
Kalau boleh tahu...." Aku sedikit menggantung ucapanku "Apa yang Membuat Om menjatuhkan pilihan om Pada Maria Pada saat itu? Dan Kenapa masih peduli sampai sekarang om?"
Om Johan mengurangi senyumnya secara bertahap hingga ia mulai menarik nafas dalam - dalam.
"Apa itu terlihat jelas? atau itu menganggumu?" Raut wajah om Johan mulai terlihat mendung. Seperti ada sejarah yang kurang indah Di sana.
"Sepertinya..." Jawabku sekenanya tanpa memgalihkan pandanganku dari dari om Johan.
"Mungkin karena Maria memiliki sifat Matrealistis yang natural dan dengan penuh harga dirii"
Maksudnya? matre - matre aja. Jenis matrenya jadi berliku - liku begitu.
"Di tempat seperti itu, aku menemukan Maria" Om Johan menunjukkan, bangku penonton yang kosong "Dia satu - satunya yang tidak peduli denganku Dan permainan basketku" lanjutnya dengan senyum tipis "Dia hanya sibuk memghitung uang hasil jualan minuman ringan dari para penonton, dia matre" Senyum om Johan makin lebar.
Ah... Dasar aneh lihat cewek matre kok makin senang.
"Dan dia tidak memberiku minuman gratis, seperti yang Di lakukan para wanita Padaku" Gerutunya " Tapi dia membolehkanku berhutang meski aku belum mengenal nya, asal dia membolehkanku menjual minuman itu Di area pemain"
Apa istimewanya?.
" Kamu tahu?" Om Johan membalas pandanganku kali ini "Maria adalah partner kerja ku yang pertama"
"Om Johan, berinvestasi Pada Bisnis minuman ringan Maria?"
Om Johan menggeleng, "Dia adalah copy writer ku Pada masa itu"
Ah.. Sebenarnya Maria inj apa sih, penjual minuman atau Copy writer.
"Pasti kamu bertanya - Tanya soal Maria?"
Aku mengangguk cepat.
"Maria adalah pelajar, yang active dalam bidang jurnalistik Dan mencari nafkah mulai dari menulis surat cinta, menjual minuman ringan Di setiap even Di sekolah, jualan baju, tanda Tangan artis Dan dia adalah pelukis"
"Kenapa banyak banget, nggak rontok badan kecilnya itu"
"Ah.. Aku lupa, Maria juga active Di bela diri karate Dan penyiar radio Di week end" Om Johan mengangkat bahunya.
"Tubuh kecil itu mana mungkin mampu memukul orang"
"Mungkin tidak sekarang, tapi Pada saat itu Maria cukup kuat. Terutama hal yang berurusan dengan nominal" om Johan tertawa Sejenak " Kami menjadi dekat karena pernah Di hukum bersama, kesalahnku karena tidak ikut upacara, tapi Maria karena memukul pintu kelas sampai retak"
" Ah yang benar om?"
"mungkin pintu ya yang sudah tua, tapi sebab Kenapa dia memukul perlu kamu tahu"
"Apa,?"
"karena dia di fitnah mencuri"
Om Johan menarik nafas panjang " Maria sangat gila mencari uang, tapi dia tidak pernah tertarik dengan uang orang lain"
"Ah.... Begitukah harga dirinya?"
Om Johan memgangguk.
"Trus Kenapa om Putus, kan masih cinta?"
"Karena kalau menikah, ada kemungkinan bercerai tapi kalau tidak menikah kalian akan tetap dalam hubungan baik"
"Pemikiran dia cukup logic Dan bagus, tapi apakah dia bilang Kenapa aku tidak memperjuangkan cinta kami seperti yang kamu lakukan saat ini?"
Ah.. Om Johan nggak tahu aja kalau aku Sebenarnya berawal dari suami yang Di bayar.
"Saat itu Maria jauh dari kata sepadan, seperti biasa orang tua tidak setuju" Om Johan menundukkan kepalanya "Saat aku baru mulai berjuang untuk bersama Maria, Mamaku teerkena serangan jantung Dan kemudian meninggal."
"Oh... No.. Sorry to hear that"
Senyum pahit menghiasi wajah om Johan.
"Kamu tahu juga aku anak satu - satunya, dan ayah hanya punya aku? " om Johan menarik nafas lagi "Aku memilih ayahku, karena itu aku tidak Bisa membantu Maria terang - terangan, aku hanya Bisa menciptakan kesempatan Dan pasar untuk membantunya.
" Hingga sejauh ini? Om tidak pernah berfikir untuk kembali dengan Maria? "
" Om lebih suka melihatnya Bahagia Dan hidup sejahtera, karena mungkin kalau aku ingin tetap bersamanya akan banyak masalah yang terjadi"
Iya... Seperti sekarang yang dia alami. Beberapa bagian adalah karena Aku, baik dari ayahku ataupun Melissa.
"Dan aku lihat, dia bahagia bersamamu Dan aku bahagia bersama Irene"
"Maria kenal tante Irene?"
"Tentu saja" sebuah tawa berderai darinya "Maria yang memilihkan calon istriku"
Yang benar saja.
"We are good partners Dan always good friends, aku memang mencintainya karena itu aku ingin dia bahagia bersamamu, jadi jangan cemburu padaku" om Johan menepuk pundakku.
Kita main lagi?
"Ah... OK!"
Kamipun bermain sekali lagi sebelum ahirnya berpisah setelah beberapa obrolan berlangsung Di bangku kanten.
****
Gawat!!! Berita pagi ini benar - benar heboh.
Perusahaan kami teerkena denda cukup besar karena adanya kesalahan tentang isu pajak. Bagian keuangan adalah penanggung kesalahan terbesar, bagaimana mungkin. Mereka melupakan hal yang paling penting. Secara Entah sengaja atau tidak mereka salah memasukkan data antara pembelian dalam negeri Dan export. Karena kasus tersebut kami menelan denda hampir 100 Milyar.
"Jumlahnya fantastic Mar?"
Maria hanya sanggup menutup mata dengan memijit pelipisnya.
"bukan bermaksud apa - apa, tapi persidangan hak asuh Tania Sebenarnya hanya alat untuk menghancurkan konsentrasimu" Aku coba menyampaikan analisaku "Pernikahanmu dengan Antonio sudah Berahir jauuuh sebelum kita bertemu"
"Kamu mungkin benar! Apakah keluarga Melissa benar - benar ingin menyapuku habis? Dan juga keluargamu?"
Aku mengusap wajahku secara kasar. "entahlah Mar!"
*''