Sugar Mamy

Sugar Mamy
Rahasia


Sebenarnya ada rumor kecil yang masih menggulung Halus di srla gossip kantor. Bahwa aku dan Dion memiliki hubungan special. Karena aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Dion dari Pada rekan lain sejak awal masuk.


Ini semua karena rahasia yang terus aku telan. Pertama karena rahasia tentang keluargaku dan kedua rahasiaku dengan Maria.


*****''


"Kamu tidak tertarik untuk merubah warna kulitmu" Aku menyapukan pandangan pada tubuh Maria yang mengambil posisiku di bawah shower.


Maria menggeleng dengan wajah yang penuh air.


"Kamu nggak suka warna kulitku?"


Aku Kini menggeleng sambil mulai menyandarkan satu sisi tubuhku ke tembok. Sekali lagi aku memperhatikan tubuh Maria.


"Kalau jahitan caesar itu, kapan akan pudar"


"Kamu keberatan?"


Aku menggeleng sekali lagi.


"Aku cukup puas secara keseluruhan" sanggahku dengan pandangan yang masih menikmati tarian Maria di bawah hujaman air.


Sepasang manik ku kembali melihat bekas caesar yang masih nampak jelas. Aku hampir tidak percaya, aku Telah memiliki anak yang telah keluar dari sana.


Terutama dengan kebiasaan ucapan Maria yang memang sering tajam, meski selalu ada senyuman yang membingkai rapi. Rasanya kjiwa laki - lakiku meningkat ketika mengulumnya dengan kuat seiring dengan aroma mawah yang berasal dari rambutnya. Feromonku cukup meningkat dengan drastis.


"Ada yang salah?" Aliran air terhenti dari shower. "seharusnya cepat pakai bathrobe, nanti masuk angin"


Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah Maria. Menyambut bathrobe yang di sodorkannya padaku.


"Apa berat badanku mempengaruhi seleramu?" Maria mulai memiringkan matanya padaku.


"Yup!!" jawabku cepat, dan itu benar. Kenaikan berat badan Maria yang cukup signifikan ternyata membuat tampilan bagian tertentu menjadi lebih menarik.


"Beginilah wanita" Maria mengangkat Bahunya dan segera keluar menuju kamar Yoda tanpa menukar bathrobe nya terlebih dahulu.


"Yulia belum datang?"


"Dia terlambat hari ini ada sedikit urusan"


Yodha menyambut kami dengan senyum manis, meski dia belum mandi dia tetap nampak segar.


Maria memanggil namanya dengan manja, mengangkatnya perlahan ke pangkuannya. Yodha pun mulai merengek meminta benda kesayangannya.


Dengan lahap dan sigap Yodha langsung melahap rakus ketika Maria menyodorkannya.


"Slow down baby.. Is not gonna go any where" Aku mengusap pipinya yang merona.


"Hampir tak percaya, kamu sudah tak canggung denganku" Gumamku.


"Aku....?"


Aku mengangguk dan menyelam kedalam mata Maria yang hitam pekat.


Aku mendaratkan jemariku pada sisi yang lain "Boy.. Kamu punya stock cadangan, jadi kamu nggak usah hawatir"


"Kamu itu ngomong apa sama bayi, nggak sopan"


"Ini pelajaran anatomy, pengenalan anggota tubuh. Benda ini bukan cuma satu, tapi ibunya punya dua" Aku menekankan jemariku sedikit keras.


"iiih.." Maria menginjak kakiku dengan keras.


"OK! Aku melepas cengkeramanku." Ingat aku juga punya hak, aku menunggu giliranku di kamar"


"Aku...."


Aku segera mendaratkan ibu jariku Pada bibir Maria, mengusapnya sedikit dan kemudian aku memindahkannya ke area di mana sepasang bibir itu nanti bekerja


" Aku juga butuh di service ... No excuse! You can do it" Maria menatapku cukup tajam. Dengan makna yang aku sedang malas menerka.


******


"Renata?"


Pagi - pagi sepupu cantikku itu sudah menunggu dengan gusar di lounge office pusat. Renata langsung melambaikan tangannya dengan senyum ceria seperti biasanya.


