
"Hari ini kamu ada sidang?"
Aku mendiskusikan rencana Maria hari ini
"Di tunda Minggu depan" Maria menyodorkan sepiring English breakfast buatannya padaku.
"Meeting...?"
Maria menggeleng,
"Semua barang yang tertahan di pelabuhan sudah kamu beres kan?" Maria balas mengecek jadwalku.
"Sudah... Tinggal tiga, tapi sudah dalam proses, tinggal menunggu" jawabku jujur.
Nasib nikah sama bos itu gini, urusan kantor sudah di mulai sejak di meja sarapan.
"Kalau begitu... Kita bisa bolos hari ini?" tanyaku cepat sebelum Maria menanyakan lebih banyak soal pekerjaan.
Maria memandangku dengan aneh "Kita butuh mencari partner pengganti Tower High, kemarahan ayahmu lumayan membuat penurunan omzet kita"
" Aku mau pindah rumah... Ke rumahku yang baru, kalau suntuk aku bisa main basket di atap " kalau ngomong kerjaan sama Maria nggak akan pernah habis.
" Cargo Om Jonathan juga melayani jasa pindahan kan?"
Maria termenung dejenak, sesuatu sedang melintas dipikirannya dan....
" OK...! Kemasi barang penting usai sarapan"
"Eh... Tapi Sebenarnya nggak ada yang harus di pindah kan.. Kamu dan aku di sini nggak punya banyak barang"
Maria menyapu sekeliling apartmentku dan ahirnya mengangguk setuju.
"Kamu tidak suka belanja?"
"Biasanya Mami yang mengatur semuanya, selain baju, sedikit accessories dan hal - hal kebutuhan pribadi" Akupun ikut manggut - manggut, aku baru sadar seberapa banyak selama ini aku telah di manja oleh Mami, meski dia sering menyebalkan.
"Mar... Boleh tanya sesuatu?"
"hmmm...."
"Kenapa semua rumah yang kamu ajukan tidak ada kolam renang?"
"Oh... Aku tidak bisa berenang!"
Maria menjawab tanpa berfikir.
"Tapi aku bisa..."
"Belilah rumah yang ada kolam renangnya, dengan uangmu sendiri"
Jawaban Maria membuat aku menutup mulutku rapat - rapat. Dan menyelesaikan makanku dengan cepat.
Sebenarnya aku sudah mampu membeli rumah, Namun aku selalu punya kekhawatiran berlebih akan kehabisan uang. Trauma hidup miskin dan tinggal di kosan sempit membuatku menjadi sedikit pelit. Untungnya aku punya sugar mamy yang baik.
*****
Aku melupakan satu hal untuk urusan kepindahan ini. Om Jonathan, lelaki maskulin dan nyaris sempurna di mata Maria ternyata masih menyempatkan menyambut kami.
"Wah... Untung lagi senggang, jadi bisa handle sendiri" Jawaban Om Jonathan diplomatis ketika aku menanyakan apakah dia tidak sibuk mengurus kami.
Dia dengan sopan masih membantu kami menghafal beberapa tentang rumah dan seisinya.
"Maria.. Masih tidak suka pembantu?" bisik om Johan pelan kepadaku.
"Dulu ada mbak Manda yang sekalian bantu urus Tania. Sejak mbak Manda pindah ke rumah Anthony, cuma OB kantor yang beresin rumah dua Minggu sekali"
Jelasku singkat.
"Thank you for your guidance Jo.! Dari sini aku bisa handle sendiri"
Om Johan mengangguk singkat...
"Oh iya.. Aku dengar kamu masih butuh investor untuk restaurant kamu yang di New York?" Maria langsung mengarah ke urusan Bisnis. Aku Sebenarnya juga bosan, hidupnya tidak pernah hanya ngobrol sederhana.
"Benar... Apa kamu ada?"
"Harry... Ingin mencoba sedikit bermain Di kuliner, belajar darimu mungkin awal yang baik" Maria memotong ucapan om Jonathan begitu saja.
"Really... That's Great!" om Jonathan tersenyum datar. "kapan kamu mau membahas lebih detailnya?"
"Kita akan jadwalkan dengan Aryo... Aku kabarin setelah dapat konfirmasi darinya" Maria sekali lagi mendominasi situasi.
"Great... Aku tunggu kabarnya"
Maria mengangguk dan mengangkat jempolnya.
"OK.. Have a great time.. Take care your Woman" Om Johan menepuk pundakku dan segera menghambur keluar meninggalkan kami.
Aku mendengus sejenak, untuk melampiaskan rasa kesalku.
