
No.. Pi... Maria stay here or we go"
Entah kekuatan dari mana kata - kata itu keluar dari mulutku. Tapi aku sudah bosan bersikap sopan pada Papi.
Lagi pula hubungan kami sudah tidak baik bukan? dan sepertinya papi tidak tulus.
"Har... I am OK?" Maria mencoba menenangkan ku.
"Aku yang nggak OK!" Aku sudah bosan dan lapar. Makanan yang tidak kunjung keluar menambah bara api untuk emosiku. " Lagi pula Papi sudah menghentikan kerja sama di antara perusahaan kita. Apa Papi mau menghentikan semuanya? Papi iri melihat perkembanganku? Menyesal telah mencampakkanku? Atau Papi merasa kalah melihatku tetap bisa tangguh tanpa menikah dengan gadis pilihan Papi? "
Memang seharusnya aku sudah makan sebelum berangkat ke rumah orang tuaku. Tapi masakan cheff Kevin benar - benar mind blowing, aku bermaksud melahap semuanya malam ini. Tapi ternyata berahir aku melepaskan kendaliku atas emosi.
Maria menutup setengah wajahnya dengan tangan rampingnya dan samar - samar aku lihat wajahnya yang setengah menahan emosi serupa. Tapi pasti emosi itu untukku. Dan Mami... hanya tersenyum beku menatapku, entah marah atau bangga, sikap mami tidak pernah jelas.
"Orang tua selalu menginginkan yang terbaik Har..." Suara Maria yang merdu segera meredam suasana antara aku dan Papi "Maaf, mungkin Harry hanya menyampaikan pendapat yang sempat tertahan, mengingat usia Harry yang masih muda, saya harap bisa dimengerti" Maria benar - benar memiliki keahlian diplomatic yang baik. Dia mengahiri dengan menundukkan kepalanya di hadapan Papi.
Wajah merah Papipun mulai perlahan menjadi neutral setelah mendengar ucapan Maria, meski kedua matanya yang membulat masih tertuju padaku.
Maria segera berdiri,
" Saya rasa kita bisa mengatur ulang pertemuan keluarga ini, dalam situasi yang lebih baik. Dan berharap kita berkumpul hanya sebagai keluarga tanpa ada urusan lain yang perlu di bahas" Maria menjulurkan tangannya padaku dan kusambut dengan segera.
Kamipun segera melangkah keluar setelah ucapan selamat malam dari sepasang bibir ranum Maria. Dan meninggalkan kedua orangtuaku dengan wajah yang masih membeku mengantar kepergian kami.
****
Maria hanya membisu hingga kami sampai di rumah. Suara perutku yang mulai protes adalah satu - satunya alat komunikasi di antara kami.
Maria hanya menggeleng ringan dan tanpa mengganti gaunnya, dia memanggangkan dua potong daging steak dari dalam kulkas kami. Semuanya masih hening, hingga makan malam Ala Maria tersaji di meja makan.
"Makan Har... Tidak baik terlalu lama menahan lapar" ujar Maria masih dengan wajah yang dingin dan segera melahap potongan steak yang di buatnya tanpa menungguku bergabung.
Aku tidak punya pilihan selain mengikuti.
"Kamu tidak marah?" Aku memberanikan untuk bertanya.
Maria menarik nafas dalam - dalam
"Tentu saja aku marah" Maria meneguk segelas air putih di tangan kanannya.
"Tapi apa kemarahanku bisa memperbaiki keadaan Har?"
Kali ini sepasang mata hitam legam Maria menatapku tajam. Rasanya sepasang mata itu ingin menelanku bulat - bulat.
Otak laki - laki ku mulai menangkap sisi cantik dan dominan Maria nampak begitu menggoda. Bukannya aku khawatir akan kemarahannya yang hampir meledak. Tapi aku justru terpancing untuk menggunakan sisi itu untuk yang lain.
Maria melahap potongan steak berikutnya dengan tatapan yang masih belum berubah, gerakan bibirnya bergerak teratur khas Maria yang dingin, lembut, dan berirama. Aku mulai menempatkan pikiranku apabila sepasang bibir itu berada di tempat yang cocok di tubuhku.
"Bagaimana kalau kita punya anak.... Itu solusi"
"uhuk... Uhuk.." Maria seketika terbatuk dan mulai kesulitan untuk menelan makanannya.
Maria menatapku hampir tak percaya, sepasang matanya mengerjap beberapa kali. Aura Alpha yang terpancar beberapa menit yang lalu perlahan memudar dan berubah menjadi feminim.
Ah... Menunggu jawaban Maria untuk hal seperti ini, adalah sia - sia. Tanpa berfikir banyak aku segera menghampirinya dan mengambil inisiatif seperti biasanya.
"Jangan salahkan aku, salahkan designer kesayanganmu"
Design baju Maria memang tetap sopan, Namun potongan dada rendah itu cukup menjadi langkah awal yang baik untuk tujuan ku.
"Ayolah...!! Kamu juga menginginkanku kan?" bisikku dengan senyuman semanis mungkin "Aku cukup tampan dan sexy Mar... Serta cukup ahli... Jangan di sia - siakan"
Tentu saja aku tidak membiarkan Maria menjawab. Karena itu pasti merusak suasana. Aku langsung membuatnya Bisa merasakan tenaga lelaki muda yang tentu cukup bisa memuaskannya meski hanya memakan dua potong daging steak.
*****
"Jangan mengeluh atau membicarakan pekerjaan" Aku segera menghentikan kata yang akan keluar dari mulut Maria usai pergulatan panjang kami.
Maria pun menerima dengan tenang dan membenamkan kembali kepalanya di bawah ketiakku.
"Kamu pasti tidak pakai pengamankan?" bisiknya lirih nyaris tak terdengar.
"Kamu sudah lihat sendiri"
Maria selalu membuatku memakai pengaman, dari pada dia yang meminum Pill kontrasepsi. Dia menganggap benda itu mempengaruhi kestabilan emosinya. Sebagai yang di bayar aku mengalah, tapi kali ini tidak.
"It was so good right?" kelakarku yang pasti tidak bisa di bantahnya.
Maria masih membeku di tempat yang sama, dan menyembunyikan wajahnya yang aku yakin sedang memerah malu seperti biasa.
Aku merubah posisiku menjadi miring Dan menyangga kepalaku dengan satu Tangan. Tanpa ragu aku menyapukan jemariku Pada punggung Maria yang belum kering sempurna dari keringat.
"Bagaimana kalau satu putaran lagi?" Godaku.... Yang pasti akan membuatnya.
"No...." Maria mengangkat wajahnya segera. Dan mendengus sesaat saat wajah kami begitu dekat. "Bagaimana dua potong daging Bisa membuatmu memiliki tenaga sebesar itu?" Keluh Maria yang aku anggap sebagai pujian.
"Itu Di sebut muda..." jawabku sambil meringis puas. "You are also Great" pujiku Pada Maria atas responsnya yang cukup menyenangkanku.
Maria membalikkan badannya Dan menutupnya dengan selimut yang kami abaikan sebelumnya.
"Bagaimana?" Aku membuat simbol Lingkaran dengan Jari telunjukku menandakan satu putaran.
Maria menepisnya dengan kasar. "Aku lapar.... Aku perlu asupan lebih daripadamu"
"No...problem.... Aku sabar menunggu hingga kamu menghabiskan makan malammu"
Maria berdecih Dan kemudian bangkit menuju meja makan dengan hanya berbalut selimut.
"so... We are continue the next round after dinner?"
Bukan Maria... Kalau dia menjawab. Tapi aku selalu berhasil membuatnya meresponku dengan benar.