Sugar Mamy

Sugar Mamy
Diskusi


"Tania lebih baik bermain bersama Manda seperti biasa, dia Bisa merusak konsentrasi diskusi kita" Anthony rupanya tidak suka dengan permintaan Maria.


"Renata pasti sudah lama tidak bertemu dengan Elena" Aku menyela percakapan Anthony.


seperti biasa, Anthony coba memancing emosi Maria saja. Menjadi mediator ternyata juga hal yang harus aku pelajari ketika memiliki keluarga parallel seperti ini. "Elena berencana melangsungkan pernikahannya Di sini, dia meminta saran padamu Re.."


Aku mendengus Dan melirik Dion yang cukup membatu dengan sepasang bibir yang mengatur. Di antara kami semua, Hanya Dion yang orang biasa. Dion tak lebih dari karyawan Maria. Tentu bukan hal yang mudah berada Di antara kami dalam situasi ini.


" Dion adalah calon pamanku, Aku hampir tak percaya memiliki teman baik seorang penakluk" Aku menepuk pundak Dion dan melempar senyum ramah.


"Kenapa tidak Tanya Maria saja, kami sama - sama menggunakan jasa Alberto"


AH...!!! Kenapa aku tidak tahu? Pasti Maria hanya tidak ingin bergossip seperti biasa.


"Pernikahan kami berbeda, kami hanya mengikuti Alberto Dan mengambil semua yang tersedia"


Anthony tertawa berderai "Aku tidak menyangka Maria setidak sabar itu menikahimu"


Sial, Anthony memiliki Bahan lagi mengolok Maria. Aku hanya ikut tertawa tanpa tahu harus bilang apa, yang aku tahu aku tidak Bisa diam yang berarti bahwa itu adalah ejekan.


"Tidak ada yang salah menginginkan laki - laki yang hatinya sudah pasti menjadi milikku, aku tidak suka buang - buang waktu Dan kesempatan" Maria menimpali deny an senyum tipis khasnya "Elena pasti setuju denganku, mengingat aku tidak pernah melihat mereka berdua Di sekitar ku meski Dion sudah lama bekerja Di perusahaanku"


Elena mengangkat sebelah alisnya "I see..... And I am agree with Maria" mata Elena mengekor ke arah Maria yang masih duduk dengan posisi yang sama tanpa berubah meski beberapa kalimat telah mengurai dari bibirnya.


"Mamiiiiii....." terdengar Langkah Tania yang menghambur mendekat ke ruangan kami Dan sesaat kemudian dia sudah bersarang Di pelukan Maria.


"Maaf pak..!" mbak Manda kemudian hadir seraya membungkuk pelan ke arah Anthony.


Sepasang bibir Anthony hanya berdecih Sejenak dengan expresi sedikit kecewa. Aku tidak mengerti hingga saat ini Kenapa Anthony berusaha memonopoli Tania dari Maria.


Kemampuan bicara Tania meningkat cukup pesat. Dengan cepat dia bercerita macam - macam kepada Maria. Suasanapun menjadi cair.


"Aku mulai tertarik Pada istrimu" Elena berujar pelan ketika menghampiri Tania, untuk sekedar menngelus rambutnya.


"Tidak perlu, aku tidak ingin dia bergaul denganmu"


"Hey... Aku tidak lah buruk"


"perasaanku tidak begitu bagus dengan tawaranmu"


Elena tertawa kecil, "Keponakanku rupanya mulai dewasa sudah mulai Bisa memilah, tapi....." Elena mengalihkan pandangannya ke arah Renata, yang masih tak begitu vocal "Kenapa anak Maria ada Di sini?"


"Dia menikahi mantan istri suamiku" jawab Renata singkat Dan datar sebelum dia meneguk wine Di tangannya.


Elena memandangku kembali "Dia yang menikahi mantan suami istri ku, aku menikah lebih dulu"


Elena tertawa kecil, "Rupanya banyak yang aku lewat kan"


"Salah sendiri kamu lebih suka bermain dengan teman keponakanmu dari mengunjungi keponakanmu ini" keluhku jelas.


"Kenapa aku yang salah, bukankah kakekmu yang memintaku tidak sering dekat dengan kalian.... Alasan soal media cih!"