"Kita ini lagi libur... Ngapain ngomongin kerjaan sih"
"Mumpung ketemu kan?"
"Entahlah... Yang enak di makan saja.."
"Bunga favorite?"
"Mawar Dolcetto"
Aku salah bicara, rasa penasaranku jadi mencuat tentang bagaimana om Jonathan bisa tahu banyak tentang Maria tapi aku tidak pernah melihat Maria mudah bercerita.
"Kok om Johan tahu banget soal kamu?"
"Kamu cemburu?"
"Iya..."
"Kalau begitu kamar utamanya pindah ke yang di sebelah kanan saja, bagaimana?"
"Yang nggak ada mawarnya?"
Maria mengangguk dan segera melangkah ke kamar yang dia maksud.
"Kamu suka bunga apa?" Maria bertanya lagi.
"Aku laki - laki nggak suka bunga.. Aku suka olah raga..."
"Nice choice"
"Mar.. Kita perlu hobby yang sama"
"Kamu mau ikut aku berkebun atau memasak? Atau.... Yoga"
"Aku ikut masak.. No yoga and no berkebun" Aku memastikan pilihan ku " satu hal sudah Cocok, tinggal lainnya.."
Maria hanya mengerutkan keningnya, berusaha menebak isi pikiranku.
"Kita menyatukan hobby"
"Aku nggak mungkin basket, aku pendek"
"Aku nggak ngajak kamu ikut main, kita ikutin saran Jonathan."
"Tumben..."
"Kamu bangun kebun di atas dan aku taruh treadmill di halaman belakang"
"Kamu mau mulai fitness di rumah?"
"Iya.... Biar sambil masak kamu juga bisa ngelihat aku yang sedang membangun otot - ototku.." Aku mendekat kan wajahku ke arah Maria yang nampaknya sedang menahan senyum. "menarik bukan?"
Maria menarik nafasnya dalam - dalam dan "Not Bad..." Dan Berahir dengan wajah tenang.
Maria.... Maria... Sampai kapan kamu Bisa melepas hasratmu padaku...dia selalu pandai memusnahkannya dalam hitungan detik.
"Dan aku ingin kita mulai membahas soal hal lain selain pekerjaan"
"Dan.. Masa lalu" Maria menambahkan dengan cepat.
Aku mendengus dengan cepat "Ada apa dengan masa lalumu? Aku nggak masalah"
"Aku tidak suka membahas hal yang sudah selesai"
"Seperti kamu dan Jonathan ?"
"Kamu bertingkah seperti tidak pernah punya mantan"
"Kamu bisa bebas menanyakan tentang mereka"
" Aku tidak tertarik"
Maria terlihat jengah dengan bahasanku langkahnya mulai meninggalkanku.
"Kalau begitu aku yang bahas... Selain Jonathan siapa mantanmu yang lain"
Maria menggeleng "Tidak ada" jawabnya malas.
"Kamu nggak lesbi kan?"
"Mungkin.... Aku tidak tertarik membahas hal seperti ini" Maria mendengus kesal, dia mulai mendorong kopernya ke kamar kami. Dan menata isinya di beberapa spot. "Apakah kamu tahu ada strawberry seharga 350 poundsterling?"
Aku terbelalak... "Mana mungkin?"
"Seorang petani di jepang melakukan inovasi pada pertanian strawberry miliknya yang menghasilkan strawberry beraroma mawar dan cukup juicy serta sangat manis dengan ukuran tiga kali lipat dari ukuran strawberry pada umumnya"
"Wow...!!!"
Maria menghampiriku dan mengamati wajahku Sejenak. " kamu terlalu banyak berfikir dengan otak belakang" tiba - tiba dia menyinggung soal otakku "Lakukanlah pengembangan yang baik pada otakmu lainnya dengan cara sering mengisinya dengan hal - hal berguna, masih ada kesempatan untuk menaikkan nilaimu seperti strawberry yang aku ceritakan tadi"
Bagaimana mungkin otakku di bandingkan dengan strawberry. Terus terang aku mulai emosi. "Aku lulusan terbaik, sampai situ aku sudah terbukti cukup kompeten"
"Permasalahannya di sana, hanya sampai situ.... Kenapa tidak kamu terus kan? Kalau kamu baik dalam menghafal dan membuat strategy, mungkin kamu bisa belajar menjadi dokter dan menjadi dokter bedah.. Dan tidak menjadi Sugar Baby lagi.. Ketika ayahmu mengancammu "
Deg...!! Ucapan Maria benar..