"Ngapain istri CEO di sini pagi - pagi, apakah ranjangmu tidak hangat semalam hingga harus bangun pagi" Godaku me ledek Renata yang langsung menjulurkan lidahnya.


"Aku bukan pengangguran di sini, bikin janji dong"


"Huh... Sok sibuk, sebentar doang Har.." lengan Renata langsung melingkar erat di lenganku.


"Eh... Aku ini suami orang.." aku berusaha melepas ikatan jemari renata yang justru makin kuat.


"Aku ini juga istri orang!"


"Nah... Itu..?"


"Kita ini sepupu... Kamu itu bagaimanapun anaknya om. Raja"


Aku mulai melonggarkan jemariku. "Penting banget ya?"


"Buaanget.... Tadi aku ke kantormu yang di selatan, eh katanya hari ini kamu di sini. Kok agak siang datangnya?"


Aku mendengus menanggapi sepupuku yang ratu kepo ini. Tapi tanpa dia, aku juga nggak tahu kalau Papi terlibat kasus korupsi. Dan tanpa dia Maria akan sulit bertemu dengan Tania.


" Ranjangku semalam cukup panas... "Godaku sambil mulai berlalu.


" Eh... "Renata masih menggenggam lenganku." Bukannya klo di hitung Maria baru melahirkan, kamu pasti bohong "


Aku hanya diam sejenak" kamu nggak di suruh Antonio ke sini kan? "


Renata menggeleng "Justru aku ke sini dia nggak tahu"


"Waduh..." Aku menarik kepalaku mundur "Kamu nggak..."


Wajah Renata otomatis mencebik, membuatku batal melanjutkan ucapanku. Well....


"Gimana bisa Panas?" Renata menepuk bahuku, rupanya dia belum lupa pertanyaannya yang tadi.


Aku menarik Renata cepat ke dalam ruanganku "ini.." Aku menunjukkan dengan bahasa Isyarat, bagaimana aku dan Maria melakukannya di masa darurat.


"Dasar... Cowok mesum, kamu beneran nggak kasih jeda sama istri kamu"


"Itu hak ku.. dan Maria always welcome" Aku mulai menyala kan komputer dan membiarkan Renata mengambil tempat nyaman di pusat sofa.


"She was a Great for you?"


Aku mengerutkan dahiku dan memandang lurus wajah Renata dengan ceria yang memudar. "Karena itu kami menikah bukan?" aku coba mengingatkan obrolan kami sebelum Renata menikah.


"huh....!" Renata mendengus dan menghempaskan punggungnya penuh kesal. "Pantesan, dia susah move on"


"Anthony???" aku menerka... Bahwa kasus Maria sekarang berpindah ke Renata.


Renata mengangkat wajahnya. "Makanya aku kesini karena aku bisa dapat sumber yang akurat"


"He was not touch you?" aku melangkah mendekati Renata dengan wajah heran dan hampir tak percaya. Renata cukup cantik dan rupawan untuk keseluruhan. "Seriously??" Aku menegaskan lagi ketika kami duduk bersebelahan.


"Nggak 100% sih, mungkin sebulan sekali, awalnya setahun cuma 3 kali"


Aku menaikkan alisku tinggi - tinggi. "Selingkuh?"


" Kemungkinannya kecil. Kecuali pak. Jonas berhianat"


"Siapa pak. Jonas?"


"Sekertaris yang Papi kasih buat ngekorin Anthony all the time sebelum sampai di rumah"


"Wow....!" responku yang cukup tidak kaget Sebenarnya "Dia nggak impoten kan?"


"Big No..!" Renata menepis dengan cepat "Seperti aku pernah bilang, ranjang kami hangat saat kami bertunangan dulu and he was Awesome"


"Kamu cerewet...?"


Renata memukulku dengan cushion di sebelah ya. "Aku ini paling konsistent di antara kalian semua. Klo masalah cerewet udah dari awal, is not an excuse" Renata melipatkan kedua tangannya.


"Udah cek social medianya? Udah check all his device, kali aja ada pesan dari Aussie"


Ups..!? Bodoh... Kenapa keceplosan.


"Aussie.... Kamu tahu sesuatu???"