Sugar Mamy

Sugar Mamy
Alasan


Aaah... Mungkin ini lah waktu peperangan antara Maria Dan Anthony selanjutnya. Aku meraih Maria untuk dalam Pelukanku, ada rasa iba yang sudah hadir. Meski maria belum sadar bahwa Anthony hanya beralasan.


Sudah seminggu lamanya masih ada aja wartawan yang mondar - mandir Di sekitar rumah Maria. Hampir setiap hari Maria sibuk mengamati.


"Ayah Melissa janji berapa lama?"


Maria hanya menunjukkan ketika jemarinya yang artinya tiga minggu. Ada rasa gatal ingin mengantakan buruk sangka ku, tapi Maria pasti menyangkalnya. Susah kalau wanita sudah berurusan Sam logika. Karena itu berarti perasaannya udah separoh mati. Seperti Maria ini, kalau tidak ada bukti authentic Dan saksi minimal dua orang. Dia bilang Hoaks.


"Pernikahan Renata masuk dalam tiga Minggu itu nggak?" aku coba memancing Insting Maria.


Maria hanya mengangguk tanpa bersuara. Sepasang matanya masih sulit lepas dari layar laptop yang sedang menampilkan cctv Di rumahnya.


Aku menghirup nafas dalam - dalam, berniat memberitahunya perihal dugaanku. Tapi...


Aku kembali menghembuskan nafas ku pelan - pelan. lebih baik ribut Di pengadilan saja, paling tidak teroganisir dengan baik. Dan yang jelas... Less drama.


"Kamu udah mikir mau pakai baju apa nanti?" tanyaku iseng.


"Aku mau Tania pakai baju putih... Tapi lebih ke cream dengan gradasi pelangi Di bagian bawahnya, aku sudah memesannya dari Alberto. Lusa jadi"


Ahirnya suara Maria keluar meski itu buka. Jawaban dari pertanyaanku.


"Nanti anterin aku ya.. Ke tempat Alberto.. Sekalian langsung ke rumah Anthony buat Di coba sama Tania..." Maria masih nyerocos "Jangan Lupa ajak Renata, aku lebih suka kalau ada Renata"


Aku juga... Renata bagai kan katalisator buat hubungan Maria Dan Anthony.


"Kamu tuh... Sama Anthony itu berantemnya karena apa sih Pada awalnya" rasa penasaranku mulai sulit untuk di cegah.


"Sama kayak sama kamu"


"urusan ranjang?"


"Salah satunya"


"Kamu sih suka nolak pas suami lagi pengen" Gerutuku.


"Mau tea.."


Maria pasti coba menghindar.


"Aku udah bikin Ice lemon tea, aku taruh Di lemari es"


"Ah.."


Maria membuka lemari es Dan mengeluarkan teko kaca yang aku maksud.


"Jadi kamu selalu nolak juga"


Maria menggeleng "Tentu Anthony yang menolak" Maria tertawa tanpa beban. "Tujuanku pertama untuk menikah adalah anak" segelas ice lemon tea Kini sudah berpindah di Tangan ku. "Tapi sayangnya ada yang mulai melupakan kesepakatan itu, hingga Berahir dengan mengambil donor"


"Tapi pendonor itu adalah Antonio?"


Maria mengangguk, hingga saat itu masih belum ada kesedihan berarti yang aku temui. Maria dengan ringan me ceritakan hal yang tak biasa inj padaku.


"Setiap aku meminta... Anthony pasti buat alasan agar kami bertengkar" Maria menarik nafas panjang "kadang - kadang ketika aku hanya berkata "ok" dia tetap marah yang terburuk kemarahannya tidak bersolusi "


Kali ini Maria mulai menunduk Dan memandang isi gelasnya." Dan ahirnya menjadi kebiasaan yang sulit Di hentikan meski Tania telah lahir "


Wajah Maria perlahan menengadah ke langit - langit." Tania tumbuh Di antara hubungan kami yang kacau, amarah yang tidak beralasan, orang tua yang tidak Saling menyentuh Dan tawa hanya untuk formalitas "


Aku hanya mencoba diam Dan menunggu,


" itu semua Di luar yang kami sepakati ketika menikah... Kami berjanji mengekalkan persahabatan kami dalam pernikahan. Memiliki tiga anak Dan Saling bercanda paling tidak lima menit sehari "


" Hanya itu? "


" Iya.. Hanya itu"


"Kamu tahu Kenapa dia menginkari janji itu?"


