Sugar Mamy

Sugar Mamy
Kehamilan


Maria menghembuskan nafas perlahan.


"Sorry... Tapi aku Kenapa? Apa dokter sudah menjelaskan?" Maria menatapku satu dengan wajah pucatnya yang tetap tersenyum.


"Kita Akan jadi orang tua Mar... Kamu akan segera punya baby" Aku tidak bisa menahan senyumku yang cukup lebar.


Maria mulai menghela nafas panjang , kemudian dia menutup matanya dan mulai memunggungiku.


"Kamu nggak Happy?? "


Aku beralih duduk ke hadapan Maria.


"Happy...!! ..."


"Ini anakku kan?"


Maria langsung berdecih Dan berbalik membelakangiku lagi. Aku sekali lagi berputar Dan mengambil duduk Di depannya lagi. Sambil menggenggam tangannya


"Aku.. Klo hamil nyebelin"


"Ya.. Namanya hamil kan?"


"Ya... Tapi suaminya itu kamu.... "


"emang Kenapa?"


"Takut kamunya jenngkel"


"Huh... Nggak usah nunggu hamil aku udah jenngkel sama kamu tiap hari" Aku jadi curhat deh.


"Nah tuh kan...!!"


"Tapi.. Its OK.. I am Happy" Aku membuat senyum lebih lebar lagi. Berharap Maria percakapan kami Berahir sampai di sini.


"Oh iya... Aku tuh pinsan, karena sempat pendarahan aku pikir aku lagi menstruasi, dokternya udah bilang itu Kenapa?" Tanya Maria yang tiba - tiba punya energy cerewet.


"Cuma kebanyakan activitas, jadi kamu harus banyak istirahat" jawabku sedikit ragu - ragu.


"Kamu tidak berbakat menyembunyikan fakta, aku siap dengan kemungkinan terburuk"


Pepatah bilang, kalau istri akan selalu tahu ketika suami berbohong, sepertinya hal itu sedang terjadi padaku saat ini.


"Bayi sehat Dan kamu akan segera pulih.."


"Ok...?"


"kejadian ini... Karena activitas berlebih secara fisik" ucapku agak terbata "Jadi..."


Maria masih menatapku dengan cukup tajam, meski tubuhnya masih sangat lemah "Activitas tersebut harus Di liburkan selama tiga bulan" Ahirnya aku menyelesaikan juga semua kalimatnya.


Di luar yang ku sangka, Maria malah tersenyum Dan mengelus punggung Tanganku. "Thank you udah bilang semua" tatapannya berubah jadi teduh " kamu takut aku marah?"


Aku mengangguk otomatis.


" Aku juga menyukai activitasnya, jadi aku juga salah. Sisanya mari kita bertanggung jawab bersama untuk menjaga anak kita?"


Maria mengangkat kedua alisnya Dan tersenyum Sungguh manis saat ini.


"Beneran, kamu nggak marah?" Aku mencoba memastikan.


"Benar!" Maria menepuk - nepuk punggung Tanganku. "Kamu udah makan?"


Aku menggeleng..


"Pesen yuk... Aku pengen lihat kamu makan"


Pasti ini gara - gara bayi Di dalam sana. Yang membuat Maria ku yang dingin bak baja tiba - tiba menjadi hangat.


****


Pernikahanku dengan Maria sudah mulai tidak singkat, bahkan lebih dari yang aku perkirakan. Awalnya aku terlena dalam obsess menaklukkannya yang selalu setengah hati denganku bahkan meski kami sudah menjalani hubungan suami istri. Selalu ada tembok yang Di bangun olehnya yang sulit aku runtuhkan.


Sebenarnya kehamilan ini lebih Pada keegoisanku yang tidak ingin Maria menghilang dari hidupku apapun alasannya. Cinta adalah salah satunya, Namun kehadiran Maria, sudah merubahku dalam banyak hal, aku bisa lebih memahami apa yang aku ingin kan di masa depan. Bukan hanya sekedar melihat dari apa yang disiapkan oleh orang tuaku, tapi aku Kini lebih percaya diri Akan genggamanku sendiri. Bersama Maria tentunya.


"Kamu kalau hamil tambah cantik kok" Aku mengatakan fakta. Cantik menurutku bukan hanya secara fisik, tapi keseluruhan, Maria berubah jadi lebih kalem. Meski kata - katanya masih tidak Di filter. .


"Terimakasih.. "


Tuh kan... Kalau Maria yang dulu pasti langsung curiga, Kenapa aku memujinya. Padahal aku lebih sering jujur. Entah mengapa perlahan kayaknya agak ada yang kurang


"Kamu ada pengen sesuatu gitu Mar?"


"Hmm... Apa ya?" Maria berfikir Sejenak "Aku ingin semangka merah, tanpa biji" jawab Maria yakin.


"Tapi sekarang udah Malam... Cari Di mana ya?"


"nggak usah sekarang, besok aja"


"Yah... Office boy dong yang beli bukan Aku"


"Kita beli sebelum berangkat kerja"


"Kamu itu tidak ngidam Mar?"


"Enggak!!!"


"Ah nggak seru.. Nggak ada tantangannya" keluhku.


Maria ini nggak pernah ngidam, sering tidur udah pasti Dan jadinya lebih kalem. Hidupku terlalu nyaman hampir tidak ada tantangannya.


"Kamu ingin aku gimana?" Maria mengelus perutnya yang mulai terlihat sambil membenarkan duduknya Di ranjang Dan bersiap untuk membaca buku. "Kamu mau aku ngerepotin kamu?"


"Enggak juga sih, ciuman kayak ada yang kurang seperti Mulut tajam kamu itu jadi lebih jinak"


" anggap saja kamu sudah menaklukkan aku, jadi sudah jinak kan?"


Maria benar juga, entahlah... Aku jadi merasa aku yang terlalu ada maunya.


"Mar... Ini udah tiga bulan belum sih?"


"Belum... Kesepakatan pembayaran baru sekali bayar kan?"


Kerjaan teruuus yang ingat.. "aku bukan ngitungin urusan pajak, aku ngitungin urusan kita?"


"Aku punya janji apa sama kamu?"


Maria menutup bukunya Dan membenamkan dirinya Di balik selimut, perlahan diapun mulai menguap.


"Nggak ada, cuma aku pengen makan kamu" ucapku terus terang.


Maria hanya tersenyum Dan mulai merapikan rambutku. "Sabar ya... Semua ada waktunya"


Aku menahan Tangan Maria yang masih berada Di wajahku. "Kamu punya Tangan dan Mulut kan?"


" Iya.... Kenapa?"


"berarti masih Bisa dikerjakan" Aku tersenyum lebar penuh makna.


Maria membuatkan maniknya, "Are you serious?"


Maria lupa bahwa antara aku dan dia tidak pernah bercanda.


******


Namun.... Maria bukan wanita yang bisa kamu genggam. Dia adalah yang selalu melangkah dengan percaya diri tanpa takut kehilangan. Bahkan meski dia berlari kepelukanku tidak pernah ada jaminan bahwa dia akan takut kehilanganku.


"Kalau suatu saat aku pergi" bisikku Pada Maria saay kami hendak menutup mata.


"Aku berharap Dan mendoakan kamu pergi untuk yang lebih baik" jawabnya lirih Dan singkat. Dan Maria memilih terlelap dalam dekapanku yang sepertinya tak ingin aku lepas.


Maria - Maria hingga saat ini aku selalu ragu akan cintamu untukku.