Meski kamu pemilik seluruh lsntai ini"


Elena tertawa kering "Kamu sudah bertekad pergi, aku akan mengalah"


Dion mengangguk Dan segera menegakkan tubuhnya.


"Apakah kamu menyesal pernah bersamaku?"


Dion menggeleng ketika mereka sudah di ambang pintu. "Aku rasa harganya sudah sesuai, hanya saja tujuanku sudah berubah. Aku ingin menyisakan harga diriku"


"Selamat memunguti harga dirimu"


Dion tertawa kecil "Aku harus bergegas mengingat kelingannya cukup banyak, jaga dirimu baik - baik" Dion memutar langkahnya Dan terus menjauh memandangi Elena yang memendam gengsi mengakui perasaan kehilangannya.


*****