Aku menggeleng pasti.


"Rose..!!"


"Rose??"


"itu nama wanita yang tidak pernah pergi dari hidupnya" mata Maria memejam cukup lama "Ada beberapa pegawai ku bernama hampir sama bukan?"


"Dia yang memilih mereka hanya karena bernama mirip dengan Rose"


Sebuah senyum pahit Kini Di sajikan Maria "wanita cantik itu juga masuk dalam pernikahan kami sebagai teman, meski kami sama - sama tahu bahwa dia adalah mantan Anthony hanya karena....."


Aku mencondongkan badanku.


"Dia sudah menikah Dan punya anak"


Maria mendengus kesal.


"Tapi cinta ternyata tidak pernah terbatas, meski tidak pernah berpacaran lagi, tidak memiliki hubungan terlarang tapi cinta Di antara mereka cukup dominant"


"Maksudmu... Mereka selingkuh atau bagaimana?"


Maria menggeleng cepat "Lebih dari itu... Karena dia adalah pemilik hati Anthony Dan aku lah yang menganggu, dalam pikirkan Anthony hanya ada Rose, dan Rose selalu bercerita tentang kehidupannya Pada Anthony hingga bagian detailnya termasuk urusan ranjangnya dengan suaminya"


"Ha...!!" Aku sedikit agak terkejut.


"Anthony bersedia... Asal kami melakukan hal yang sama seperti Rose Dan pasti aku menolak"


Ya iyalah cewek seperti Maria punya harga diri.


Maria mengatupkan kedua bibirnya..


"Dan setiap hari aku selalu mendengar cerita tentang Rose" Maria menggeleng pelan sesaat


Aku meneguk ice lemon tea Di tanganku dengan cepat Dan mengambil duduk lebih dekat dengan Maria.


"Hati Anthony selalu miliknya seutuhnya, semua device, dari laptop, handphone Dan semuanya hanya berisi foto Rose. Dari yang musim dingin, musim gugur, musim semi Dan musim Panas Dan hingga foto Panas"


Maria tertawa kering.


"dan dia selalu menyangkal kalau dia masih mencintai Rose, padahal dia selalu menolak menghapus foto Rose yang dimilikinya hingga aku mengancam bercerai..."


Maria mulai terlihat Sedih


"Tapi memang aku yang bodoh percaya Pada persahabatan kami Dan berfikir aku akan memiliki keluarga yang tak pernah bercerai"


Sekali lagi Maria me nerawang ke langit - langit. "Aku tidak srbanding secara fisik dengan Rose"


"Kamu tidak jelek Mar!!" Aku Cuma mencoba menyangga perasaannya yang terlihat retak


"Mungkin untukmu tapi tdk untuk Anthony... Selama lima tahun pernikahan aku melihat bahwa Anthony hanya milik Rose. Tidak sedikit pun ruang untukku. Tidak ada sentuhan, pelukan atau ciuman mendarat untukku secara suka rela, aku harus membuatkan dia kopi baru aku bisa memeluk, atau aku tidak membuat marah seharian baru aku mendapatkan ciuman Di pipiku. Dan aku harus melakukannya untuk Tania . Semua hanya untuk Tania"


Maria menutup kedua wajahnya. " keluarga macam apa itu? Apakah aku se buruk itu?...


Entahlah!! Terkadang hanya karena tak rupawan aku tidak bisa mendapatkan apa yang menjadi hak ku ? "


Maria masih enggan membuka wajahnya...aku menarik tubuh Maria, memberikan pelukan erat.


" Tidak... Kamu berhak.. Lihat lah "


Maria membuka wajahnya dengan mata yang mengembun.


" Bukankah suamimu sekarang tampan Dan lebih keren dari si bodoh Anthony itu?"


Meski terkesan memuji diri, tapi aku sungguh tulus ingin menghibur.


"Iya... Tapi..."


Aku mengerutkan dahiku.


"Kamu kan aku beli.." lanjut Maria dengan nada polosnya.


Tok..!! .aku memukul dahi kecilnya.


"Hal seperti itu Kenapa Di ungkit..."


"Tapi... Kenyataannya uangku masih mengalir ke rekeningmu.. Jadi kita masih dalam tahap transaksi, tentu saja aku mendapatkanmu. Selama kamu menyukai tarifnya"


Maria memang benar hubungan kita memang masih dalam transaksi.


"Dan aku tidak berniat mengahiri nya..?"