Sugar Mamy

Sugar Mamy
Konsekuensi


"Gotcha..!!!"


Dion merenggangkat badannya, ada kepuasan Dan ketakutan yang tumbuh bersama Di benaknya saat ini.


Apakah dia dan Elena baik - baik saja setelah kejadian ini? Atau dia malah kehilangan wanita itu beserta kesempatan mengejarnya. Dion menepuk jidatnya berkali - kali, dan menyumpahi sendiri dirinya.


Dion mulai berfikir pengecut,


Kalau aku kembali memakaikan bajunya Dan Pura - Pura tidak terjadi apa. Apakah mungkin? Tapi kalau saja ketahuan sebelum dia pergi itu pasti buruk. Kalau aku tinggal mungkin semua akan berbeda.


Dion menyapukan pandangannya Pada Elena yang terdampar letih Di sebelahnya. Menjadi orang yang di benci Elena sebagai pengecut atau Di benci Elena sebagai pria yang mengakui perbuat a nya? Begitu lah pilihan yang di buat Dion dalam benaknya.


Dion beringsut kembali merebahkan badannya, sesekali mencium wajah cantik makhluk pujaannya itu. Dan ahirnya diapun turut terlelap. Yup!! Pilihan kedua adalah keputusannya.


Sesosok cantik berbalut kimono hitam berdiri tepat Di depannya ketika matanya perlahan terbuka dari kantuknya.


"Sudah bangun?" suara merdu Elena menyapanya dengan Tanya yang datar.


Dion memijit matanya Dan mengambil posisi duduk, dia bingung harus bersikap apa? Apakah Pura - Pura mabuk juga?


"Aku tidak ingat jelas apa yang terjadi semalam" Wajah cantik Elena sepertinya tidak sedang dalam mood yang buruk.


Elena beranjak menuju meja Rias ya Dan mengeluarkan Sebuah amplop tebal berwarna coklat dari lacinya.


"Ini...." Elena menyodorkannya kepada Dion.


"Apa??"Dion makin bingung.


" Bayaran kamu semalam "jawab Elena ringan." Karena semua telah terjadi, aku tidak mau jadi yang murahan "Elena mengangkat kedua alisnya sambil mendorong amplop itu lebih dekat.


Dion meraih amplop itu meski sepertinya enggan. Kalau bukan Elena yang murahan maka dirinyalah yang harus jadi yang murahan. Namun apakah pantas menukar harga dirinya dengan posisi yang lebih dekat dengan Elena.


"Kalau begitu.... Aku ingin mengkatogorikan kamu sebagai Vip apakah itu adil?" Dion coba bernegoisasi sedikit meski dia tidak tahu Jumlah yang diterimanya.


Elena hanya berbalik Dan tak menghiraukan nya. Dion menepuk jidatnya sendiri, merasa omongannya mungkin agak keterlaluan. Bagaimanapun kalau saja semalam dia tetap mengabaikan Elena dia pasti masih Bisa berteman tanpa ada hal canggung semacam ini dan kesempatan mendapatkan hatinya masih terbuka.


"Bisa kah kamu berprilaku sebagai orang Vip agar kita nampak tidak berjarak secara kelas?" Elena tiba - tiba muncul dengan gain elegant yang membalut indah tubuhnya diniringi dengan sepasang anting Berlian melambai indah dari kedua sisi Telinganya. "Aku tidak suka bau murahan"


Dion hanya termenung masih dalam kondisi bingung.


"Buruan!!!"


Dion segera berlari menuju kamar mandi Dan bersiap menemani Elena.


******


Dion mengikuti Elena yang berjalan dengan Anggun Di jajaran official store brand ternama. Beberapa kali mereka memasuki Sesi pria Dan mulai memilih fashion style pria sesuai selera Elena.


"Kartu Gym, sport club Dan Black card" Elena mengeluarkan satu per satu kartu dari dalam dompetnya "Oh iya... Member Club"


"Aku akan memesan masking - Masing2 atas namamu, tapi itu butuh waktu. Jadi sementara kamu memakai milikku terlebih dahulu"


Glek...