"Apapun kondisinya, bukankah yang terpenting kita semua berkumpul saat ini?" Anthony berusaha menengahi kami.


Tentu saja bermuka manis Di depan pemilik 5% saham Tower High pasti menguntungkan. Setidaknya dia nengantongi sedikit suara untuk kedudukannya.


Renata beranjak untuk mengambil beberapa hal yg ingin Ditunjukkan ke Elena. Di selang waktu aku mebyempatkan diri mengamati Anthony yang menatap kurang nyaman ke arah Maria.


"Apakah kamu sudah menjenguk ayahmu?" Elena memecah konsentrasi ku.


"Dia menolak menemuiku"


"itu tidak benar, aku sangat sibuk bekerja saat - saat itu" Aku sudah cukup lihai berbohong saat ini. "kamu Tanya saja Pada Dion seberapa sering aku lembur"


"Benar! Saat - saat itu kami sedang memiliki banyak urusan," Ahirnya suara Dion mulai terdengar.


Elena melempar maniknya Pada Anthony Sebuah pertanyaan tertangkap jelas.


"Om.. Baik - baik saja, kami cukup konsentrasi Pada perusahaan yang cukup berdampak, seperti yang kamu tahu harga saham kita cukup turun secara signifikan"


"Itu Sungguh mengesalkan, kekayaan ku berkurang dalam waktu singkat" Elena tekekeh ringan "Pastikan kamu membuatnya kembali ke harga stabil meski tidak setinggi ketika Harry menikah dengan Maria"


Ternyata Elena tidak melewatkan banyak hal, dia cukup memperhatikan detail yang terjadi Di Tower High.


"Apakah kamu tertarik untuk posisi Di Tower High?" tanyaku menebak asal.


"Setidaknya tidak dalam waktu dekat, untuk jangka panjang aku masih belum memutuskan"


Aku mengalihkan sepasang manikku Pada Dion.


Dion menggeleng cepat "Aku tidak ikut campur dalam urusan keluarga kalian, aku cukup puas dengan kehidupan ku saat ini" sepasang Bahunya mengangkat otomatis "Aku hanya menambah kan wanita yang kucintai secara official tanpa ada permintaan atau has rat lebih"


Rupanya Dion membaca raut wajahku dengan jelas, bahwa aku tidak menginginkannya berada Di Tower High bahkan Sebenarnya aku tidak mau dia ada Di sekitar keluargaku terutama dengan posisi seperti sekarang, sebagai calon pamanku.


"Dion tidak tahu, aku tantemu..."


"Ini beberapa hal yang mungkin Akan menarik untuk kamu lihat" Renata muncul dengan setumpuk album. Tanpa ragu dia menyodorkannya ke pangkuan Elena.


"Aku tidak mengenal Alberto secara pribadi, dia sahabat suamiku tapi karakter designnya cukup menarik"


"Kamu sangat cantik hari itu" Pujiku yang memang tidak salah.


"Apakah dia Bisa membuatku lebih cantik darimu saat pernikahanku nanti?"


"Tentu saja!!" Renata nampak bersemangat "Kamu pasti lebih cantik, aku selalu mengagumi Kecantikanmu, bagaimana mungkin kamu nampak hampir seumuran dengan kami... Kamu harus membagi rahasianya denganku"


"Itu mudah.... Jangan banyak bekerja Dan nikmati saja hidupmu, seperti ku"


Ahirnya ada tawa berderai Di antara kami.


Diskusi pun mulai menjadi panjang, Di antara para perempuan. Bahkan Maria juga mulai menimpali. Nama Alberto mulai Di sebut beberapa kali.


Aku, Dion Dan Anthony hanya Bisa diam Dan sesekali tersenyum mendengar riuh Di antara mereka. Karena jelas saat ini masing - masing dari kami sedang tidak dalam hubungan yang baik - baik saja. Aku dan Anthony jelas tidak mungkin akrab, dan Dion masih nampak canggung Dan kebingungan menangani rasa kesalku padanya..


Waktu berjalan cukup cepat, seperti yang aku janjikan. Malam ini Maria berhasil menemani Tania hingga ke ranjangnya. Satu Dan dua cerita Di lantynkannya penuh semangat untuk mengantarkan lelap Pada sang buah hatinya.


Aku yakin, suatu saat kami Bisa membawa Tania kembali kepelukan kami.


"