"I want the best of you for me... Dan please ganti life style murahanmu dengan yang sepadan denganku"


"Elena... Apa ini caramu marah?" Ahirnya Dion bersuara "Itu semua... Soal semalam... Itu.."


"Stop...!!" Elena memotong ucapan Dion tanpa kompromi "Kamu punya kesempatan untuk berada Di sisiku Dan sepadan denganku termasuk naik ke tempat tidur ku Bisa kah kamu menyisakan harga diriku dengan menukarnya harga dirimu?"


Dion mengigit kedua bibirnya keras - keras.


"Aku mau kamu tetap atletis, lakukan diet yang bagus. Dan asal kamu tahu aku lebih berstamina ketika aku sedang tidak mabuk. Maka kamu harus melakukan Persiapan dengan baik"


"OK... Sorry.. If you feel unpleasant before, aku..."


"Mulai sekarang, aku anggap kamu adalah peliharaanku, jangan banyak berpendapat and just do what I want"


Dion kembali terdiam Dan tertunduk menerima.


"Kamu Bisa kembali ke kehidupanmu setelah ini, tapi jam 8 malam aku mau kamu datang ke Apartmentku, kita atur peraturannya Dan berikan aku presentasi ke ahlianmu semalam untuk aku nilai apakah ada yang perlu aku koreksi"


Dion menarik nafas dalam - Dalam, matanya menyapukan pandang Pada perempuan cantik nan elegant Di depannya. Di beranikannya menatap sepasang bola mata indah berwarna Abu terang.


"Kamu serius soal ini.... Aku... Tidak ingin kamu menyesal"


"Kita lihat nanti malam... Dan pastikan kamu cukup Persiapan" Elena berdiri Dan meninggalkan Dion sendiri dengan semua belanjaan mereka. Memang tak satu pun Di dalam paper bag itu milik Elena.


Memang Sejenak terdengar menyenangkan mendapatkan semua Fasilitas ini, tapi bagi Dion rasa bersalahnya Dan kehilangan harga dirinya membuat semuanya terasa tidak seindah seharusnya.


Bagaimana mungkin Elena berfikir dia Bisa kembali ke kehidupan sebelumnya dengan situasi seperti ini. Terutama ketika Elena Dan sisi lainnya terus menghantui pikiran Dion. Dion menepuk - nepuk pipinya.


" Ini kesempatan bagus atau buruk?" gumamnya sendiri "Tapi saat ini cuma ini cara agar tetap bersama Elena..." Dion tak menyangka dia menjadi sebingung inj, bahkan lebih mudah buatnya mengikhlaskan Elena menikah dengan pria pilihannya Di masa lalu.


****


Dion mengetuk - ngetukkan jemarinya Di atas permukaan cermin, dia sedang kebingungan bagaimana bergaya dengan kelas seperti yang Elena mau. Meski dia sudah mengeluarkan seluruh isi belanja a nya bersama Elena siang ini. Namun, kalau terlalu mencolok tentu Akan justru nampak kampungan.


Dion belum terbiasa menjual dirinya dengan cara ini. Apakah ini awalnya? Dion mendengus kesal akan keputusannya sendiri. Tapi Pada ahirnya Elena adalah nilai yang pantas Di dapatkannya dari harga dirinya.


Lelaki normal manapun, pasti rela tidur dengannya saat itu, apalagi dirinya yang sudah memendam rasa bertahun - tahun, Dan sedikit harapan Dion untuk Bisa memiliki wanita impiannya itu, meski wanita itu tidak se muda usianya.


Khaki tone ahirnya menjadi pilihan Dion malam ini, setelah beberapa saat dia mencari inspirasi dari Internet. Meski pertemuannya nanti sejenis dengan transaksi, tapi suasana hangat Dan memikat tetap harus Di bangun. Bukankah Elena juga mengatakan dia ingin mencoba keahliannya semalam sekali lagi?


Apabila itu hanya alasan untuk menyingkirkannya dari hidup Elena, paling tidak dia Bisa mendapatkan Redaksi jujur Elena meski untuk terahir kalinya.